<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585</id><updated>2012-02-16T20:13:45.175-08:00</updated><category term='Disertasi'/><category term='PPAT'/><category term='TANAH'/><category term='Politik hukum'/><title type='text'>TANAH DAN HUKUM TANAH</title><subtitle type='html'>masalah tanah merupakan persoalaan esensial bagi kehidupan dan penghidupan umat manusia. tanah multi dimensi, berbagai aspek terkait bisa politik, hukum, sosial dan budaya. saya ingin membagi pengetahuan, diskusi tentang politik hukum pertanahan, konsultasi hukum khususnya masalah pertanahan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-7588595916847479378</id><published>2010-05-15T03:08:00.001-07:00</published><updated>2010-05-15T03:08:56.995-07:00</updated><title type='text'>KARAKTER HUKUM SERTIFIKAT HAK</title><content type='html'>&lt;p&gt;DR. Boedi Djatmiko Hadiatmodjo, SH.,M.hum&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; Uraian be&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_iF_bLP0hzL0/S-5ypjxf-uI/AAAAAAAAAIo/3fRMlyBUHIY/s1600-h/boedi%20djatmiko%5B4%5D.jpg"&gt;&lt;img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-top: 0px; margin-right: 0px; border-right: 0px" title="" border="0" alt="" align="left" src="http://lh3.ggpht.com/_iF_bLP0hzL0/S-5yqe4jgnI/AAAAAAAAAIs/uJLg9RRPnXY/boedi%20djatmiko_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800" width="164" height="124" /&gt;&lt;/a&gt;rikut dibawah ini diawali dengan pertanyaan hukum apakah ada korelasinya antara karakter hukum sertipikat hak dengan status hukum tanah dan akibat hukumnya. Dalam tinjauan Hukum Administrasi Negara, Sertipikat merupakan dokumen tertulis yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerinah ( badan atau Pejabat Tata Usaha Negara ) untuk dipergunakan sebagai tanda bukti hak dan alat pembuktian yang dikeluarkan dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah. Bila mana sertipikat dikatakan sebagai suatu dokumen formal suatu surat tanda bukti hak atas tanah, berarti bahwa seseorang atau suatu badan hukum yang memegang sertipikat tanah menunjukan mereka itu mempunyai suatu hak atas tanah atas suatu bidang tanah tertentu&lt;a href="#_ftn1_6287" name="_ftnref1_6287"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Ketika suatu sertipikat dikonsepkan sebagai suatu alat bukti hak kepemilikan atas tanah maka sertifikat bukan merupakan alat bukti satu – satunya adanya keberadaan hak kepemilikan atas tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketentuan hukum yang diatur dalam pasal 23 dan 24 PP No. 24 tahun 1997, menunjukan konstruksi hukum yang mensyaratkan adanya alat bukti tertentu yang dapat dijadikan alas hak ( title) yang dapat dipergunakan bagi seseorang atau badan hukum dapat menuntut kepada Negara adanya keberadaan hak atas tanah yang dipegang atau dimiliki. Secara hukum dengan berpegang pada alat bukti ini maka merupakan landasan yuridis guna dapat dipergunakan untuk melegalisasi asetnya untuk dapat diterbitkan sertipikat tanda bukti sekaligus alat bukti kepemilikan hak atas tanah. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pertama, instrument yuridis atau alat bukti kepemilikan yang disebut sebagai “&lt;b&gt;hak baru&lt;/b&gt;” atas tanah harus dibuktikan dengan “&lt;b&gt;Penetapan pemerintah&lt;/b&gt;” yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang apabila hak tersebut berasal dari tanah Negara atau tanah hak pengelolaan. Wujud kontret dari penetapan pemerintah ini adalah Surat Keputusan Pemberian hak kepemilikan atas tanah (SK hak milik, SK HGB, dst); dan atau&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kedua, &lt;b&gt;akta otentik&lt;/b&gt; PPAT ( Pejabat Pembuat Akta Tanah ) menurut ketentuan hukum termasuk alat bukti kepemilikan hak baru, dimana akte otentik tersebut memuat pemberian hak tersebut oleh pemegang hak milik kepada penerima hak yang bersangkutan apabila mengenai hak guna bangunan dan hak pakai atas tanah hak milik. ( pasal 23 PP No. 24 tahun 1997) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketiga, instrument yuridis tertulis lainnya yang disebut sebagai hak atas tanah yang “&lt;b&gt;lama&lt;/b&gt;” ( pasal 24 PP No. 24 tahun 1997), yang diakui keberadaannya oleh hukum sebagai alat bukti tertulis kepemilikan hak atas tanah. Selanjutnya instrument yuridis tentang keberadaan alat bukti kepemilikan tersebut secara terinci diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria ( PMNA)/ Kepala Badan Pertanahan Nasional ( KBPN ) No. 3 tahun 1997. Didalam pasal 24 PP No. 24 tahun 1997 dan pasal 60 dari PMNA/KBPN No. 3 tahun 1997, beserta penjelasan pasalnya disebutkan alat bukti kepemilikan lama yakni: &lt;i&gt;grosse/salinan akte eigendom&lt;/i&gt;, surat tanda bukti hak milik yang diterbitkan berdasarkan peraturan swapraja, surat tanda bukti hak milik yang dikeluarka berdasarkan peraturan Menteri Agraria No. 9 tahun 1959, surat keputusan pemberian hak milik dari pejabat yang berwenang baik sebelum maupun sejak berlakunya UUPA, yang tidak disertai kewajiban untuk mendaftarkan hak yang diberikan, tetapi telah memenuhi semua kewajiban yang disebut didalamnya, petok D / girik, pipil, ketitir, dan verponding Indonesia sebelum berlakunya PP No. 10 tahun 1961, akta pemindahan hak dibawah tangan yang dibubuhi tanda kesaksian oleh kepala Adat/desa/kelurahan yang dibuat sebelum berlakunya peraturan pemerintah ini dengan disertai alas hak yang dialihkan, akta pemindahan yang dibuat oleh PPAT yang tanahnya belum dibukukan dengan disertai alas hak yang dialihkan, akta ikrar wakaf / surat ikrar wakaf yang dibuat sebelum atau sejak mulai dilaksanakan PP No. 28 tahun 1977 dengan disertai alas hak yang diwakafkan, risalah lelang, surat penunjukan pembelian kaveling tanah pengganti tanah yang diambil pemerintah, surat keterangan riwayat tanah yang pernah dibuat oleh kepala kantor PBB dengan disertai alas hak yang dialihkan, lain-lain bentuk alat pembuktian tertulis dengan nama apapun juga sebagaimana di maksud dalam pasal II, VI, dan VII ketentuan konversi. Alat-alat bukti kepemilikan hak ini pada hakekatnya merupakan representasi dari pengakuan dari Negara terhadap hak kepemilikan yang dipunyai oleh warga Negara Indonesia. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebagaimana diketahui bahwa dalam konsep hukum perdata Hak kepemilikan atas tanah merupakan hubungan hukum kepemilikan secara hakiki diakui keberadaannya, dijunjung tinggi, dihormati, dan tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun. Hak kepemilikan merupakan sumber kehidupan dan kehidupan bagi pemiliknya, oleh karenanya orang yang mempunyai hak yang sah secara hukum harus mendapatkan perlindungan oleh negara.&lt;a href="#_ftn2_6287" name="_ftnref2_6287"&gt;[2]&lt;/a&gt; Hak milik ( property rights ) merupakan suatu hak yang mempunyai hubungan kepemilikan yang tertinggi tingkatannya dibandingkan dengan hak-hak kepemilikan lainnya. Hubungan tanah dengan pemiliknya menimbulkan hak dan kewajiban maupun wewenang atas tanah yang dihaki, secara luas dikatakan oleh &lt;b&gt;Lisa Whitehouse&lt;/b&gt; “ &lt;i&gt;property is basic to the social walfare, people seek it, nations war it, and no one can do without it&lt;/i&gt;”.&lt;a href="#_ftn3_6287" name="_ftnref3_6287"&gt;[3]&lt;/a&gt; Hak milik atas tanah melekat pada pemiliknya selama mereka tidak melepaskan haknya ( peralihan hak).&lt;a href="#_ftn4_6287" name="_ftnref4_6287"&gt;[4]&lt;/a&gt; Demikian juga bila dicermati ajaran &lt;b&gt;John Locke&lt;/b&gt; mengenai hak milik ini yang mengatakan bahwa: &lt;i&gt;Ownership of property is a natural right and that the purpose of Government is to protect and preserve natural property right.&lt;a href="#_ftn5_6287" name="_ftnref5_6287"&gt;&lt;b&gt;[5]&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;Hak milik merupakan hak asasi manusia yang harus dihormati dan keharusan bagi negara untuk melindungi, memelihara dan menjaga hak kepemilikan warga negaranya. Ajaran maupun teori hak kepemilikan ini yang selanjutnya masuk dalam Konstitusi yang merupakan hak asasi manusia yang mendapatkan perlindungan hukum, sebagaimana yang tercantum dalam pasal 28 H dan 28 G, Amandemen Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 ( UUDNRI 1945). Implementasi dari jaminan perlindungan hukum terhadap hak kepemilikan yang berkaitan dengan tanah ( agraria ) oleh Negara selanjutnya dijabarkan kedalam UUPA. &lt;a href="#_ftn6_6287" name="_ftnref6_6287"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkaitan dengan hal tersebut diatas,sebagai konsekuensi yuridisnya maka diatur bahwa terhadap tanah hak yang berasal dari hak lama ( adat ) oleh hukum dilakukan perubahan hukum berdasarkan prinsip pengakuan Negara terhadap hak kepemilikan atas tanah rakyat karena hukum dikonversi sebagai hak-hak yang baru dan jenis-jenis hak atas tanah yang diciptakan oleh UUPA. Pengakuan Negara tersebut memunculkan model sertipikat hak atas tanah yang berkarakter yuridis yang bersifat “ &lt;b&gt;Deklaratif&lt;/b&gt;” ( &lt;i&gt;declaratoir&lt;/i&gt;). Disamping model pengakuan Negara terhadap hak atas tanah rakyat, Negara mengakomodir adanya hak atas tanah yang muncul yang berasal dari status tanah-tanah diluar tanah hak yang dikuasai rakyat ( tanah Negara ). Hak atas tanah ini terbit berdasarkan pada tindakan pemerintah yang berupa “penetapan” atau “ keputusan” hak memunculkan model sertifikat yang berkarakter yuridis yang bersifat “&lt;b&gt;Konstitutif&lt;/b&gt;”( &lt;i&gt;Konstitutief&lt;/i&gt;). &lt;a href="#_ftn7_6287" name="_ftnref7_6287"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam ajaran hukum bahwa yang disebut sebagai suatu ketetapan atau keputusan yang bersifat deklaratif yakni suatu ketetapan atau keputusan yang menetapkan mengikatnya suatu hubungan hukum yang sebetulnya memang telah ada sebelumnya. &lt;b&gt;Utrecht&lt;/b&gt; menyebutkan bahwa suatu ketetapan / keputusan deklaratif merupakan ketetapan yang hanya menyatakan yang bersangkutan dapat diberikan haknya karena termasuk golongan ketetapan yang menyatakan hukum ( &lt;i&gt;rechtsvastellende beschikking&lt;/i&gt;), sedang yang disebut sebagai ketetapan Konstitutif adalah ketetapan membuat hukum baru ( &lt;i&gt;rechtscheppend&lt;/i&gt;).&lt;a href="#_ftn8_6287" name="_ftnref8_6287"&gt;[8]&lt;/a&gt; Menurut &lt;b&gt;P. de Haan &lt;/b&gt;cs, “ &lt;i&gt;Bestuursrecht in de sociale rechtsstaat&lt;/i&gt;” halaman 30, yang dikutip oleh &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon &lt;/b&gt;terdapat pengelompokan Beschikking, khusus yang disebut sebagai keputusan deklaratur maupun konstitutif (&lt;i&gt;Rechtsvastellend en rechtsscheppend )&lt;/i&gt; diuraikan bahwa Pada keputusan Tata Usaha Negara deklaratif hubungan hukum pada dasarnya sudah ada. Contoh: akte kelahiran, hak milik atas tanah eks hukum adat. Relevansi praktis dari pembedaan ini berkaitan dengan alat bukti. Keputusan tata usaha Negara deklaratif bukanlah alat bukti mutlak. Adanya hubungan hukum masih mungkin dapat dibuktikan dengan alat bukti lain. Pada keputusan Tata Usaha Negara konstitutif, adanya keputusan tata usaha Negara merupakan syarat mutlak lahirnya hubungan hukum. Contoh: sertifikat HGB, SK pengangkatan sebagai pegawai negeri dan lain-lain; berbeda dengan keputusan tata usaha Negara deklaratif, dalam keputusan tata usaha Negara konstitutif merupakan alat bukti mutlak. Dengan kata lain, tidak ada hubungan hukum tanpa adanya keputusan tata usaha Negara yang sifatnya konstitutif.&lt;a href="#_ftn9_6287" name="_ftnref9_6287"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ajaran hukum tersebut selaras dengan konsep hukum tanah yang pada prinsipnya yang diatur dalam UUPA bahwa hak kepemilikan atas tanah tercipta atau lahir dapat berasal dari: &lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;Berdasarkan pada konsep pengakuan adanya keberadaan hak kepemilikan yang telah ada sebelum UUPA yang dalam hal ini masuk dalam kelompok tanah hak barat yang disebut sebagai tanah yang pernah “ terdaftar” dan kelompok yang belum pernah terdaftar yakni seperti tanah hak masyarakat ( adat ) yang diakui tanah milik adat dan; &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Hak kepemilikan atas tanah yang lahir atau diperoleh berdasarkan ketentuan hukum ( undang-undang) yang berupa Penetapan Pemerintah.&lt;a href="#_ftn10_6287" name="_ftnref10_6287"&gt;[10]&lt;/a&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Kedua kelompok ini mempunyai konsekuensi hukum yang berbeda terhadap pengaturan hukum ketata usahaan pendaftaran dan alat bukti hak atas tanah, serta akibat hukum yang ditimbulkan bila terjadi sengketa hak kepemilikan atas tanahnya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, Hak kepemilikan atas tanah yang lahir karena Penetapan Pemerintah ( istilah lain dari keputusan pemberian hak ) sesuai dengan ajaran ilmu hukum dan sebagaimana diatur dalam ketentuan UUPA maupun peraturan pelaksanaannya dilahirkan berdasarkan pada suatu tindakan atau perbuatan hukum dari Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara berupa keputusan pemberian hak milik. Dalam konteks ini hubungan hukum antara subyek dan obyek secara yuridis belum ada. Hubungan yang terjadi antara subyek dan obyek hanya sekedar hubungan penguasaan secara fisik ( &lt;i&gt;possession&lt;/i&gt; ). Secara hukum baru ada setelah adanya Keputusan Penetapan Hak Kepemilikan atas tanah dan selanjutnya berdasarkan keputusan atau ketetapan hak inilah yang menjadi dasar alas hak pendaftaran hak dan terbitnya sertifikat hak kepemilikan atas tanah yang berkarakter yuridis yang bersifat Konstitutif. Ciri khas dari model ketetapan atau keputusan pemberian atas tanah dan yang melahirkan sertifikat yang bersifat konstitutif berasal dari obyek tanah yang berstatus tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau “&lt;b&gt;tanah Negara&lt;/b&gt;”.&lt;a href="#_ftn11_6287" name="_ftnref11_6287"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pengaturan lebih lanjut terhadap keputusan pemberian hak atas tanah yang berstatus tanah negara ini dapat terbaca dalam beberapa peraturan perundangan antara lain: Keppres No. 32 tahun 1979 tentang Kebijaksanaan Dalam Rangka Pemberian Hak Baru Atas Tanah Asal Konversi Hak Barat, Peraturan Menteri Dalam Negeri ( PMDN) No. 5 tahun 1973, Tentang Ketentuan-ketentuan Mengenai Tata Cara Pemberian Hak Atas Tanah, yo. PMDN No. 6 tahun 1972 tentang Pelimpahan Pemberian Hak Atas Tanah. Peraturan ini dicabut oleh PMNA /KBPN No. 9 tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian Dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara Dan Hak Pengelolaan, yo. PMNA/ KBPN No. 3 tahun 1999, tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian Dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara. Keseluruhan bentuk atau macam sebutan tanah-tanah negara merupakan obyek dari keputusan Tata Usaha Negara yang bersifat Konstitutif, dimana untuk mendapatkan hak atas tanah tersebut diperlukan suatu permohonan kepada negara dan apabila persyaratan dianggap telah memenuhi dan permohonan dikabulkan maka Badan atau Pejabat Tata usaha negara yang berwenang untuk itu melakukan tindakan hukum berupa menerbitkan Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah kepada pemohon. Dengan adanya Keputusan tersebut muncul hubungan hukum antara obyek ( tanah negara ) dengan subyek yaitu seseorang atau badan hukum yang mengajukan permohonan hak atas tanah negara tersebut dan sejak saat dikeluarkan keputusan tersebut maka terbit Hak kepemilikan Atas Tanah yang bersangkutan. Dengan catatan bahwa yang bersangkutan memenuhi segala persayaratan yang ditentukan didalam keputusan tersebut. Apabila tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan maka hak tersebut menjadi “ &lt;b&gt;batal&lt;/b&gt; “ dengan sendirinya dan tanahnya kembali dikuasai oleh negara atau menjadi tanah negara kembali. Dengan perkataan lain bahwa Karakter khas yang muncul dari tanah – tanah yang berstatus tanah negara yang oleh negara yang diberikan sesuatu hak atas tanah adalah: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(1) sebelum terbit sertifikat hak atas tanah yang dipergunakan sebagai tanda bukti kepemilikan tanah, akan didahului dengan adanya tindakan hukum dari pemerintah yang dalam hal ini kewenangannya dilimpahkan kepada Badan atau Pejabat Tata usaha Negara yang diwujudkan dalam Keputusan berbentuk “ &lt;b&gt;Surat Keputusan&lt;/b&gt;” ( SK) pemberian hak atas tanah kepada seseorang atau badan hukum yang mengajukan permohonan haknya; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(2) didalam ketetapan yang berupa suatu keputusan pemberian hak tersebut selalu ada persyaratan-persyaratan baik berupa persyaratan umum maupun khusus maupun kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh yang bersangkutan, dengan akibat hukum “ &lt;b&gt;batal&lt;/b&gt;” dengan sendirinya apabila persyaratan dan atau kewajiban tidak dipenuhi oleh mereka yang mengajukan permohonan hak atas tanah yang bersangkutan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gambar 4. Skema pendaftaran Sertifikat berkarakter yuridis bersifat Konstitutif.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_iF_bLP0hzL0/S-5yq7C2ZII/AAAAAAAAAIw/ZLUZu-ZwqD0/s1600-h/clip_image0013.gif"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="clip_image001" border="0" alt="clip_image001" src="http://lh4.ggpht.com/_iF_bLP0hzL0/S-5yrfZMUNI/AAAAAAAAAI0/qhs_Wn2sso0/clip_image001_thumb.gif?imgmax=800" width="240" height="158" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, hak kepemilikan atas tanah yang telah ada baik hak barat maupun hak adat ( terdaftar maupun yang belum terdaftar) diakui keberadaannya yang oleh UUPA diubah kedalam bentuk baru ( konversi ) jenis-jenis hak ciptaan UUPA. Pengakuan negara dan perubahan kepada hak baru dengan persyaratan yang ditentukan oleh undang-undang. Pada prinsipnya pengakuan negara terhadap keberadaan hak kepemilikan atas tanah yang ada dituangkan kedalam bentuk penegasan, dan Sesuai dengan ajaran hukum penegasan semacam ini disebut sebagai suatu keputusan yang dalam wujud konkretnya berupa keputusan penegasan (deklaratif). Dalam model keputusan deklaratif ini syarat adanya keputusan Tata Usaha Negara &lt;b&gt;bukan&lt;/b&gt; merupakan syarat mutlak adanya hubungan hukum antara subyek dan obyeknya pada dasarnya telah ada. Hubungan hukum antara subyek dan obyeknya dapat dibuktikan dengan alat bukti keperdataan tertulis yang lain ( PP No. 24 tahun 1997 yo. PMNA/ KBPN No. 3 Tahun 1997). Ketentuan hukum sebagaimana diatur dalam ketentuan konversi UUPA, PMA No. 2 tahun 1960 tentang Pelaksana beberapa ketentuan Undang Undang Pokok Agraria Yo. PMA No. 5 tahun 1960 dan PMPA No. 2 tahun 1962 tentang Penegasan Konversi Dan Pendaftaran Hak-Hak Indonesia, merupakan bentuk adanya pengakuan oleh negara terhadap hak-hak rakyat baik hak kepemilikan yang diatur menurut hukum perdata barat ( BW) maupun hak-hak tanah adat. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun demikian ada karakter hukum yang khas dari ketentuan penegasan konversi hak kepemilikan atas tanah dalam UUPA. Hukum mengatur adanya prinsip-prinsip &lt;b&gt;“Nasionalitas”&lt;/b&gt; yang wajib hukumnya harus dipenuhi bagi pemegang hak atas tanah agar dapat memperoleh pengakuan dan penegasan hak atas tanahnya. Maksudnya adalah pengakuan penegasan terhadap hubungan hukum hak kepemilikan atas tanah antara pemegang hak dengan obyeknya diakui oleh negara syaratnya adalah Warga negara Indonesia. Konsekuensi hukum bilamana syarat tersebut tidak dipenuhi maka hubungan hukum hak kepemilikan atas tanah diubah (diturunkan) kepada hak jenis lain dan dalam jangka waktu tertentu dicabut oleh negara, sehingga berdasarkan ketentuan hukum ( UUPA) status hukum obyek tanahnya menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara ( tanah negara). Untuk hak atas tanah yang berasal dari bekas hak barat ( pasal I ayat (1) Ketentuan Konversi UUPA): Hak Eigendom atas tanah yang ada pada mulai berlakunya UUPA dikonversi menjadi hak milik, kecuali jika yang mempunyainya tidak memenuhi syarat sebagai yang tersebut dalam pasal 21 ayat (1) UUPA, yakni harus Warganegara Indonesia sejak 24 september 1960. berdasarkan ketentuan pembuktian kewarganegaraan diberikan waktu 6 (enam ) bulan (pasal 2 PMA No. 2 tahun 1960). Pemegang hak eigendom yang dapat membuktikan kewarga negaraannya maka oleh KKPT ( Kepala Kantor Pendaftaran Tanah ) saat ini Kepala Kantor Pertanahan, eigendomnya dikonversi menjadi hak milik dan tanda bukti kepemilikan hak tersebut dicatat baik pada asli akta maupun didalam salinan aktanya, demikian disebutkan dalam pasal 3 PMA No. 2 tahun 1960.&lt;a href="#_ftn12_6287" name="_ftnref12_6287"&gt;[12]&lt;/a&gt; Pencatatan konversi oleh KKPT ini dilaksanakan dengan membubuhi keterangan dengan kata-kata “ Berdasarkan pasal dan ayat ketentuan konversi Undang-Undang Pokok Agraria dikonversi menjadi: Hak ( isi: milik, guna bangunan, Guna usaha atau pakai) dengan jangka waktu” ( pasal 18 PMA No. 2 tahun 1960). Akibat hukumnya apabila pemegang hak tidak melaporkan status hukum kewarganegaraannya dalam waktu 6 bulan atau tidak dapat membuktikan kepemilikannya maka menurut hukum hak eigendomnya berubah menjadi hak guna bangunan dengan jangka waktu 20 tahun.&lt;a href="#_ftn13_6287" name="_ftnref13_6287"&gt;[13]&lt;/a&gt; Dan setelah 20 tahun jika tidak diperbaharui haknya hapus menjadi tanah negara berdasarkan Keppres No. 32 tahun 1979 yo. PMDN No. 3 tahun 1979. Untuk pengakuan negara terhadap tanah-tanah Adat diatur dalam pasal II dan pasal VII Ketentuan konversi UUPA. Dalam pasal II Ketentuan Konversi berisi hak – hak atas tanah-tanah adat yang memberikan wewenang yang mirip dengan hak milik pasal 21 UUPA dikonversi menjadi hak milik, bilamana memenuhi persyaratan yang dimaksud dalam pasal 20 ayat 1 UUPA yaitu: hak &lt;i&gt;Agrarisch eigendom&lt;/i&gt;, milik, yasan, &lt;i&gt;andarbeni&lt;/i&gt;, hak atas &lt;i&gt;druwe&lt;/i&gt;, hak atas druwe desa, &lt;i&gt;pesini&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;grant sultan&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;landrijenbezitrecht&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;altijddurende erfpacht&lt;/i&gt;, hak usaha atas bekas tanah partikelir, demikian juga tanah &lt;i&gt;pekulen&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;sanggan&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;gogolan&lt;/i&gt; yang sifatnya tetap dan hak-hak lain dengan nama apapun juga yang akan ditegaskan lebih lanjut oleh menteri agraria, sejak mulai berlakunya UUPA dikonversi menjadi hak milik, kecuali jika yang mempunyainya tidak memenuhi syarat sebagai yang tersebut dalam pasal 21 UUPA. Mengingat adanya perbedaan karakter tersebut maka sebagai konsekuensi hukumnya akan berbeda pula pada saat terjadi pembatalan bukti kepemilikan hak atas tanahnya yang menjadi alas atau dasar penerbitan sertipikat hak atas tanah tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Skema pendaftaran Sertipikat yang berkarakter yuridis bersifat Deklaratif. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_iF_bLP0hzL0/S-5ysHhU6TI/AAAAAAAAAI4/y2yw79Zkk4Q/s1600-h/clip_image0023.gif"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="clip_image002" border="0" alt="clip_image002" src="http://lh3.ggpht.com/_iF_bLP0hzL0/S-5ys4-lWdI/AAAAAAAAAI8/g7Fp_eR4yvQ/clip_image002_thumb.gif?imgmax=800" width="240" height="189" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;KARAKTER HUKUM KEPUTUSAN PEJABAT TATA USAHA NEGARA.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Didalam ilmu hukum bahwa suatu “keputusan” dikatakan sah menurut hukum ( &lt;i&gt;rechsmatig &lt;/i&gt;) apabila keputusan tersebut memenuhi persyaratan tertentu yang ditentukan oleh hukum. Dengan dipenuhinya persyaratan yang ditentukan oleh hukum maka keputusan tersebut mempunyai kekuatan hukum ( &lt;i&gt;rechtskrach&lt;/i&gt; ) untuk dilaksanakan. sebaliknya apabila suatu keputusan tersebut tidak memenuhi persyaratan maka menurut hukum ketetapan atau keputusan tersebut menjadi “ &lt;b&gt;tidak sah&lt;/b&gt;” yang berakibat hukum menjadi “ batal” ( &lt;i&gt;nietig &lt;/i&gt;). Menurut &lt;b&gt;Van der Pot&lt;/b&gt;, ada 4 syarat yang harus di penuhi agar ketetapam administrasi sebagai ketetapan sah dan apabila salah satunya tidak dipenuhi dapat menimbulkan akibat bahwa ketetapan administrasi tersebut menjadi ketetapan tidak sah: 1. &lt;i&gt;bevoedgheid&lt;/i&gt; ( kewenangan ) organ administrasi yang membuat keputusan; 2. &lt;i&gt;geen juridische gebreken in de wilsvorming &lt;/i&gt;( tidak ada kekurangan yuridis dalam pembentukan kehendak ); 3. &lt;i&gt;vorm&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;procedure&lt;/i&gt; yakni keputusan dituangkan dalam bentuk yang telah diketapkan dan dibuat menurut tata cara yang telah ditetapkan; Isi dan tujuan keputusan sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasar.&lt;a href="#_ftn14_6287" name="_ftnref14_6287"&gt;[14]&lt;/a&gt; &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt; mengutarakan wewenang, prosedur dan substansi, ketiga aspek hukum merupakan landasan hukum untuk dapat dikatakan suatu ketetapan atau keputusan tersebut sah. &lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, aspek wewenang dalam hal ini artinya bahwa pejabat yang mengeluarkan ketetapan tersebut memang mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk itu; &lt;b&gt;kedua&lt;/b&gt;, aspek prosedur, berarti bahwa ketetapan atau keputusan tersebut dikeluarkan sesuai dengan tatacara yang disyaratkan dan bertumpu kepada asas keterbukaan pemerintah; &lt;b&gt;ketiga,&lt;/b&gt; aspek substansi, artinya menyangkut obyek ketetapan atau keputusan tidak ada “ &lt;i&gt;Error in re&lt;/i&gt;”. &lt;a href="#_ftn15_6287" name="_ftnref15_6287"&gt;[15]&lt;/a&gt; selanjutnya dijelaskan bahwa istilah keabsahan adalah terjemahan dari istilah Belanda “ &lt;i&gt;rechtmatigheid&lt;/i&gt;” ( &lt;i&gt;van bestuur&lt;/i&gt;). &lt;i&gt;Rechtmatigheid&lt;/i&gt; = legalitas = &lt;i&gt;legality&lt;/i&gt;. Ruang lingkup keabsahan meliputi : 1. wewenang; 2. prosedur; 3. Substansi. Butir 1 dan 2 ( wewenang dan substansi ) merupakan landasan bagi legalitas formal. Atas dasar legalitas formal lahirlah asas &lt;i&gt;presumptio iustae causa&lt;/i&gt;. Atas dasar asas itulah ketentuan pasal 67 ayat (1) UU. No. 5 Th. 1986 menyatakan: Gugatan tidak menunda atau menghalangi dilaksanakannya Keputusan Badan atau Tata Usaha negara serta tindakan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang digugat. &lt;a href="#_ftn16_6287" name="_ftnref16_6287"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya Berdasarkan hukum suatu keputusan yang tidak memenuhi elemen atau syarat dapat dikatakan bahwa keputusan mengandung kekurangan juridis dalam pembuatannya, sehingga keputusan tersebut merupakan suatu keputusan menjadi tidak sah. &lt;b&gt;E. Utrecht&lt;/b&gt;, mengatakan:suatu ketetapan yang mengandung kekurangan tidak selalu merupakan ketetapan atau keputusan yang tidak sah. Ada ketetapan yang mengandung kekurangan tetap merupakan ketetapan sah. Menurutnya pada umumnya tergantung pada hal apakah syarat yang tidak dipenuhi itu merupakan bestaansvoorwaarde atau tidak untuk adanya ketetapan itu. ( bestaansvoorwaarde= syarat yang harus dipenuhi agar sesuatu ada; kalau syarat tidak dipenuhi maka sesuatu itu (dianggap) tidak ada.&lt;a href="#_ftn17_6287" name="_ftnref17_6287"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Stelinga&lt;/b&gt;, mengatakan bahwa suatu ketetapan yang mengandung kekurangan masih dapat diterima sah oleh karena sah tidaknya sesuatu ketetapan yang mengandung kekurangan tergantung pada beratnya kekurangan itu.&lt;a href="#_ftn18_6287" name="_ftnref18_6287"&gt;[18]&lt;/a&gt;Menurut &lt;b&gt;Soehino&lt;/b&gt;, bahwa yang disebut sebagai ketetapan yang tidak sah bila mengandung kekurangan syarat yang seharusnya dipenuhi dalam pembuatan ketetapan administrasi tersebut.&lt;a href="#_ftn19_6287" name="_ftnref19_6287"&gt;[19]&lt;/a&gt; Dengan adanya kekurangan syarat yang seharusnya dipenuhi dapat berakibat hukum batalnya ketetapan tersebut. Disamping batal atau dapat dibatalkan ketetapan tersebut dimungkinkan bahwa ketetapan tersebut dicabut oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang menerbitkan. Masih berkaitan dengan ketetapan yang mempunyai kekurangan yuridis, &lt;b&gt;van der Wel&lt;/b&gt;, berpendapat agak berbeda sebagaimana yang dikutip oleh &lt;b&gt;Bachsan Mustafa&lt;/b&gt; dalam bukunya:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Suatu ketetapan yang menetapkan sesuatu yang sungguh-sungguh tidak mungkin dapat dilaksanakan dapat dianggap batal sama sekali. Mengenai ketetapan-ketetapan yang lainnya kita harus melihat apakah kekurangan yang bersangkutan adalah kekurangan “ esensial” atau kekurangan yang “ bukan esensial”, kekurangan yang bukan yang esensial tidak dapat mempengaruhi berlakunya ketetapan. Mengenai kekurangan esensial harus dilihat beratnya kekurangan. Apabila kekurangan itu dirasakan begitu berat sehingga ketetapan yang bersangkutan sebetulnya tidak berupa ketetapan, maka ketetapan yang bersangkutan itu dapat dianggap batal sama sekali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apabila kekurangan itu tidak begitu berat, maka ketetapan yang bersangkutan dapat dianggap batal terhadap subyek hukum yang mempunyai alat untuk menggugat berlakunya ketetapan itu ( misalnya dalam bandingan).&lt;a href="#_ftn20_6287" name="_ftnref20_6287"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;E.Utrecht&lt;/b&gt; berkomentar bahwa dia dapat menerima pembagian kekurangan ketetapan kedalam kekurangan yang esensial ( inti) dan yang bukan yang esensial. Namun kandungan kekurangan tersebut harus dilihat secara kasuistis yang penting bahwa keputusan Administrasi negara adalah pemanfaatan / kegunaannya ( &lt;i&gt;doelmatigheid&lt;/i&gt;) lebih penting dari pada sesuai tidaknya dengan hukum positif ( &lt;i&gt;rechtsmatigheid&lt;/i&gt;). &lt;a href="#_ftn21_6287" name="_ftnref21_6287"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk mengetahui suatu keputusan itu mempunyai kekurangan yang masuk dalam ranah kekurangan yang esensial atau yang bukan esensial, sehingga ketetapan tersebut menjadi sah atau tidak sah. Apabila mengikuti teorinya &lt;b&gt;van der Pot&lt;/b&gt;, maka ada 4 syarat yakni: dibuat oleh Badan atau pejabat yang berwenang, tidak boleh adanya kekurangan yuridis, berhubungan dengan bentuk ( &lt;i&gt;vorm&lt;/i&gt;) dan prosedur, serta isi dan tujuan harus sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasarnya. Atau sebagaimana disampaikan oleh &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt; ada 3 aspek yang penting yakni: &lt;b&gt;Wewenang,&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Prosedur&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;substansi&lt;/b&gt; untuk dapat dikatakan sahnya ketetapan atau keputusan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Didalam Hukum Administrasi bahwa ketetapan &lt;b&gt;tidak sah&lt;/b&gt; akan berakibat batal ketetapan tersebut, dapat dibedakan 3 ( tiga ) jenis pembatalan suatu ketetapan tidak sah yaitu: &lt;b&gt;pertama&lt;/b&gt;, ketetapan yang batal karena hukum ( &lt;i&gt;nietigheid van rechtswege&lt;/i&gt;); &lt;b&gt;kedua&lt;/b&gt;, ketetapan yang batal ( &lt;i&gt;nietig&lt;/i&gt;, juga: batal absolut, &lt;i&gt;absoluut nietig&lt;/i&gt;); &lt;b&gt;ketiga&lt;/b&gt;, ketetapan yang dapat dibatalkan ( &lt;i&gt;vernietigbaar&lt;/i&gt;).&lt;a href="#_ftn22_6287" name="_ftnref22_6287"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keputusan yang “ &lt;b&gt;batal demi hukum&lt;/b&gt;” adalah suatu ketetapan yang isinya menetapkan adanya akibat suatu perbuatan itu untuk sebagian atau seluruhnya bagi hukum dianggap tidak ada, tanpa diperlukan keputusan pengadilan atau Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berwenang menyatakan batalnya ketetapan tersebut, jadi ketetapan itu batal sejak dikeluarkan.bagi hukum dianggap tidak ada ( dihapus ) tanpa diperlukan suatu keputusan hakim atau keputusan suatu badan pemerintah lain yang berkompeten untuk menyatakan batalnya sebagian atau seluruhnya.&lt;a href="#_ftn23_6287" name="_ftnref23_6287"&gt;[23]&lt;/a&gt; Namun Utrecht sendiri menjelaskan dalam catatat kaki bukunya, bahwa hal ini jarang sekali terjadi namun ada atau dengan kata-kata “ satu dua hal”. &lt;a href="#_ftn24_6287" name="_ftnref24_6287"&gt;[24]&lt;/a&gt; yang maksudnya bahwa sebetulnya Utrecht mempunyai pendapat secara umum bahwa batal karena hukum suatu ketetapan tidak secara otomatis artinya diperlukan suatu tindakan pembatalan dari Pengadilan maupun Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Selanjutnya suatu ketetapan yang “&lt;b&gt;Batal&lt;/b&gt;” ( &lt;i&gt;nietig&lt;/i&gt;) merupakan suatu tindakan atau perbuatan hukum yang dilakukan yang berakibat suatu perbuatan dianggap tidak pernah ada &lt;a href="#_ftn25_6287" name="_ftnref25_6287"&gt;[25]&lt;/a&gt; yang disebut juga sebagai “ &lt;i&gt;Absoluut nietig&lt;/i&gt;”.&lt;a href="#_ftn26_6287" name="_ftnref26_6287"&gt;[26]&lt;/a&gt; Selanjutnya pengertian “ &lt;b&gt;dapat dibatalkan&lt;/b&gt;” ( &lt;i&gt;vernietigbaar&lt;/i&gt;) merupakan suatu tindakan atau perbuatan hukum Badan atau Tata Usaha Negara yang dalam pengertian dapat dibatalkan karena diketahui perbuatan itu mengandung kekurangan. Perbuatan yang dilakukan dan akibatnya dianggap ada sampai waktu pembatalan oleh hakim atau oleh suatu badan pemerintah lain yang berkompeten ( pembatalan diadakan karena pembuatan tersebut mengandung sesuatu kekurangan ). Bagi hukum, perbuatan tersebut ada sampai waktu pembatalannya, menjadi sah ( terkecuali dalam hal undang-undang menyebut beberapa bagian akibat itu tidak sah). Setelah pembatalan maka perbuatan itu tidak ada dan – bila mungkin – diusahakan supaya akibat yang telah terjadi itu semuanya atau sebagiannya hapus.&lt;a href="#_ftn27_6287" name="_ftnref27_6287"&gt;[27]&lt;/a&gt; Dengan kata lain bahwa yang dimaksud dengan keputusan yang dapat dibatalkan ( &lt;i&gt;vernietigbaar&lt;/i&gt;) yaitu Suatu keputusan baru dapat dinyatakan batal setelah pembatalan oleh hakim atau instansi yang berwenang membatalkan, dan pembatalan tidak berlaku surut. Jadi bagi hukum perbuatan dan akibat-akibat hukum yang ditimbulkan dianggap sah sampai dikeluarkan keputusan pembatalan ( &lt;i&gt;ex-nunc&lt;/i&gt;) kecuali undang-undang menentukan lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gambar 6. Tabel perbedaan Batal ( &lt;i&gt;Nietig&lt;/i&gt;), batal demi hukum ( &lt;i&gt;van rechts wege nietig&lt;/i&gt;) dan dapat dibatalkan ( &lt;i&gt;vernietigbaar&lt;/i&gt;).     &lt;table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="40"&gt;           &lt;p&gt;No&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="135"&gt;           &lt;p&gt;URAIAN&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="120"&gt;           &lt;p&gt;NIETIG&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="126"&gt;           &lt;p&gt;VAN RECHTS WEGE NIETIG&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="123"&gt;           &lt;p&gt;VERNIETIGBAAR&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="40"&gt;           &lt;p&gt;1. &lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="135"&gt;           &lt;p&gt;Sejak kapan batal&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="120"&gt;           &lt;p&gt;Ex tunc*&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="126"&gt;           &lt;p&gt;Ex tunc&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="123"&gt;           &lt;p&gt;Ex nunc*&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="40"&gt;           &lt;p&gt;2.&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="135"&gt;           &lt;p&gt;Tindakan pembatalan&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="120"&gt;           &lt;p&gt;Dengan putusan/keputusan&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Sifat putusan/ keputusan:&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Konstatering/ deklaratif&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="126"&gt;           &lt;p&gt;Tanpa perlu ada putusan / keputusan&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="123"&gt;           &lt;p&gt;Mutlak harus ada putusan / keputusan&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Sifat putusan/ keputusan:&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Konstitutif&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sumber: Philipus M. Hadjon, Pengertian dasar tentang tindak Pemerintahan, Copy-Perc&amp;amp;stensil Jumali, Surabaya, 1985, h. 25.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selanjutnya yang menjadi pertanyaan hukum adalah sebab atau alasan pembatalan atau batalnya suatu ketetapan atau keputusan yang diterbitkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Sebagaimana diketahui bahwa dalam ajaran hukum bahwa suatu keputusan ( &lt;i&gt;beschikking&lt;/i&gt; ) dikatakan sah apabila memenuhi beberapa syarat, seperti yang diajukan &lt;b&gt;van der Pot&lt;/b&gt; ada 4 syarat fundamental:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1. &lt;i&gt;Bevoedgheid &lt;/i&gt;( kewenangan) organ Administrasi negara yang membuat keputusan;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2. &lt;i&gt;Geen juridische gebreken in de wilsvorming&lt;/i&gt; ( tidak ada kekurangan yuridis dalam pembentukan kehendak );&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;3. &lt;i&gt;Vorm&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;procedure &lt;/i&gt;yakni keputusan dituangkan dalam bentuk yang telah ditetapkan dan dibuat menurut tatacara yang telah ditetapkan;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;4. Isi dan tujuan keputusan sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasar.&lt;a href="#_ftn28_6287" name="_ftnref28_6287"&gt;[28]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt; mengutarakan bahwa wewenang, prosedur dan substansi, ketiga aspek hukum tersebut merupakan landasan hukum untuk dapat dikatakan suatu ketetapan atau keputusan tersebut sah menurut hukum. &lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, aspek wewenang dalam hal ini artinya bahwa pejabat yang mengeluarkan ketetapan tersebut memang mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk itu; &lt;b&gt;kedua&lt;/b&gt;, aspek prosedur, berarti bahwa ketetapan atau keputusan tersebut dikeluarkan sesuai dengan tatacara yang disyaratkan dan bertumpu kepada asas keterbukaan pemerintah; &lt;b&gt;ketiga&lt;/b&gt;, aspek substansi, artinya menyangkut obyek ketetapan atau keputusan tidak ada “ &lt;i&gt;Error in re&lt;/i&gt;”.&lt;a href="#_ftn29_6287" name="_ftnref29_6287"&gt;[29]&lt;/a&gt; Hal ini selaras dengan hukum Acara yang di atur didalam UU No. 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang selanjutnya diubah ( sebagian ) oleh UU No. 9 tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Sebagaimana diatur dalam pasal 53 ayat (1) UU No. 5 tahun 1986, menetapkan bahwa Seseorang atau Badan hukum perdata yang kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan tata usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan Tata Usaha Negara. Adapun dasar alasan gugatan sebagaimana ditetapkan dalam ayat (2) nya, isinya menyatakan bahwa alasan gugatan yang digunakan adalah Keputusan Tata Usaha Negara bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, antara lain adanya kesalahan bersifat kewenangan, prosedur dan substansi ( penjelasan pasal), penyalahgunaan wewenang ( &lt;i&gt;de tournament de pouvoir&lt;/i&gt;) dan larangan berbuat sewenang-wenang. Adapun rumusan lengkapnya pasal 53 UU No. 5 Tahun 1986 sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(3) seseorang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis pada pengadilan yang berwenang yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan atau rehabilitasi;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(4) alasan – alasan yang dapat digunakan dalam gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;a. Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;b. Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara pada waktu mengeluarkan keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) telah digunakan wewenangnya untuk tujuan lain dari maksud yang diberikannya wewenang tersebut;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;c. Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara pada waktu mengeluarkan keputusan atau tidak keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) setelah mempertimbangkan semua kepentingan yang tersangkut dengan keputusan itu seharusnya tidak sampai pada pengambilan atau tidak keputusan tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan demikian bahwa dalam hukum acara pasal 53 ayat (2) UU. No. 5 Tahun 1986, merupakan dasar dari alasan untuk menggugat ( &lt;i&gt;Beroepsgronden&lt;/i&gt;) seseorang atau badan hukum perdata dan sekaligus pengujian oleh hakim pengadilan terhadap keputusan Tata usaha Negara ( KTUN) sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, bahwa Keputusan Tata Usaha Negara tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya bilama dicermati dalam penjelasan otentik dari pasal ini memberikan penjelasan tentang pengertian “ bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku&lt;u&gt;” &lt;/u&gt;yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1. Keputusan Tata Usaha Negara itu bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang bersifat procedural atau formal;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2. Bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang bersifat material atau substansi;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;3. Bahwa keputusan Tata usaha Negara dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha yang tidak berwenang dan apabila tidak berwenang dikaitkan dengan kompetensi Jabatan maka dimungkinkan ada tiga macam bentuk tidak berwenang ( &lt;i&gt;onbevoegdheid&lt;/i&gt;) yaitu: &lt;i&gt;onbevoegdheid ratione materiae&lt;/i&gt; ( menyangkut kompetensi absolute), &lt;i&gt;onbevoegdheid ratione loci&lt;/i&gt; ( kompetensi relative) dan &lt;i&gt;onbevoegdheid ratione temporis&lt;/i&gt; ( tidak berwenang dari segi waktu).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara pada waktu mengeluarkan keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) telah menggunakan wewenangnya untuk tujuan lain dari maksud diberikannya wewenang tersebut yang dikenal dengan sebutan “ penyalahgunaan wewenang” ( &lt;i&gt;de tournament de pouvoir&lt;/i&gt;). Menurut &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt;, alasan yang dikemukakan dalam penjelasan otentik ini dalam prakteknya sulit di buktikan karenanya jarang digunakan. Oleh karena itu dalam gugatan sering menggunakan dasar seperti tersebut dalam butir 3.&lt;a href="#_ftn30_6287" name="_ftnref30_6287"&gt;[30]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, dalam penjelasan pasal ini menyatakan bahwa dasar pembatalan sering disebutkan “ larangan berbuat sewenang-wenang” ( &lt;i&gt;willekeur&lt;/i&gt;) merupakan konsep yang sulit diukur. &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt; mengatakan bahwa:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Larangan berbuat sewenang-wenang justru membuat rumusan yang operasional – terukur menjadi sulit / tidak terukur. Kalau kita bandingkan dengan ketentuan Wet AROB di Belanda, nampaknya disatu pihak ada kesamaan untuk huruf a,b,c, sedangkan huruf d tidak terdapat dalam pasal 53 ayat 2.&lt;a href="#_ftn31_6287" name="_ftnref31_6287"&gt;[31]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pasal 53 UU No. 5 Tahun 1986 ini diubah oleh UU No. 9 Tahun 2004, terutama dalam ayat (2) b dan c, yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang dan tindakan larangan berbuat sewenang – wenang, bagaimana diatur dalam pasal 53 UU No. 9 Tahun 2004, berbunyi:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(1) Orang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis pada pengadilan yang berwenang yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau disertai tuntutan ganti rugi dan atau rehabilitasi;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(2) Alasan-alasan yang dapat digunakan dalam gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;a. Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;b. Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gambar 7. Tabel alasan menjadi dasar keputusan tidak sah / dibatalkan    &lt;table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="144"&gt;           &lt;p&gt;Van der Pot&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="144"&gt;           &lt;p&gt;Philipus M.Hadjon&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="156"&gt;           &lt;p&gt;UU No 5 tahun 1986&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;Pasal 53 (2), yo. UU No. 9 tahun 2004&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="80"&gt;           &lt;p&gt;Akibat hukum&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign="top" width="144"&gt;           &lt;p&gt;1. Bevoedgheid;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;2. geen juridische gebreken in de wilsvorming;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;3. vorm dan procedure;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;4. isi dan tujuan keputusan sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasar&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="144"&gt;           &lt;p&gt;1. Aspek wewenang;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;2. Aspek prosedur;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;3. Aspek substansi&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="156"&gt;           &lt;p&gt;1. Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan berlaku: bersifat Wewenang, Prosedur, Substansi;&lt;/p&gt;            &lt;p&gt;2. bertentangan dengan asas umum pemerintahan yang baik&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td valign="top" width="80"&gt;           &lt;p&gt;Tidak sah atau batal&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesuai dengan ajaran hukum dan sebagaimana yang ditentukan dalam pasal 53 ayat (2) UU No. 5 tahun 1986 yo. UU No. 9 tahun 2004, maka bilamana suatu keputusan Tata Usaha Negara bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang bersifat wewenang, prosedur dan substansi, keputusan Tata Usaha Negara tersebut yang ditemukan oleh Peradilan dalam pertimbangan hukumnya, menjadi dasar untuk putusan pengadilan menyatakan &lt;b&gt;tidak sah&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;batal keputusan &lt;/b&gt;Tata Usaha Negara tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesuai dengan konsep hukum/ ajaran hukum dan ketentuan pertanahan Keputusan Tata Usaha Negara merupakan sumber hukum dan alat bukti dari lahirnya sertifikat hak atas tanah yang berkarakter yang bersifat Konstitutif, dengan demikian maka bilamana terjadi persengketaan berkaitan dengan kepemilikan hak atas masuk dalam kompetensi absolut dari pengadilan tata usaha negara yang mana alat bukti keputusan Tata Usaha Negara tersebut terbitnya yang berkaitan dengan adanya cacat dalam aspek wewenang, prosedur dan substansi yang menjadi titik tolak dalam beracara dan tuntutan pembatalannya. Berbeda dengan sertifikat hak atas tanah yang berkarakter yuridis yang bersifat deklaratif, sesuai dengan sumber dasar hak kepemilikan atas tanah yang exsistensinya diakui oleh negara sehingga dalam proses persengketaan hukumnya berada diwilayah Peradilan umum, dimana bukti perolehan kepemilikan keperdataan dan obyek gugatannya yang ditimbulkan berkaitan dengan keabsahan dari aspek kesepakatan, kecakapan, obyek dan kausa tertentu yang menjadi dasar gugatan dan proses pembuktian di peradilan umum tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;5. Penutup.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut maka yang akan menjadi isu sentral yang hendak dikaji dalam kajian penulisan disertasi ini adalah pembatalan sertifikat oleh Peradilan dan akibat hukum terhadap sertifikat hak atas tanah, yang dilatar belakangi adanya ketidak pastian hukum dan kepastian hak disebabkan karena masih banyaknya sengketa tanah dimana sertifikat hak atas tanah oleh pengadilan diputus dinyatakan tidak sah dan harus dibatalkan. Salah satu kelemahan dari disebabkan hukum tanah nasional yang dibangun berdasarkan pada konsepsi pengakuan hak Negara terhadap hak yang ada dan sistem pendaftaran tanah yang mengenal adanya alat bukti kepemilikan hak atas tanah yang lain selain sertifikat hak atas tanah. Konsep pengakuan negara dan sistem pendaftaran tanah berakibat pada karakteristik khas dari sertifikat yang mana konstruksi hukum dari sertifikat hak atas tanah yang terbit dikenal adanya sertifikat dengan karakter yuridis yang bersifat Konstitutif maupun terdapat sertifikat yang bersifat deklaratif. Konstruksi hukum dari karakteristik sertifikat hak atas tanah tersebut membawa konsekuensi hukum terhadap bentuk sengketanya, badan Peradilan yang menangani perkaranya dan akibat hukum yang berbeda pula satu dengan yang lain bilamana terjadi eksekusi pelaksanaan hukum terhadap putusan pengadilan baik terhadap hak kepemilikan atas tanahnya maupun terhadap status hukum obyek tanahnya. &lt;/p&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref1_6287" name="_ftn1_6287"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;b&gt;Boedi Harsono&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Beberapa analisis tentang hukum agrarian, bagian 3&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Era study Club, Jakarta, 1980, h. 1.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref2_6287" name="_ftn2_6287"&gt;[2]&lt;/a&gt; Lihat &lt;b&gt;L.B. Curzon&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;LandLaw&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Seventh edition, Pearson Education Ltd, Great Britain, 1999, h. 8-9. dikatakan &lt;i&gt;Property is the highest right a man have to any thing; a right over a determinate thing, either a tract of land or chattel; an exclusive right to control an economic good; an aggregate of rights guaranteed and protected by the government; everything which is the subject of ownership; a social institution whereby people regulate the acquisitionand use of the resources of our environment according to a system of roles; a concept that refers to the rights, obligations, priveileges and restrictions that govern the relations of men with respect to things of value.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref3_6287" name="_ftn3_6287"&gt;[3]&lt;/a&gt; Lihat, &lt;b&gt;Jesse Dukemenier&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Property&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Gilbert Law Summaries, 1991-1992, h. i. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref4_6287" name="_ftn4_6287"&gt;[4]&lt;/a&gt; Lihat &lt;b&gt;Hari Chand&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Modern Jurisprudence&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, International Law Book series, Kuala Lumpur, 1994, h. 261.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref5_6287" name="_ftn5_6287"&gt;[5]&lt;/a&gt; &lt;b&gt;John Locke&lt;/b&gt; “ second treatise on Government”, 1689, dikutip oleh &lt;b&gt;Rock Deborah&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Property Law &amp;amp; Human Rights&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, First Published, Blackstone Press Limited Aldine Place, London, 2001, h. 3.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref6_6287" name="_ftn6_6287"&gt;[6]&lt;/a&gt; Pengaturan hak kepemilikan atas tanah termasuk kedalam Hukum administrasi adalah merupakan seperangkat hukum yang diciptakan oleh lembaga administrasi dalam bentuk undang-undang, peraturan, perintah dan keputusan-keputusan ( body of law created by administrative agencies in the form of rules, regulations, orders, and decisions to carry out regulatory powers and duties of such agencies). &lt;b&gt;Henry Campbell Black&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Black’s Law Dictionary&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Sixth Edition, St. Paull, Minn, West Publishing Co, 1993, h. 29. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref7_6287" name="_ftn7_6287"&gt;[7]&lt;/a&gt; Istilah “beschikking”“ ada yang menterjemahkan sebagai “keputusan” atau “ketetapan”demikian juga dengan sebutan “ Tata Usaha Negara” ada yang mempergunakan “ Administrasi Negara”. Sebagaimana yang diatur dalam UU No. 5 tahun 1986 ; menurut Kuncoro Purbopranoto, istilah “ &lt;i&gt;Beschikking&lt;/i&gt;” ( Belanda ) atau “ &lt;i&gt;Acte administrative&lt;/i&gt;” ( Perancis), atau “ &lt;i&gt;verwaltungsakt&lt;/i&gt;” ( Jerman). diintrudusir oleh &lt;b&gt;van der Pot &lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;van Vollenhoven. Kuncoro Purbopratoto,&lt;/b&gt; &lt;i&gt;Beberapa Catatan tentang hukum peradilan Administrasi negara dan hukum pemerintah&lt;/i&gt;, Alumni, Bandung, 1978, h. 45;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Namun istilah Beschikking menurut Utrecht dan &lt;b&gt;Sjachran Basah&lt;/b&gt;, lebih tepat diterjemahkan sebagai “ Ketetapan”. sebagaimana yang dikatakan: Berbagai pengertian ketetapan yang dilontarkan oleh para ahli dan setelah membandingkan serta mengkajinya, maka penulis berpendirian bahwa ketetapan adalah keputusan tertulis administrasi Negara, yang mempunyai akibat hukum dalam menyelenggarakan pemerintahan ( dalam arti kata sempit).&lt;b&gt;Sjachran Basah&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Existensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi di Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Alumni, Bandung, 1997, h. 13.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref8_6287" name="_ftn8_6287"&gt;[8]&lt;/a&gt; &lt;b&gt;E Utrecht&lt;/b&gt;, Op.cit, h. 184-185.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref9_6287" name="_ftn9_6287"&gt;[9]&lt;/a&gt; lihat &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt;, et.al, h. 143-146.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref10_6287" name="_ftn10_6287"&gt;[10]&lt;/a&gt; Istilah “Penetapan Pemerintah “yang dipakai dalam pasal 23 PP No. 24 tahun 1997. penetapan Pemerintah adalah keputusan Tata Usaha Negara, dalam istilah lain adalah keputusan pemberian hak ( surat keputusan ) yang dikeluarkan oleh Badan Tata Usaha Negara dalam hal ini BPN ( Badan Pertanahan Nasional) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref11_6287" name="_ftn11_6287"&gt;[11]&lt;/a&gt; Penyebutan tanah Negara sebagai tanah yang dikuasai oleh Negara sebelum berlakunya UUPA sudah diintrudusir Di dalam PP No. 8 tahun 1953, tentang Penguasaan Tanah-tanah Negara, didalam pasal 1 huruf a, disebutkan bahwa “ tanah Negara, ialah tanah yang dikuasai penuh oleh negara” pengertian ini sebetulnya secara filosofi mengacu pada konsep “ &lt;i&gt;domein verklaring&lt;/i&gt;”. Dalam penjelasan umum UUPA tanah negara adalah tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Didalam konsep historis, tanah negara berarti sebagai tanah miliknya Negara atau Raja. Dalam konsep ini semua tanah yang ada merupakan hak milik ( domein ) dari Raja jadi tidak ada yang namanya hak milik rakyat, dimana rakyat diposisikan sebagai penyewa atau penggarap. Dalam konsep pemerintahan Hindia Belanda asas Domein verklaring yang dinyatakan di dalam pasal 1 “ Agrarisch besluit” dikenal adanya dua macam status tanah yaitu: pertama, tanah milik ( domein) Negara, yang sepenuhnya dikuasai oleh negara ( Vrijlandsdomein) dan tanah negara yang diatasnya ada penguasaan rakyat misalnya tanah-tanah adat ( on vrijlandsdomein).dan; kedua, tanah hak milik ( eigendom ), dimana diatas tanah tersebut sudah ada atau dilekati dengan sesuatu hak. Setelah lahir UUPA dikenal adanya beberapa jenis klasifikasi yang disebut tanah negara antara lain:&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;tanah negara bebas yaitu merupakan tanah yang mana diatastanah tersebut belum ada hak atas tanah yang melekat yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda disebut “ Vrij lands Domein”, (tanah-tanah “ Timbul” “ Aanslibbing” ) termasuk seperti tanah yang berasal dari endapan Lumpur di tepi pantai atau sungai. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;tanah negara bekas hak barat atau yang lazim dalam praktek pertanahan disebut “ tanah ex barat”. Yang masuk dalam kategori ini adalah tanah bekas hak yang dihapuskan oleh peraturan perundangan seperti “ Tanah – tanah Partikulir” dengan UU No. 1 tahun 1958, tanah Erfpacht pertanian kecil oleh ketentuan konversi UUPA. Tanah bekas hak barat yang terkena ketentuan Keppres No. 32 tahun 1979, Termasuk didalam kategori ini adalah tanah-tanah hak yang bersifat sementara ( berjangka waktu) telah berakhir jangka waktunya dan tidak diperpanjang atau diperbaharui kembali. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Tanah negara bekas tanah hak. yang dilepaskan oleh pemegang haknya kepada negara secara sukarela karena maksud tertentu. Seperti tanah hak yang dibebaskan oleh negara untuk tujuan kepentingan umum. &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref12_6287" name="_ftn12_6287"&gt;[12]&lt;/a&gt; Pasal 3 PMA No. 2 tahun 1960: Hak-hak eigendom yang pemiliknya terbukti berkewarganegaraan Indonesia tunggal dicatat oleh K.K.P.T., baik pada asli maupun pada grosse aktanya sebagai telah dikonversi menjadi hak milik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref13_6287" name="_ftn13_6287"&gt;[13]&lt;/a&gt; pasal 4 PMA No. 2 tahun 1960 sebagai berikut: Hak eigendom yang setelah jangka waktu 6 bulan tersebut pada pasal 2 lampau pemiliknya tidak dating pada K.K.P.T. atau yang pemiliknya tidak dapat membuktikan, bahwa ia kewarganegaraan Indonesia tunggal, oleh K.K.P.T. dicatat pada asli aktanya sebagai dikonversi menjadi hak-guna-bangunan, dengan jangka waktu 20 tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref14_6287" name="_ftn14_6287"&gt;[14]&lt;/a&gt; Sebagaimana dikutip &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Pengertian-pengertian Dasar tentang Tindak Pemerintahan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Copy - Percetakan &amp;amp; stensil Djumali, Surabaya, 1985, h. 8-9; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref15_6287" name="_ftn15_6287"&gt;&lt;/a&gt;[15] Lihat &lt;b&gt;Philipus M Hadjon&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Tatiek Sri Djatmiati&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Argumentasi Hukum&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Gajah Mada University Press, Jogjakarta, 2005, h. 83&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref16_6287" name="_ftn16_6287"&gt;[16]&lt;/a&gt; &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt;, dalam makalah: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tolok Ukur Keabsahan Tindak Pemerintahan dan Keputusan Tata Usaha Negara&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, makalah yang disampaikan pada penyelenggaraan – House legal Training Hukum Administrasi dan PTUN, tanggal 19-29 Juli 2004, h. 1; lihat pula sebagaimana dikutip oleh &lt;b&gt;Soehino&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Asas-asas Hukum Tata Usaha Negara&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Liberty, Bandung, h. 102-119.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref17_6287" name="_ftn17_6287"&gt;&lt;/a&gt;[17] &lt;b&gt;E. Utrecht&lt;/b&gt;, Op. cit, h. 108.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref18_6287" name="_ftn18_6287"&gt;&lt;/a&gt;[18] &lt;b&gt;E. Utrecht&lt;/b&gt;, loc. Cit.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref19_6287" name="_ftn19_6287"&gt;[19]&lt;/a&gt; &lt;b&gt;Soehino&lt;/b&gt;, Op. cit, h. 100.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref20_6287" name="_ftn20_6287"&gt;&lt;/a&gt;[20] &lt;b&gt;Bachsan Mustafa&lt;/b&gt;, Op. cit, h. 92&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref21_6287" name="_ftn21_6287"&gt;&lt;/a&gt;[21] &lt;b&gt;Bachsan Mustafa&lt;/b&gt;, Ibid, 92.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref22_6287" name="_ftn22_6287"&gt;&lt;/a&gt;[22] &lt;b&gt;E. Utrecht&lt;/b&gt;, Op. cit, h. 109.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref23_6287" name="_ftn23_6287"&gt;[23]&lt;/a&gt; E. &lt;b&gt;Utrecht&lt;/b&gt;, Ibid, h. 111.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref24_6287" name="_ftn24_6287"&gt;[24]&lt;/a&gt; Ibid, h. 110&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref25_6287" name="_ftn25_6287"&gt;[25]&lt;/a&gt; Dalam bukunya, &lt;b&gt;Utrecht&lt;/b&gt; memberikan contoh A. mengadakan perjanjian dengan B. perjanjian itu diadakan pada tanggal 1 Pebruari 1954. pada tanggal 1 april 1954 oleh hakim diadakan pembatalan ( vernietiging) perjanjian itu, karena mengandung beberapa kekurangan “essentieel” ( perjanjian itu tidak memuat beberapa essentialia) ( pasal 1320 KUH Perdata). Perjanjian itu bagi hukum dianggap tidak pernah ada, jadi, akibat perjanjian itu dengan sendirinya bagi hukum dianggap tidak pernah ada. Segala sesuatu yang karena perjanjian itu diadakan antara 1 Pebruari 1954 dan tanggal 1 April 1954 harus dihapuskan, atau dengan kata lain: status hukum kedua belah pihak pada tangal 1 april harus dikembalikan pada status hukum mereka sebelum tanggal 1 pebruari 1954, seakan-akan perjanjian itu tidak pernah diadakan. Jadi, seluruh akibat perjanjian itu dihapuskan. Oleh sebab itu “ batal” dapat juga disebut “ batal mutlak” ( absoluut nietig). &lt;b&gt;Utrecht&lt;/b&gt;&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;loc. Cit.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref26_6287" name="_ftn26_6287"&gt;[26]&lt;/a&gt; Lihat &lt;b&gt;Utrecht&lt;/b&gt;, loc.cit&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref27_6287" name="_ftn27_6287"&gt;[27]&lt;/a&gt; &lt;b&gt;E. Utrecht&lt;/b&gt;, Ibid, h. 111.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;*catatan: &lt;b&gt;Ex tunc&lt;/b&gt;, secara harfiah berarti sejak waktu ( dulu) itu, dalam konteks ini ex tunc berarti perbuatan dan akibatnya dianggap tidak pernah ada; sedang &lt;b&gt;Ex nunc&lt;/b&gt;, secara harfiah berarti sejak saat sekarang. Dalam konteks ini, ex nunc berarti perbuatan dan akibat dianggap ada sampai saat pembatalannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref28_6287" name="_ftn28_6287"&gt;[28]&lt;/a&gt; Lihat dalam &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt;, Ibid, h. 8.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref29_6287" name="_ftn29_6287"&gt;&lt;/a&gt;[29] Lihat &lt;b&gt;Philipus M Hadjon&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Tatiek Sri Djatmiati&lt;/b&gt;, Op. cit, , h. 83&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref30_6287" name="_ftn30_6287"&gt;&lt;/a&gt;[30] &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt;, et.al, Op. cit, h. 327&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="#_ftnref31_6287" name="_ftn31_6287"&gt;&lt;/a&gt;[31] &lt;b&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/b&gt;, Ibid, 327&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-7588595916847479378?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/7588595916847479378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=7588595916847479378&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/7588595916847479378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/7588595916847479378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2010/05/karakter-hukum-sertifikat-hak.html' title='KARAKTER HUKUM SERTIFIKAT HAK'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh3.ggpht.com/_iF_bLP0hzL0/S-5yqe4jgnI/AAAAAAAAAIs/uJLg9RRPnXY/s72-c/boedi%20djatmiko_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-3081699847972554578</id><published>2010-03-13T07:30:00.001-08:00</published><updated>2010-03-13T07:30:37.687-08:00</updated><title type='text'>RURAL DEVELOPMENT INSTITUTE - Home Page</title><content type='html'>&lt;a href=http://www.rdiland.org/HOME/HomeOne.html&gt;RURAL DEVELOPMENT INSTITUTE - Home Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted using &lt;a href="http://sharethis.com"&gt;ShareThis&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-3081699847972554578?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/3081699847972554578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=3081699847972554578&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/3081699847972554578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/3081699847972554578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2010/03/rural-development-institute-home-page.html' title='RURAL DEVELOPMENT INSTITUTE - Home Page'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-410306015131492984</id><published>2009-09-18T08:57:00.000-07:00</published><updated>2009-09-18T08:57:38.452-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik hukum'/><title type='text'>Pembaharuan hukum agraria di Indonesia: penyelesaian sengketa pertanahan</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;strong&gt;Dr. Boedi Djatmiko HA,SH.Mhum&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;strong&gt;1. LATAR BELAKANG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Salah satu problematik yang di hadapi pemerintah dewasa ini muncul "kembali " persoalan pertanahan/ agraria dalam wujud sengketa pertanahan yang terakumulasi dalam tindakan anarkis, seperti penjarahan dan pendudukan tanah – tanah perkebunan, perhutani, Hak Usaha Pertambangan dan Hak Pengelolaan Hutan yang terjadi di Jawa, Sumatera, kalimantan, sulawesi dan Papua yang dalam tataran hukum sangat bertentangan. Sebaliknya dalam wacana sosiologis-empiris perilaku rakyat ini dicermati sebagai manifestasi dari sikap protes ketidak adilan yang melampaui batas kesadaran mereka ( Gunawan Wiradi, 2000: hal 89) tujuannya menuntut kembalikan hak-hak yang dirampas karena saluran hukum tersumbat. Dan tampaknya sengketa / konflik pertanahan kedepan justru mungkin akan meningkat intensitasnya, ditambah upaya penanganan penyelesaiannya memberikan kesan tidak komprehensif, tidak tuntas dan sifatnya partial atau sektoral. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Fenomena diatas untuk menjawab bahwa persoalan permasalahan keagrarian / pertanahan dalam tataran politik hukum agraria di Indonesia adalah masalah yang bersifat multi dimensional, yang merupakan masalah nasional yang krusial ( Sediono MP. Tjondronegoro, 1999:3 ). Didalamnya terkait berbagai aspek juridis, sosial, ekonomi, dan keamanan. klaim dari warga setempat baik di jawa diluar Jawa atas tanah perkebunan, kehutanan, Hak Pengelolaan Hutan dan usaha pertambangan yang mengatas namakan tanah leluhur ( hak adat/ ulayat) menunjukkan keruwetan permasalahan yang ada ( Maria Rita Ruwiati, 2000)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Tanah adalah elemen terpenting dan modal negara yang dipergunakan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat, sebab dalam konteks negara Indonesia yang agraris, tanah merupakan faktor utama sumber penghidupan dan penghidupannya mayoritas rakyat " Petani" untuk itu harus diperdayakan agar tujuan kemakmuran rakyat tercapai. Petani merupakan Tolok ukur keberhasilan dan tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia. Pemberdayaan Rakyat dalam konsepsi politik hukum agraria ini tampak dengan jelas dalam Undang – Undang No. 5 tahun 1960 tentang Dasar Pokok-Pokok Agraria atau yang lebih dikenal Undang-Undang Pokok Agraria ( UUPA ). Program-program Landreform adalah salah satu aktualisasi dari perombakan struktur pemilikan dan penguasaan tanah ( Budi Harsono, 1996 : hal 287-288). Dengan kata lain UUPA merupakan instrumen hukum untuk mewujudkan struktur sosial yang lebih adil yang menghasilkan kemakmuran dan keadilan sosial ( Nur Fauzi dkk, 2000 : hal XIX ).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Sebuah hipotesa Perubahan atau pergeseran politik berpengaruh pada perubahan hukum, karena politik hukum pada hakekatnya merupakan artikulasi perkembangan aspirasi masyarakat. Aspirasi dan tuntutannya merupakan basis materiil dari politik hukum ( Margarito Kamis, 2000 : 5 ) akan tetapi bisa juga disebabkan oleh karena kebutuhan dari suatu kekuasaan. Perubahan / Pergeseran politik hukum agraria menjadi siginifikan terlihat dari pranata-pranata yang dikeluarkan dan konflik yang muncul. Undang-Undang Pokok Agraria ( UUPA ) sebagai perwujudan dari Ideologi kerakyatan yang bersifat ( neo) populistis (Endang Suhendar dan Ifdhal Kasim, 1996: hal 17) bila dicermati maka konflik yang ada / timbul mempunyai sifat &lt;em&gt;horisontal&lt;/em&gt;, antara rakyat dengan rakyat. Dalam wacana paradigma baru bersifat kapitalistis maka konflik yang timbul bersifat &lt;em&gt;vertikal&lt;/em&gt;, terjadi antara rakyat " petani" berhadapan dengan pemilik modal dalam negeri atau asing yang beraliansi strategis dan taktis dengan penguasa atau rakyat berhadapan langsung dengan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Distorsi ketidak kesepamahaman yang komprehensip dalam interpretasi konsepsi politik hukum agraria dan tujuannya dapat dilihat dari Undang-undang No. 1 tahun 1967 tentang penanaman Modal asing, Undang-Undang No. 11 tahun 1967 tentang pengusahaan pertambangan dan Undang- Undang No. 5 tahun 1967 tentang Kehutanan. Kondisi semacam ini terimplikasi pada penanganan permasalahan yang muncul tidak tertangani secara komprehensip hanya bersifat parsial atau sektoral. Bagaimana penyelesaian tanah diperkotaan, persoalan tanah terlantar yang dikuasai pengembang ( Developer), disisi lain bagaimana dengan hutan yang belum dieksploitasi oleh pengusaha hutan dan tanah yang diklaim masyarakat adat dan ulayat. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Undang-Undang No. 5 tahun 1960 merupakan produk politik hukum Agraria nasional yang lahir sarat dengan wacana historikal dan penempati posisi yang trategis dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kesejahteraan rakyat dalam bingkai negara kesatuan Indonesia. Pasal- pasal dalam UUPA tampak jelas merupakan aktualisasi konsepsi filsafat – religius dari pasal 33 ayat 3 UUD'45 dimana Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa untuk bangsa Indonesia, yang dipergunakan bagi sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. dalam konteks inilah UUPA merupakan payung bagi seluruh perundangan yang terkait dengan pengaturan di bidang keagrarian Nasional. Memang UUPA dimaksudkan sebagai landasan seluruh program-program baru perundangan Agraria dan untuk menyelaraskan situasi Agraria dan falsafah Indonesia modern ( Karl J. Pelzer, 1991:62).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Wacana yang menarik saat ini terjadinya polemik konsep menguasai Negara sentralistik dan pendelegasian wewenang dalam pengaturan keagrariaan dalam rangka Otonomi Daerah. Akibat adanya perbedaan pentafsiran, pemahaman dan kepentingan memunculkan arogansi sektoral, diperparah adanya benturan kontruksi hukum antara kedua produk hukum tersebut. Tanah identik dengan komoditi ekonomi yang menjanjikan sebagai sumber pemasukan keuangan daerah sekaligus merupakan ancaman konflik horisontal dan vertikal bahkan mengakibatkan disintegrasi bangsa jika tidak dikelola secara hati-hati. Dan sekarang sudah terjadi. Sebagai ilustrasi menarik bagaimana jadinya seandainya kabupaten Kerawang mengubah tanah pertanian menjadi Industri, maka dapat dibayangkan Indonesia akan menjadi negara pengimport beras terbesar didunia ( Lutfi I. Nasution, Wakil Kepala BPN dalam seminar di Batu Malang tanggal 21 mei 2001). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Berbagai persoalan itulah memunculkan pertanyaan tentang eksistensi UUPA. Ada sementara yang berpendapat UUPA perlu diamandir / revisi atau reformulasi ulang, karena sudah tidak bisa perespon perkembangan saat ini. Sebaliknya ada pula yang berpendapat masih responsif, justru persoalannya terletak pada kebijakan politik hukum yang dikeluarkan sebagai pelaksana UUPA yang menimbulkan masalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;strong&gt;2. RUMUSAN PERMASALAHAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Atas dasar latar belakang keadaan tersebut maka dalam studi ini penulis ingin mengadakan penelitian dengan perumusan permasalahan sebagai berikut : 1. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Bagaimanakah konsepsi dan tujuan politik hukum agraria Indonesia yang terimplementasi dalam Undang No. 5 tahun 1960 dan produk hukum peraturan perundangan yang mengatur keagrarian Nasional kita ?; 2. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Bagaimanakah bentuk dan cara penyelesaian sengketa pertanahan yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan politik hukum agraria ?; 3. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Dengan banyak terjadinya sengketa pertanahan di Indonesia, apakah produk hukum agraria perlu diperbaharui karena sudah tidak memenuhi dinamika masyarakat saat ini ?.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;strong&gt;3. TUJUAN PENELITIAN&lt;/strong&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Dari rumusan permasalahan diatas tujuan yang ingin dicapai dalam studi penelitian ini diharapkan adalah : 1. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Bertujuan untuk memperoleh gambaran yang utuh tentang perkembangan politik hukum agraria yang ada di Indonesia yang terimplementasi dalam berbagai kebijakan politik dan produk hukum yang dikeluarkan pemerintah; 2. u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;ntuk memperoleh gambaran dan data konflik-konflik agraria yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan politik hukum agraria yang tertuang dalam berbagai produk hukum dan cara penyelesaiannya; 3. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Untuk mendapatkan fakta-fakta dan data perlu tidaknya pembaharuan produk hukum agraria nasional. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;strong&gt;4. MANFAAT PENELITIAN.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kepentingan teoritis maupun praktis dan dapat dijadikan bahan masukan atau informasi lanjutan dari penelitian terdahulu tentang Politik Hukum Agraria Indonesia. disamping itu hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan kajian dalam pengambilan kebijakan pemerintah yang bersifat prepentif maupun represif yang berkaitan dengan penanganan permasalahan / konflik – konflik agraria yang timbul. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;strong&gt;5. TINJAUAN KEPUSTAKAAN.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Tinjauan kepustakaan yang dipergunakan penulis dalam penelitian ini berdasarkan kerangka dasar teori hukum murni dari &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hans Kelsen&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dimana hukum dikonsepsikan sebagai kaedah atau norma yang tersusun secara Hirarkhis dimana puncaknya disebut sebagai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;" Grundnorm "&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; ( kaedah dasar ). Kaedah dasar itu sendiri intinya bukan merupakan kaedah hukum positif akan tetapi merupakan hasil pemikiran juridis ( Surjono Sukanto, 1986: 127). Adapun tata susunan hirarkhis kaedah hukum secara umum mulai dari kaedah hukum Individu, abstrak dan akhirnya Konstitusi ( UUD ) akan tetapi bagaimana pun faktor politis, sosioogis dan filosofis mempunyai pengaruh terbentuknya kaedah / norma hukum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Selanjutnya studi tentang politik hukum agraria ini berangkat dari kerangka pemikiran dikatakan hukum merupakan produk politik yang memandang hukum sebagai formalitas atau kristalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling berinteraksi dan saling bersaing ( Moh. Mahfud, MD :1998 ; hal 7 ). Dalam beberapa literatur ilmu pengetahuan tentang politik hukum ini dimasukkan dalam salah satu obyek studi ilmu hukum ( Satjipto Rahardjo : 1982 : hal 331 ) dan didalam sistim ajaran tentang hukum yang lazim disebut sebagai disiplin hukum cakupanya adalah ilmu hukum, filasat hukum maupun politik hukum yang masing-masing dengan ruang lingkup tertentu. Pemanfaatan penggabungan ilmu hukum dengan filsafat hukum adalah politik Hukum ( Surjono Sukanto dan Sri Mamudji: 1994: hal 5). Dalam konteks ini Politik hukum berhubungan dengan pembentukan hukum ( Rechtsvorming ) dan penemuan hukum ( Rechtsvinding).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Terdapat beberapa difinisi politik hukum, antara lain seperti yang disampaikan oleh Abdul Hakim G. Nusantara bahwa Politik Hukum adalah kebijakan hukum ( Legal Policy) yang hendak diterapkan atau dilaksanakan secara Nasional oleh suatu pemerintahan Negara tertentu ( Abdurrahman, 1989 : 24 ) yang meliputi: pertama, pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan pembaruan terhadap materi-materi hukum agar sesuai dengan kebutuhan; kedua, pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada termasuk penegasan fungsi lembaga dan ketiga pembinaan para penegak hukum ( Moh. Mahfud MD, 1998:9). Berdasarkan cakupan tersebut maka penulis secara ringkas memberikan pengertian dengan tanpa mengurangi substansinya memberikan batasan difinisi Politik hukum agraria adalah Kebijakan pemerintah/ hukum ( Legal Policy ) yang akan dan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah yang tidak hanya dilihat dari sudut formal (produk-produk hukum) melainkan juga latar belakang dan proses pembuatannya, dimana politik hukum agraria di Indonesia dapat diketahui dari UUD'45 dan GBHN termasuk kebijakan – kebijakan umum yang dikeluarkan pemerintahan yang legitimate. Sedangkan kebijakan yang dikeluarkan dapat menimbulkan dampak antara lain konflik agraria.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Pengertian agraria yang penulis pergunakan untuk memberikan cakupan pengertian yang lebih luas dari pada pertanahan yang meliputi permukaan Bumi ( tanah ) dan perut bumi beserta kekayaan yang ada di dalamnya. Sehingga cakupan dalam studi dari poltik hukum agraria akan lebih luas dan mendalam dibandingkan dengan hanya pertanahan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;strong&gt;6. METODE PENELITIAN.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Dalam studi penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian normatif-historis melalui pendekatan kualitatif dengan jalan pengamatan dan studi kasus. Tujuannya penelitian melalui metode penelitian Normatif ( Legal research) guna dapat menemukan asas dan dasar filsafat hukum positif atau penemuan hukum positif ( Legal positif ) dan peraturan pelaksana ( Empirical – Regulations ) sekaligus studi historis melalui penelusuran latar belakang dan kebijakan politik yang mendasari terbentuknya produk hukum. Untuk memperoleh hasil yang maksimum maka penelitian ini melalui pendekatan kualitatif dengan jalan pengamatan gejala-gejala yang ada dan studi kasus, untuk memperoleh gambaran hasil penelitian yang mendalam dan lengkap dengan corak holistik dan memnyajikan informasi yang lebih terfocus. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Adapun bahan dasar yang dipergunakan dibangun melalui penelusuran data kepustakaan bidang hukum yang dikelompokan dalam sumber bahan primer seperti peraturan perundangan , bahan sekunder seperti buku, artikel dan karya ilmiah, sedangkan bahan tertier seperti kamus, almanak maupun buku-buku pegangan dipakai sebagai bahan rujukan untuk menunjang bahan primer dan sekunder. Bahan-bahan ini selajutnya dianalisa dan dideskripsikan guna mendapatkan hasil yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-410306015131492984?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/410306015131492984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=410306015131492984&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/410306015131492984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/410306015131492984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2009/09/pembaharuan-hukum-agraria-di-indonesia.html' title='Pembaharuan hukum agraria di Indonesia: penyelesaian sengketa pertanahan'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-5687835775477648642</id><published>2009-09-12T08:49:00.001-07:00</published><updated>2009-09-12T08:49:06.068-07:00</updated><title type='text'>Pembaharuan hukum agraria dan peneyelesaian sengketa pertanahan di Indonesia</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;a href='politikhukum%20pertanahan.blogspot.com'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:14pt'&gt;&lt;strong&gt;PEMBAHARUAN POLITIK HUKUM AGRARIA DAN PENYELESAIAN SENGKETA PERTANAHAN DI INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;Dr. Boedi Djatmiko HA,SH.Mhum&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;1. LATAR BELAKANG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Salah satu problematik yang di hadapi pemerintah dewasa ini  muncul "kembali " persoalan  pertanahan/ agraria dalam wujud sengketa pertanahan yang terakumulasi dalam  tindakan anarkis, seperti  penjarahan dan pendudukan tanah – tanah perkebunan, perhutani, Hak Usaha Pertambangan dan Hak Pengelolaan Hutan yang terjadi di Jawa, Sumatera, kalimantan, sulawesi dan Papua yang dalam tataran hukum sangat bertentangan. Sebaliknya dalam wacana sosiologis-empiris perilaku rakyat ini dicermati sebagai  manifestasi dari sikap protes ketidak adilan yang melampaui batas kesadaran mereka ( Gunawan Wiradi, 2000: hal 89) tujuannya menuntut kembalikan hak-hak  yang dirampas karena saluran  hukum tersumbat. Dan tampaknya sengketa /  konflik pertanahan kedepan justru mungkin akan meningkat intensitasnya, ditambah upaya  penanganan penyelesaiannya memberikan kesan tidak komprehensif, tidak tuntas dan sifatnya partial atau sektoral. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Fenomena diatas untuk menjawab bahwa persoalan permasalahan  keagrarian / pertanahan  dalam tataran politik hukum agraria di Indonesia adalah masalah yang bersifat multi dimensional, yang merupakan masalah nasional yang krusial ( Sediono MP. Tjondronegoro, 1999:3 ). Didalamnya terkait berbagai aspek juridis, sosial, ekonomi, dan keamanan. klaim dari warga setempat baik di jawa diluar Jawa atas tanah perkebunan, kehutanan, Hak Pengelolaan Hutan dan  usaha pertambangan yang mengatas namakan tanah leluhur ( hak adat/ ulayat) menunjukkan keruwetan permasalahan yang ada ( Maria Rita Ruwiati, 2000)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Tanah adalah elemen terpenting dan modal negara yang dipergunakan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat, sebab dalam konteks negara  Indonesia yang agraris, tanah merupakan faktor utama sumber penghidupan dan penghidupannya mayoritas rakyat " Petani" untuk itu   harus diperdayakan agar tujuan kemakmuran rakyat  tercapai. Petani merupakan  Tolok ukur keberhasilan dan tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia. Pemberdayaan Rakyat dalam  konsepsi politik hukum agraria ini tampak dengan jelas dalam Undang – Undang No. 5 tahun 1960 tentang Dasar Pokok-Pokok  Agraria atau yang lebih dikenal Undang-Undang Pokok Agraria ( UUPA ). Program-program Landreform adalah salah satu aktualisasi dari perombakan struktur pemilikan dan penguasaan tanah ( Budi Harsono, 1996 : hal 287-288). Dengan kata lain UUPA merupakan instrumen hukum untuk mewujudkan struktur sosial yang lebih adil yang menghasilkan kemakmuran dan keadilan sosial ( Nur Fauzi dkk, 2000 : hal XIX ).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Sebuah hipotesa Perubahan atau pergeseran politik berpengaruh pada perubahan hukum, karena politik hukum pada hakekatnya  merupakan artikulasi perkembangan aspirasi masyarakat. Aspirasi dan tuntutannya merupakan basis materiil dari politik hukum ( Margarito Kamis, 2000 : 5 ) akan  tetapi bisa juga disebabkan oleh  karena kebutuhan dari suatu kekuasaan. Perubahan /  Pergeseran politik hukum agraria menjadi siginifikan terlihat dari pranata-pranata yang dikeluarkan dan konflik yang muncul. Undang-Undang Pokok Agraria ( UUPA ) sebagai perwujudan dari Ideologi kerakyatan yang bersifat ( neo) populistis (Endang Suhendar dan Ifdhal Kasim, 1996: hal 17) bila dicermati maka  konflik yang ada / timbul mempunyai sifat &lt;em&gt;horisontal&lt;/em&gt;, antara rakyat dengan rakyat. Dalam wacana  paradigma baru bersifat kapitalistis  maka  konflik yang timbul bersifat  &lt;em&gt;vertikal&lt;/em&gt;, terjadi antara rakyat   " petani"  berhadapan dengan pemilik modal dalam negeri atau asing yang beraliansi strategis dan taktis dengan penguasa atau rakyat berhadapan langsung dengan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Distorsi ketidak kesepamahaman yang  komprehensip  dalam interpretasi konsepsi politik hukum agraria dan tujuannya dapat dilihat dari Undang-undang No. 1 tahun 1967 tentang penanaman Modal asing, Undang-Undang No. 11 tahun 1967 tentang pengusahaan pertambangan dan Undang- Undang No. 5 tahun 1967 tentang Kehutanan. Kondisi semacam ini terimplikasi pada penanganan permasalahan yang muncul  tidak tertangani secara komprehensip hanya bersifat parsial atau sektoral. Bagaimana penyelesaian tanah diperkotaan, persoalan tanah terlantar yang dikuasai pengembang ( Developer), disisi lain bagaimana dengan hutan yang belum dieksploitasi oleh pengusaha hutan dan tanah yang diklaim masyarakat adat dan ulayat.      &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt; Undang-Undang No. 5 tahun 1960 merupakan produk politik hukum Agraria nasional yang lahir sarat dengan wacana historikal dan penempati posisi yang trategis dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kesejahteraan rakyat dalam bingkai negara kesatuan Indonesia. Pasal- pasal dalam UUPA tampak jelas merupakan aktualisasi  konsepsi filsafat – religius   dari pasal 33 ayat 3 UUD'45 dimana Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa untuk bangsa Indonesia, yang dipergunakan bagi sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. dalam konteks inilah  UUPA merupakan payung bagi seluruh perundangan yang terkait dengan pengaturan di bidang keagrarian Nasional. Memang UUPA dimaksudkan sebagai landasan seluruh program-program baru perundangan Agraria dan untuk menyelaraskan situasi Agraria dan falsafah Indonesia modern ( Karl J. Pelzer, 1991:62).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Wacana yang menarik saat ini terjadinya polemik konsep menguasai Negara sentralistik dan pendelegasian wewenang dalam pengaturan keagrariaan dalam rangka Otonomi Daerah. Akibat adanya perbedaan pentafsiran, pemahaman dan kepentingan memunculkan arogansi sektoral, diperparah adanya benturan kontruksi hukum antara kedua produk hukum tersebut. Tanah identik dengan komoditi ekonomi yang  menjanjikan sebagai sumber pemasukan keuangan daerah sekaligus merupakan ancaman konflik horisontal dan vertikal bahkan mengakibatkan disintegrasi bangsa jika tidak dikelola secara hati-hati. Dan sekarang sudah terjadi.  Sebagai ilustrasi menarik bagaimana jadinya seandainya kabupaten Kerawang mengubah tanah pertanian menjadi Industri, maka dapat dibayangkan Indonesia akan menjadi negara pengimport beras terbesar didunia ( Lutfi I. Nasution,  Wakil Kepala BPN dalam seminar di Batu Malang tanggal 21 mei 2001). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Berbagai persoalan itulah memunculkan pertanyaan tentang eksistensi UUPA. Ada sementara yang berpendapat UUPA perlu diamandir / revisi atau reformulasi ulang, karena sudah tidak bisa perespon perkembangan saat ini. Sebaliknya ada pula yang berpendapat masih responsif, justru persoalannya terletak pada kebijakan politik hukum yang dikeluarkan sebagai pelaksana UUPA yang menimbulkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;2. RUMUSAN PERMASALAHAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Atas dasar latar belakang keadaan tersebut maka dalam studi ini penulis ingin mengadakan penelitian dengan perumusan permasalahan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Bagaimanakah  konsepsi dan  tujuan  politik hukum agraria Indonesia yang terimplementasi dalam Undang No. 5 tahun 1960 dan  produk hukum peraturan perundangan yang mengatur keagrarian Nasional kita ?.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Bagaimanakah bentuk dan cara penyelesaian  sengketa pertanahan yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan politik hukum agraria  ?.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Dengan banyak terjadinya sengketa pertanahan di Indonesia, apakah produk hukum agraria perlu diperbaharui karena sudah tidak memenuhi dinamika masyarakat saat ini ?.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;TUJUAN PENELITIAN&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Dari rumusan permasalahan diatas  tujuan yang ingin dicapai dalam studi penelitian ini diharapkan adalah :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Bertujuan untuk memperoleh gambaran yang utuh tentang perkembangan politik hukum agraria yang ada di Indonesia yang terimplementasi dalam berbagai kebijakan politik dan produk hukum yang dikeluarkan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Untuk memperoleh gambaran dan data konflik-konflik agraria yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan politik hukum agraria yang tertuang dalam berbagai produk hukum dan cara penyelesaiannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Untuk mendapatkan fakta-fakta dan data perlu tidaknya pembaharuan produk hukum agraria nasional.    &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;3. MANFAAT PENELITIAN.&lt;/strong&gt;     &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;    Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kepentingan teoritis maupun praktis dan dapat dijadikan bahan masukan atau informasi lanjutan dari penelitian terdahulu tentang Politik Hukum Agraria Indonesia. disamping itu hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan kajian dalam pengambilan kebijakan pemerintah yang bersifat prepentif maupun represif yang berkaitan dengan penanganan permasalahan / konflik – konflik agraria yang timbul.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;TINJAUAN KEPUSTAKAAN.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;				&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Tinjauan kepustakaan yang dipergunakan penulis dalam penelitian ini berdasarkan kerangka dasar teori hukum murni dari  &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hans Kelsen&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  dimana hukum dikonsepsikan sebagai   kaedah atau norma yang tersusun  secara Hirarkhis dimana puncaknya disebut sebagai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;" Grundnorm "&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;        ( kaedah dasar ). Kaedah dasar itu sendiri intinya  bukan merupakan kaedah hukum positif akan tetapi merupakan hasil pemikiran juridis          ( Surjono Sukanto, 1986: 127). Adapun  tata susunan hirarkhis kaedah hukum secara umum mulai dari kaedah hukum Individu, abstrak dan akhirnya Konstitusi ( UUD ) akan tetapi bagaimana pun faktor politis, sosioogis dan filosofis mempunyai pengaruh terbentuknya  kaedah / norma hukum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Selanjutnya studi tentang politik hukum agraria ini berangkat dari kerangka pemikiran dikatakan hukum merupakan  produk politik yang memandang hukum sebagai formalitas atau kristalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling berinteraksi dan saling bersaing ( Moh. Mahfud, MD :1998 ; hal 7 ). Dalam beberapa literatur ilmu pengetahuan tentang politik hukum ini dimasukkan dalam  salah satu obyek studi ilmu hukum ( Satjipto Rahardjo : 1982 : hal 331 ) dan didalam sistim ajaran tentang hukum yang lazim disebut sebagai disiplin hukum cakupanya  adalah  ilmu hukum, filasat hukum maupun politik hukum yang masing-masing dengan ruang  lingkup tertentu. Pemanfaatan penggabungan ilmu hukum dengan filsafat hukum adalah politik Hukum ( Surjono Sukanto dan Sri Mamudji: 1994: hal 5). Dalam konteks  ini Politik hukum berhubungan dengan pembentukan hukum ( Rechtsvorming ) dan penemuan hukum  ( Rechtsvinding).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Terdapat beberapa difinisi politik hukum, antara lain seperti yang disampaikan oleh Abdul Hakim G. Nusantara  bahwa Politik Hukum adalah  kebijakan hukum ( Legal Policy) yang hendak diterapkan atau dilaksanakan secara Nasional oleh suatu pemerintahan Negara tertentu ( Abdurrahman, 1989 : 24 ) yang meliputi:  pertama, pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan pembaruan terhadap materi-materi hukum agar sesuai dengan kebutuhan; kedua, pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada termasuk penegasan fungsi lembaga dan ketiga pembinaan para penegak hukum ( Moh. Mahfud MD, 1998:9). Berdasarkan cakupan tersebut maka penulis secara ringkas memberikan pengertian dengan tanpa mengurangi substansinya memberikan batasan difinisi Politik hukum agraria adalah Kebijakan pemerintah/ hukum  ( Legal Policy ) yang akan dan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah yang tidak hanya dilihat dari sudut formal (produk-produk hukum) melainkan juga latar belakang dan proses pembuatannya, dimana politik hukum agraria di Indonesia dapat diketahui dari UUD'45 dan GBHN termasuk kebijakan – kebijakan umum yang dikeluarkan pemerintahan yang legitimate. Sedangkan kebijakan yang dikeluarkan dapat menimbulkan dampak antara lain konflik agraria.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Pengertian agraria yang penulis pergunakan untuk memberikan cakupan pengertian yang lebih luas dari pada pertanahan yang meliputi permukaan Bumi ( tanah ) dan  perut bumi beserta kekayaan yang ada di dalamnya. Sehingga cakupan dalam studi dari poltik hukum agraria akan lebih luas dan mendalam dibandingkan dengan hanya pertanahan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;&lt;strong&gt;METODE PENELITIAN.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Dalam studi penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian normatif-historis melalui pendekatan kualitatif dengan jalan pengamatan dan studi kasus. Tujuannya  penelitian melalui metode penelitian Normatif ( Legal research) guna dapat menemukan asas dan dasar filsafat hukum positif atau penemuan hukum positif ( Legal positif ) dan peraturan pelaksana ( Empirical – Regulations ) sekaligus studi historis melalui penelusuran latar belakang dan kebijakan politik yang mendasari terbentuknya produk hukum. Untuk memperoleh hasil yang maksimum maka penelitian ini melalui pendekatan kualitatif dengan jalan pengamatan gejala-gejala yang ada dan studi kasus, untuk memperoleh gambaran hasil penelitian yang mendalam dan lengkap dengan corak holistik dan memnyajikan informasi yang lebih terfocus. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Tahoma; font-size:12pt'&gt;Adapun bahan dasar  yang dipergunakan dibangun melalui penelusuran data kepustakaan bidang hukum yang dikelompokan dalam sumber bahan primer seperti peraturan perundangan , bahan sekunder seperti buku, artikel dan karya ilmiah, sedangkan bahan tertier seperti kamus, almanak maupun buku-buku pegangan dipakai sebagai bahan rujukan untuk menunjang bahan primer dan sekunder. Bahan-bahan ini selajutnya dianalisa dan dideskripsikan guna mendapatkan hasil yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-5687835775477648642?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/5687835775477648642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=5687835775477648642&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/5687835775477648642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/5687835775477648642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2009/09/pembaharuan-hukum-agraria-dan.html' title='Pembaharuan hukum agraria dan peneyelesaian sengketa pertanahan di Indonesia'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-1035129583743304450</id><published>2009-09-05T12:56:00.001-07:00</published><updated>2009-09-10T10:11:45.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Disertasi'/><title type='text'>Sistem pendaftaran tanah</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dr. Boedi Djatmiko HA,SH,Mhum.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sistem pendaftaran tanah, bahwa didunia ini dikenal ada dua model atau jenis pendaftaran tanah , yaitu: pertama, disebut dengan model pendaftaran akta atau " &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;registration of deeds&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;" yang oleh beberapa penulis menggunakan istilah pendaftaran tanah dengan stelsel negatif atau pendaftaran tanah negatif dan kedua,  pendaftaran hak atau  "&lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;registration of title&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;", dimana lazim pula disebut dengan nama " pendaftaran dengan stelsel positif" ataupun seringkali disebut " &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;system Torrens&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;". Hal ini diungkapkan oleh Rowtow Simpton, menyebutkan:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;" &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;… some writers do not use our terminology of registration of deed and registration of title, but distinguish between negative and positive system of registration.&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kedua system pendaftaran tanah ini  mempunyai perbedaan – persamaan  dan kelebihan - kekurangan satu dengan yang lainnya. Secara umum perbedaan terlihat pada wujud dokumen formal yang dipergunakan sebagai instrument atau alat pembuktian kepemilikan hak atas tanah. Wujud dokumen formal dalam system pendaftaran tanah dengan stelsel negative  sebutannya adalah " akta " kepemilikan sedang wujud dokumen dalam model pendaftaran tanah dengan stelsel positif sebutannya adalah berupa " sertipikat" hak. Kedua wujud atau bentuk formal dari kedua model tersebut secara yuridis sangat berpengaruh terhadap eksistensi kekuatan hukum dari hak  kepemilikan hak atas tanah. Khusus untuk pendaftaran tanah akta para penulis di Indonesia lebih lazim menggunakan terminology sistem pendaftaran negative atau stelsel negative untuk penyebutan sistem pendaftaran akta, seperti Abdurrahman, AP. Parlindungan, demikian juga Boedi Harsono, lebih cenderung menggunakan istilah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Gambar 1. Skema pendaftaran tanah&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;b&gt;Sumber: diolah dari buku Robert TJ. Stein dan Margaret A. Stone, Torrens Title; dan S. Rowton Simpton, Land Law and Registration.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pada hakekatnya kedua lembaga pendaftaran tanah baik yang positif maupun negatif ada persamaan karakter yuridisnya yaitu:  kedua model atau jenis ini merupakan sebutan lain dari "pendaftaran hak atas tanah" untuk kepentingan individual pemegang hak dengan tujuan untuk memberikan kepastian hak dan keamanan hukum bagi pemilik bidang tanah yang diselenggarakan oleh Negara. Sebagaimana diungkapkan oleh  Boedi Harsono,  bahwa Setiap pendaftaran tanah baik dalam sistem pendaftaran akta maupun hak, tiap pemberian atau menciptakan hak baru serta pemindahan hak baru dan pembebanannya dengan hak lain kemudian, harus dibuktikan dengan suatu akta. Dalam akta tersebut dengan sendirinya dimuat data yuridis tanah yang bersangkutan, perbuatan hukumnya, haknya, penerima haknya, hak apa yang dibebankan.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Karakter yuridis yang spesifik dari sistem pendaftaran akta ( &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;Registration of deeds&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;) atau sistem pendaftaran negatif ini adalah bahwa dokumen tertulis atau akta yang dibuat oleh para pihak ( pemilik yang mengalihkan ) yang dilakukan atas bantuan pejabat umum yang berwenang (  seperti Notaris atau pejabat lain seperti ahli hukum ) didaftarkan kepada pejabat yang diberikan wewenang untuk itu agar dicatatkan haknya sebagai pemegang hak atas tanah yang baru, dan oleh pejabat pencatat tersebut dicatatkan dalam register ( pencatatan buku tanah ), tanpa melakukan penelitian atas kebenaran akta atau dokumen tertulis yang diserahkan. Kelebihan dari sistem pendaftaran tanah akta ini adalah  adanya jaminan yang diberikan kepada pemilik yang sebenarnya, dengan kata lain bahwa kesempatan bagi pemilik atau yang berhak atas sebidang tanah untuk mengadakan perlawanan atau tuntutan hukum terhadap pihak-pihak lain yang telah mendaftarkan bidang tanah tersebut. Hal mana tuntutan atau klaim atas bidang tanah tersebut melalui peradilan dengan alat bukti yang menunjukkan  memang yang lebih berhak. Sebaliknya bahwa dalam system pendaftaran dengan stelsel negative ( akta ) dapat diketemukan beberapa kelemahan yang oleh beberapa pakar dinilai mendasar. Adapun kelemahannya antara lain  adalah:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dalam sistem pendaftaran akta lebih merefleksikan adanya ketidak adanya jaminan kepastian hak dan hukum bagi mereka pemegang hak atas tanah dan bagi mereka beretiket baik atas sebidang tanah yang didaftarkannya. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sifat pasif dari pejabat pendaftaran tanah. Artinya bahwa pejabat pendaftaran tanah tidak melakukan pengujian kebenaran data ( &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;akta&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt; ) yang disampaikan oleh pemohon, sehingga posisi hukum menjadi lemah.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dalam sistem pendaftaran akta ini kekuatan hukum akte yang didaftarkan tidak mempengaruhi kekuatan hukum akta lainnya. Bahwa pendaftaran akte hanyalah penetapan sekala prioritas sebagai referensi waktu saat ( tanah ) tersebut didaftarkan dan bukan waktu untuk pelaksanaannya. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bahwa suatu akta bukanlah bukti hak, namun hanyalah menunjukan adanya pencatatan selesainya transaksi dan beralihnya benda yang ditransaksikan. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Robert TJ. Stein menyatakan bahwa kelemahan dari system pendafataran yang negative ini antara lain adalah: &lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pertama, dokumen yang dibuat oleh ahli hukum yang tujuannya untuk mengalihkan suatu hak atas tanah dibangun sesuai dengan ketentuan hukum dan hubungan hukumnya, untuk menjamin bahwa suatu kepentingan hukum atas tanah yang diperolehnya hanya bisa jika sipemilik mempunyai hak dan kemampuan untuk mengalihkan. Suatu akta menjadi tidak valid apabila terdapat pemalsuan atau karena menyalahi peraturan sehingga peralihan tersebut tidak mempunyai pengaruh apa-apa; kedua,  adanya kesulitan memahami dokumen-dokumen lama yang dibuat ( sebelumnya) dari sebuah rangkaian hak-hak terdahulu karena adanya perubahan penggunaan bahasa dan formatnya; ketiga, pendaftaran akta ini rawan dari kesalahan dan pemalsuan; keempat, dalam sistem pendaftaran akte ini ketidak pedulian akan penelitian padahal hal tersebut diperlukan untuk melacak rangkaian hak-hak yang ada sebelumnya, dimana pelacakan tersebut membutuhkan biaya yang besar , tenaga dan menyita waktu, kadang dibutuhkan tenaga yang profesional yang mahal. Dalam hal jual beli dan jaminan, membutuhkan setidaknya dua pengujian yang dilakukan seperti oleh penasehat hukum pembeli dan oleh penasehat hukum penjaminan. Selajutnya masalah lewat waktu bisa memunculkan masalah dimana dokumen-dokummen hak mungkin bukan pemilik terakhir, sehingga mereka bisa saja salah,  pada saat hak tersebut dialihkan; kelima, diperlukan kemampuan khusus yang disyaratkan untuk membangun suatu rangkaian hak; keenam, kompleksitas yang mengalir dari suatu pertumbuhan rangkaian hak termasuk pembagian hak yang asli dari pemilik-pemilik kemudian; pertimbangan tempat penyimpanan dokumen-dokumen yang relevan dari setiap perjanjian untuk hak; ketujuh, kemungkinan adanya kesalahan. Dengan kata lain Jaminan terhadap pemilik atau pemegang hak atas tanah sifatnya tidak mutlak, masih bisa dibantah atau dipertanyakan, inilah merupakan ciri pokok  dari pendaftaran sistem negative.  &lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sebaliknya, pertanyaan selanjutnya adalah lalu bagaimana dengan Sistem pendaftaran hak ( &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;registration of title&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;) atau sistem stelsel positif atau sistem Torrens ( &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;Torrens System&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt; ).&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bahwa sistem pendaftaran ini merupakan perbaikan atau penyempurnaan atas sistem pendaftaran sebelumnya. Sistem ini merupakan suatu pencatatan hak baik pencatatannya maupun penyimpanannya menjadi kewenangan dari lembaga publik.Karakter yuridis yang spesifik dari sistem pendaftaran positif, ini adalah bahwa:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bidang tanah yang didaftarkan menurut sistem ini dianggap belum ada haknya. Hak baru akan lahir setelah dilakukan pengujian atau penelitian dan diumumkan. Seperti yang dikemukakan oleh Stein bahwa dalam pendaftaran hak ini hak hanya dapat diperoleh melalui atau pada saat dilakukan pendaftaran atau tercatat dalam register.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Negara memberikan jaminan penuh bagi pemegang haknya yang tercatat ( terdaftar ) dalam daftar umum terhadap tuntutan – tuntutan atau claim pihak ketiga atau siapapun. Jaminan kerugian dari Negara bagi pemilik yang mungkin dirugikan atau adanya kekeliruan atau kesalahan dalam pendaftaran haknya bersifat " &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;Indefeasible&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;". Atau menurut Eugene C. Massie bersifat  &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;absolute&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt; dan tidak dapat diganggu gugat.  Setidaknya ada 3 ( tiga ) jaminan keamanan bagi tanah yang terdaftar yakni: pertama, berkaitan dengan bendanya (&lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;property&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt; ) atau tanahnya yang terdaftar ( &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;the property register&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;); kedua, berkaitan dengan kepemilikan atau penguasaannya ( &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;the proprietorship register&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;); ketiga, berkaitan dengan jaminan hak-hak yang ada ( &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;the charges register&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;). &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dalam sistem pendaftaran tanah positif ini pejabat yang diberikan kewenangan melakukan pendaftaran bersifat aktif. Merupakan konsekuensi logis dari adanya jaminan Negara hak yang terbit tidak lagi dapat diganggu gugat, tidak ada tuntutan pihak-pihak lain yang merasa berhak atas bidang tanah yang didaftarkan tersebut. untuk itu maka adanya pejabat yang disebut " &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;Barister and Conveyancer&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;" yang dikenal sebagai pejabat penguji atau peneliti yang disebut " &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;examiner of title&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt; ( pemeriksa alas hak). dalam PP No. 10 tahun 1961 disebut sebagai Panitya A atau B, atau semacam panitya Ajudikasi dalam PP No. 24 tahun 1997. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dalam sistem pendaftaran hak ini negara memberikan jaminan dana kompensasi apabila ternyata terdapat kesalahan prosedur dalam pendaftarannya yang mengakibatkan kerugian bagi pihak yang mungkin lebih berhak. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dalam sistem pendaftaran positif ini adalah diterbitkannya tanda bukti sekaligus alat bukti yang diberikan kepada pemegang hak atas tanah yang didaftarkan yaitu berupa " sertifikat hak atas tanah" atau " &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;sertificate of title&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;". &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tidak ada satu pun didunia ini yang sempurna, demikian juga dengan system pendaftaran tanah yang positif ini. Sisi lemah dari sistem pendaftaran tanah positif ini antara lain: &lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pertama, bahwa setiap pendaftaran hak dan peralihan hak dalam sistem positif ini memerlukan pemeriksaan yang sangat teliti dan seksama sebelum orang tersebut didaftarkan sebagai pemilik dalam daftar ini. Disini para petugas pendaftaran harus memainkan peranan yang sangat aktif disamping peralatan yang cukup. Mereka harus meneliti apakah hak yang akan didaftar / dipindahkan tersebut dapat didaftarkan, dan mengenai segala persyaratan formil yang harus dipenuhi oleh orang yang akan mendaftarkan haknya; &lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kedua, dalam sistem pendaftaran positif ini, karena peran aktif dari petugas dalam hal penelitian secara terinci membutuhkan dan menyebabkan memakan waktu lama serta panjang, sehingga menimbulkan kesan dipersulit;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sistem ini sangat merugikan bagi mereka para pihak yang benar-benar berhak. Bagi mereka yang berhak, tidak menutup kemungkinan akan tetap kehilangan hak atas sebidang tanah atas suatu putusan yang jelas dimenangkan mereka akan tetapi akan tetap kehilangan haknya diluar perbuatannya dan diluar kesalahannya;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;keempat, dalam penyelesaian persoalan maka segala apa yang sebenarnya menjadi wewenang Pengadilan ditempatkan dibawah kekuasaan administrative. &lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Gambar 2. Tabel Kelebihan dan kelemahan sistem pendaftaran tanah&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;table border="0" style="border-collapse: collapse; text-align: justify;"&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style="width: 19px;"&gt;&lt;/col&gt;&lt;col style="width: 120px;"&gt;&lt;/col&gt;&lt;col style="width: 204px;"&gt;&lt;/col&gt;&lt;col style="width: 200px;"&gt;&lt;/col&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign="top"&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: solid 0.5pt; border-right: solid 0.5pt; border-top: solid 0.5pt; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;No&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: none; border-right: solid 0.5pt; border-top: solid 0.5pt; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;KELEBIHAN/ KELEMAHAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: none; border-right: solid 0.5pt; border-top: solid 0.5pt; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;PENDAFTARAN AKTA/ NEGATIVE&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: none; border-right: solid 0.5pt; border-top: solid 0.5pt; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;PENDAFTARAN  HAK/ POSITIF&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: solid 0.5pt; border-right: solid 0.5pt; border-top: none; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: none; border-right: solid 0.5pt; border-top: none; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Kelebihan &lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: none; border-right: solid 0.5pt; border-top: none; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Karakter yang spesifik adalah adanya " akte " sebagai bukti kepemilikan hak atas tanah dan peralihan hak.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Adanya jaminan hukum yang diberikan kepada pihak yang sebenarnya  lebih berhak&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: none; border-right: solid 0.5pt; border-top: none; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Karakter spesifik dari sistem pendaftarannya  adalah adanya " sertifikat hak atas tanah" yang diterbitkan sebagai tanda bukti dan alat pembuktian hak atas tanah.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Hak kepemilikan atas tanah tercipta atau lahir setelah dilakukan pendaftaran haknya. &lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Negara memberikan Jaminan penuh bagi pemegang hak atas tanah yang terdaftar terhadap tuntutan pihak manapun           ( indefeasible)&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Adanya jaminan konpensasi apabila terdapat kesalahan/ kekeliruan prosedur.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: solid 0.5pt; border-right: solid 0.5pt; border-top: none; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;2&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: none; border-right: solid 0.5pt; border-top: none; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Kelemahan &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: none; border-right: solid 0.5pt; border-top: none; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Tidak adanya kepastian hukum dan hak bagi pemegang kepemilikan hak atas tanah.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Terhadap akte yang didaftarkan tidak dilakukan pengujian kebenarannya sehingga posisi hukumnya menjadi lemah.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Bahwa akte yang didaftarkan hanyalah referensi waktu bidang tanah didaftarkan&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-bottom: solid 0.5pt; border-left: none; border-right: solid 0.5pt; border-top: none; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Membutuhkan waktu yang lama dalam rangka penerbitan hak atas tanahnya.                    ( inventarisasi, penelitian, dan pengumuman ).&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Merugikan pihak-pihak atau pemilik yang yang sebenarnya berhak atas tanah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Persoalan sengketanya menjadi persoalan administrasi. &lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan hukumnya kemudian adalah model sistem pendaftaran tanah yang mana yang dipergunakan di Indonesia. Jawabannya seharusnya adalah Bilamana mencermati ketentuan hukum yang berlaku ( PP No. 10 tahun 1961 yo. PP No. 24 tahun 1997 ) dengan menunjuk bahwa dokumen formal kepemilikan hak atas tanah sesuai ketentuan hukum tersebut berupa sertipikat hak maka dapat disimpulkan ( sementara ) bahwa Sistem pendaftaran tanah di Indonesia seharusnya mendasarkan pada system pendaftaran dengan stelsel positif, karena memang ciri atau karakter khas dari sistem pendaftaran tanah ini  adalah adanya sertipikat sebagai alat bukti hak kepemilikan atas tanah. dan terlebih lagi seluruh urutan prosedur dan mekanisme yang diatur dalam peraturan perundang-undangan kita menuju kepada aturan hukum pada system pendaftaran tanah dengan model system stelsel positif. Namun demikian jika kita mencermati yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia ( MARI ) secara tegas menyatakan bahwa pendaftaran tanah kita menganut model stelsel negative.  Salah satu yurisprudensi tersebut dapat dibaca dalam Putusan MARI No. Reg. 459 K / Sip / 1975, tanggal 18 September 1975, menyatakan bahwa:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mengingat stelsel negative tentang register / pendaftaran tanah yang berlaku di Indonesia, maka terdaftarnya nama seseorang didalam register bukanlah berarti absolute menjadi pemilik tanah tersebut apabila ketidakabsahannya dapat dibuktikan oleh pihak lain (seperti halnya dalam perkara ini). &lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Pendaftaran Tanah di Indonesia adalah menganut sistem negatif, Namun berkarakter stelsel yuridis sistem pendaftaran positif sangat terlihat. Karakter positif  tersebut dapat dilihat antara lain:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Adanya panitya pemeriksaan tanah "&lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;barrister and conveyancer&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;" yang disebut panitya A dan B yang tugasnya melakukan pengujian dan penelitian " &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;examiner of title&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;". dari penelitian tersebut maka akan dilakukan pengujian dan menyimpulkan bahwa setidaknya berisi: pertama, lahan atau bidang tanah yang diajukan permohonan pendaftaran adalah dalam keadaan baik dan jelas; kedua, bahwa atas permohonan tersebut tidak ada sengketa dalam kepemilikannya; ketiga, bahwa atas kenyakinan panitya permohonan tersebut dapat diberikan; keempat, bahwa terhadap alat bukti yang dijadikaan alas hak untuk pengajuan pendaftaran tidak ada orang yang berprasangka dan keberatan terhadap kepemilikan pemohon tersebut. tujuannya untuk menjamin kepastian hukum tanah yang didaftarkan ( pasal 19 UUPA). Boedi Harsono menyebut sebagai Sistem negatif tendens positif.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Model karakter positif yang terlihat dalam ketentuan Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1997, antara lain: a. PPAT diberikan tugas untuk meneliti secara material dokumen-dokumen yang diserahkan dan berhak untuk menolak pembuatan akta; b. pejabat yang berwenang ( petugas ) berhak menolak  melakukan pendaftaran jika pemilik tidak wewenang mengalihkan haknya; c. Pemerintah menyediakan model – model akta untuk memperlancar  mekanisme tugas-tugas PPAT.&lt;/b&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/sup&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Adanya sertifikat hak atas tanah yang diterbitkan, sebagai tanda bukti dan alat pembuktian hak kepemilikan atas tanah.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bentuk karakter negatif dinyatakan secara tegas dalam penjelasan pasal 32 PP No. 24 tahun 1997 yang menyatakan bahwa pendaftaran tanah diselenggarakan tidak menggunakan sistem publikasi positif, namun negatif. Karakter negatif muncul karena tidak adanya kompensasi yang diberikan apabila terjadi kesalahan atau kekeliruan dalam rangka penerbitan sertifikat hak atas tanahnya.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sistem pendaftaran negatif merupakan warisan masa lalu yang berlangsung sampai saat ini. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda pendaftaran tanah dilakukan untuk tanah-tanah yang tunduk terhadap hukum barat ( Belanda ) yang dilaksanakan oleh yang namanya Kantor Kadaster ( Kantor Pertanahan ). Sesuai dengan tugas dari Kantor Kadaster dalam melaksanakan kegiatan pendaftaran pada waktu itu, pendaftaran tanahnya berdasarkan Stbl. 1824 No. 27 jo. 1947 No. 53, dimana perjanjian &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;obligatoir&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt; peralihan hak dilaksanakan dengan segala bukti tertulis, akta Notaris, ataupun  dibawah tangan yang disaksikan Notaris dan kemudian oleh Kepala Kantor Kadaster yang merupakan seorang Pegawai Balik Nama ( &lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;Overschrijvingsambtenaar&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;) beserta salah seorang pegawainya membuatkan akte peralihannya. Baru didaftarkan pada daftar yang bersangkutan setelah kewajiban – kewajiban pembayaran dilakukan lebih dahulu. Perubahan  yuridis baru setelah Negara kita merdeka dan setelah dikeluarkannya undang-undang pokok agraria ( UUPA) beserta peraturan pelaksaannya sebagai pengganti atau mencabut ketentuan perundangan sebelumnya yang dikeluarkan oleh pemerintah hindia Belanda terutama yang berhubungan dengan tanah, seperti pencabutan ketentuan yang diatur dalam buku II BW ( burgelijk Wetboek ) khusus yang mengatur mengenai tanah. tanda bukti kepemilikan hak atas tanah yang berwujud   Sertipikat baru muncul setelah terbitnya UUPA ( pasal 19 UUPA ) yang ditindak lanjuti oleh PP. No. 10 tahun 1961 dan selanjutnya  digantikan oleh PP. No. 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. &lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Gambar 3. Skema kegiatan pendaftaran tanah PP No. 24 tahun 1997&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan akhir, bahwa dari uraian jabaran sebagaimana tersebut diatas maka apabila melihat konstruksi hukum dari system pendaftaran  tanah di Indonesia dapat disimpulkan adalah model atau jenis system pendaftaran tanah yang berkarakter stelsel positif minus konpensasi.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-1035129583743304450?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/1035129583743304450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=1035129583743304450&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/1035129583743304450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/1035129583743304450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2009/09/sistem-pendaftaran-tanah_05.html' title='Sistem pendaftaran tanah'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-1036988340231618441</id><published>2009-09-04T12:37:00.001-07:00</published><updated>2009-09-04T12:43:23.932-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Disertasi'/><title type='text'>Karakter hukum keputusan PTUN</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Dr. Boedi Djatmiko HA, SH.M.hum&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Didalam ilmu hukum bahwa suatu "keputusan" dikatakan sah menurut hukum ( &lt;em&gt;rechsmatig &lt;/em&gt;) apabila keputusan tersebut memenuhi persyaratan tertentu yang ditentukan oleh hukum. Dengan dipenuhinya persyaratan yang ditentukan oleh hukum maka keputusan tersebut mempunyai kekuatan hukum ( &lt;em&gt;rechtskrach&lt;/em&gt; ) untuk dilaksanakan. sebaliknya apabila suatu keputusan tersebut tidak memenuhi persyaratan maka menurut hukum ketetapan atau keputusan tersebut menjadi " &lt;strong&gt;tidak sah&lt;/strong&gt;" yang berakibat hukum menjadi " batal" ( &lt;em&gt;nietig &lt;/em&gt;). Menurut &lt;strong&gt;Van der Pot&lt;/strong&gt;, ada 4 syarat yang harus di penuhi agar ketetapam administrasi sebagai ketetapan sah dan apabila salah satunya tidak dipenuhi dapat menimbulkan akibat bahwa ketetapan administrasi tersebut menjadi ketetapan tidak sah: 1. &lt;em&gt;bevoedgheid&lt;/em&gt; ( kewenangan ) organ administrasi yang membuat keputusan; 2. &lt;em&gt;geen juridische gebreken in de wilsvorming &lt;/em&gt;( tidak ada kekurangan yuridis dalam pembentukan kehendak ); 3. &lt;em&gt;vorm&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;procedure&lt;/em&gt; yakni keputusan dituangkan dalam bentuk yang telah diketapkan dan dibuat menurut tata cara yang telah ditetapkan; Isi dan tujuan keputusan sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasar. &lt;strong&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/strong&gt; mengutarakan wewenang, prosedur dan substansi, ketiga aspek hukum merupakan landasan hukum untuk dapat dikatakan suatu ketetapan atau keputusan tersebut sah. &lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, aspek wewenang dalam hal ini artinya bahwa pejabat yang mengeluarkan ketetapan tersebut memang mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk itu; &lt;strong&gt;kedua&lt;/strong&gt;, aspek prosedur, berarti bahwa ketetapan atau keputusan tersebut dikeluarkan sesuai dengan tatacara yang disyaratkan dan bertumpu kepada asas keterbukaan pemerintah; &lt;strong&gt;ketiga,&lt;/strong&gt; aspek substansi, artinya menyangkut obyek ketetapan atau keputusan tidak ada " &lt;em&gt;Error in re&lt;/em&gt;".  selanjutnya dijelaskan bahwa istilah keabsahan adalah terjemahan dari istilah Belanda " &lt;em&gt;rechtmatigheid&lt;/em&gt;" ( &lt;em&gt;van bestuur&lt;/em&gt;). &lt;em&gt;Rechtmatigheid&lt;/em&gt; = legalitas = &lt;em&gt;legality&lt;/em&gt;. Ruang lingkup keabsahan meliputi : 1. wewenang; 2. prosedur; 3. Substansi. Butir 1 dan 2 ( wewenang dan substansi ) merupakan landasan bagi legalitas formal. Atas dasar legalitas formal lahirlah asas &lt;em&gt;presumptio iustae causa&lt;/em&gt;. Atas dasar asas itulah ketentuan pasal 67 ayat (1) UU. No. 5 Th. 1986 menyatakan: Gugatan tidak menunda atau menghalangi dilaksanakannya Keputusan Badan atau Tata Usaha negara serta tindakan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang digugat.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify; margin-left: 36pt'&gt;Sebaliknya Berdasarkan hukum suatu keputusan yang tidak memenuhi elemen atau syarat dapat dikatakan bahwa keputusan mengandung kekurangan juridis dalam pembuatannya, sehingga keputusan tersebut merupakan suatu keputusan menjadi tidak sah. &lt;strong&gt; E. Utrecht&lt;/strong&gt;, mengatakan:suatu ketetapan yang mengandung kekurangan tidak selalu  merupakan ketetapan atau keputusan yang tidak sah. Ada ketetapan yang mengandung kekurangan tetap merupakan ketetapan sah.  Menurutnya pada umumnya tergantung pada hal apakah syarat yang tidak dipenuhi itu merupakan bestaansvoorwaarde atau tidak untuk adanya ketetapan itu. ( bestaansvoorwaarde= syarat yang harus dipenuhi agar sesuatu ada; kalau syarat tidak dipenuhi maka sesuatu itu (dianggap) tidak ada. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify; margin-left: 36pt'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;strong&gt;Stelinga&lt;/strong&gt;, mengatakan bahwa suatu ketetapan yang mengandung kekurangan masih dapat diterima sah oleh karena sah tidaknya sesuatu ketetapan yang mengandung kekurangan tergantung pada beratnya kekurangan itu.Menurut &lt;strong&gt;Soehino&lt;/strong&gt;, bahwa yang disebut sebagai ketetapan yang tidak sah bila mengandung kekurangan syarat yang seharusnya dipenuhi dalam pembuatan ketetapan administrasi tersebut. Dengan adanya kekurangan syarat yang seharusnya dipenuhi dapat berakibat hukum batalnya ketetapan tersebut. Disamping batal atau dapat dibatalkan ketetapan tersebut dimungkinkan bahwa ketetapan tersebut dicabut oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang menerbitkan. Masih berkaitan dengan ketetapan yang mempunyai kekurangan yuridis, &lt;strong&gt;van der Wel&lt;/strong&gt;, berpendapat agak berbeda sebagaimana yang dikutip oleh &lt;strong&gt;Bachsan Mustafa&lt;/strong&gt; dalam bukunya:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Suatu ketetapan yang menetapkan sesuatu yang sungguh-sungguh tidak     mungkin dapat dilaksanakan dapat dianggap batal sama sekali. Mengenai     ketetapan-ketetapan yang lainnya kita harus melihat apakah kekurangan     yang bersangkutan adalah kekurangan " esensial" atau kekurangan yang "     bukan esensial", kekurangan yang bukan yang esensial tidak dapat     mempengaruhi berlakunya ketetapan. Mengenai kekurangan esensial harus     dilihat beratnya kekurangan. Apabila kekurangan itu dirasakan begitu     berat sehingga ketetapan yang bersangkutan sebetulnya tidak berupa     ketetapan, maka ketetapan yang bersangkutan itu dapat dianggap batal     sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Apabila kekurangan itu tidak begitu berat, maka ketetapan yang     bersangkutan dapat dianggap batal terhadap subyek hukum yang     mempunyai alat untuk menggugat berlakunya ketetapan itu ( misalnya     dalam bandingan).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;strong&gt;E.Utrecht&lt;/strong&gt; berkomentar bahwa dia dapat menerima pembagian kekurangan ketetapan kedalam kekurangan yang esensial ( inti) dan yang bukan yang esensial. Namun kandungan kekurangan tersebut harus dilihat secara kasuistis yang penting  bahwa keputusan Administrasi negara adalah pemanfaatan / kegunaannya ( &lt;em&gt;doelmatigheid&lt;/em&gt;) lebih penting dari pada sesuai tidaknya dengan hukum positif ( &lt;em&gt;rechtsmatigheid&lt;/em&gt;). &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Untuk mengetahui suatu keputusan itu mempunyai kekurangan yang masuk dalam ranah kekurangan yang esensial atau yang bukan esensial, sehingga ketetapan tersebut menjadi sah atau tidak sah. Apabila mengikuti teorinya &lt;strong&gt;van der Pot&lt;/strong&gt;, maka ada 4 syarat yakni: dibuat oleh Badan atau pejabat yang berwenang, tidak boleh adanya kekurangan yuridis, berhubungan dengan bentuk ( &lt;em&gt;vorm&lt;/em&gt;) dan prosedur, serta isi dan tujuan harus sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasarnya. Atau sebagaimana disampaikan oleh &lt;strong&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/strong&gt; ada 3 aspek yang penting yakni: &lt;strong&gt;Wewenang,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;Prosedur&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;substansi&lt;/strong&gt; untuk dapat dikatakan sahnya ketetapan atau keputusan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Didalam Hukum Administrasi bahwa ketetapan  &lt;strong&gt;tidak sah&lt;/strong&gt; akan berakibat batal ketetapan tersebut, dapat dibedakan  3 ( tiga ) jenis pembatalan suatu ketetapan tidak sah yaitu: &lt;strong&gt;pertama&lt;/strong&gt;, ketetapan yang batal karena hukum ( &lt;em&gt;nietigheid van rechtswege&lt;/em&gt;); &lt;strong&gt;kedua&lt;/strong&gt;, ketetapan yang batal ( &lt;em&gt;nietig&lt;/em&gt;, juga: batal absolut, &lt;em&gt;absoluut nietig&lt;/em&gt;); &lt;strong&gt;ketiga&lt;/strong&gt;, ketetapan yang dapat dibatalkan ( &lt;em&gt;vernietigbaar&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Keputusan yang " &lt;strong&gt;batal demi hukum&lt;/strong&gt;" adalah suatu ketetapan yang isinya menetapkan adanya akibat suatu perbuatan itu untuk sebagian atau seluruhnya bagi hukum dianggap tidak ada, tanpa diperlukan keputusan pengadilan atau Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berwenang menyatakan batalnya ketetapan tersebut, jadi ketetapan itu batal sejak dikeluarkan.bagi hukum dianggap tidak ada ( dihapus ) tanpa diperlukan suatu keputusan hakim atau keputusan suatu badan pemerintah lain yang berkompeten untuk menyatakan batalnya sebagian atau seluruhnya. Namun Utrecht sendiri menjelaskan dalam catatat kaki bukunya, bahwa hal ini jarang sekali terjadi namun ada atau dengan kata-kata " satu dua hal".  yang maksudnya bahwa sebetulnya Utrecht mempunyai pendapat secara umum bahwa batal karena hukum suatu ketetapan tidak secara otomatis artinya diperlukan suatu tindakan pembatalan dari Pengadilan maupun Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Selanjutnya suatu ketetapan yang "&lt;strong&gt;Batal&lt;/strong&gt;" ( &lt;em&gt;nietig&lt;/em&gt;) merupakan suatu tindakan atau perbuatan hukum yang dilakukan yang berakibat suatu perbuatan dianggap tidak pernah ada  yang disebut juga sebagai " &lt;em&gt;Absoluut nietig&lt;/em&gt;". Selanjutnya pengertian " &lt;strong&gt;dapat dibatalkan&lt;/strong&gt;" ( &lt;em&gt;vernietigbaar&lt;/em&gt;) merupakan suatu tindakan atau perbuatan hukum Badan atau Tata Usaha Negara yang dalam pengertian dapat dibatalkan karena diketahui perbuatan itu mengandung kekurangan. Perbuatan yang dilakukan dan akibatnya dianggap ada sampai waktu pembatalan oleh hakim atau oleh suatu badan pemerintah lain yang berkompeten ( pembatalan diadakan karena pembuatan tersebut mengandung sesuatu kekurangan ). Bagi hukum, perbuatan tersebut ada sampai waktu pembatalannya, menjadi sah ( terkecuali dalam hal undang-undang menyebut beberapa bagian akibat itu tidak sah). Setelah pembatalan maka perbuatan itu tidak ada dan – bila mungkin – diusahakan supaya akibat yang telah terjadi itu semuanya atau sebagiannya hapus. Dengan kata lain bahwa yang dimaksud dengan keputusan yang dapat dibatalkan ( &lt;em&gt;vernietigbaar&lt;/em&gt;) yaitu Suatu keputusan baru dapat dinyatakan batal setelah pembatalan oleh hakim atau instansi yang berwenang membatalkan, dan pembatalan tidak berlaku surut. Jadi bagi hukum perbuatan dan akibat-akibat hukum yang ditimbulkan dianggap sah sampai dikeluarkan keputusan pembatalan ( &lt;em&gt;ex-nunc&lt;/em&gt;) kecuali undang-undang menentukan lain.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='margin-left: 53pt'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Gambar 6. Tabel perbedaan Batal ( &lt;em&gt;Nietig&lt;/em&gt;), batal demi hukum ( &lt;em&gt;van rechts wege nietig&lt;/em&gt;) dan dapat dibatalkan ( &lt;em&gt;vernietigbaar&lt;/em&gt;). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='margin-left: 53pt'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;table border='0' style='border-collapse:collapse'&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style='width:40px'/&gt;&lt;col style='width:135px'/&gt;&lt;col style='width:120px'/&gt;&lt;col style='width:126px'/&gt;&lt;col style='width:123px'/&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign='top'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  solid 0.5pt; border-left:  solid 0.5pt; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  solid 0.5pt; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;URAIAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  solid 0.5pt; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;NIETIG&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  solid 0.5pt; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;VAN RECHTS WEGE NIETIG&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  solid 0.5pt; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;VERNIETIGBAAR&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  solid 0.5pt; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;1. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Sejak kapan batal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Ex tunc*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Ex tunc&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Ex nunc*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  solid 0.5pt; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Tindakan pembatalan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Dengan putusan/keputusan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Sifat putusan/ keputusan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Konstatering/ deklaratif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Tanpa perlu ada putusan / keputusan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Mutlak harus ada putusan / keputusan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Sifat putusan/ keputusan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Konstitutif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Sumber: Philipus M. Hadjon, Pengertian dasar tentang tindak Pemerintahan, Copy-Perc&amp;amp;stensil Jumali, Surabaya, 1985, h. 25.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Selanjutnya yang menjadi pertanyaan hukum adalah sebab atau alasan pembatalan atau batalnya suatu ketetapan atau keputusan yang diterbitkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Sebagaimana diketahui bahwa dalam ajaran hukum bahwa suatu keputusan ( &lt;em&gt;beschikking&lt;/em&gt; ) dikatakan sah apabila memenuhi beberapa syarat, seperti yang diajukan &lt;strong&gt;van der Pot&lt;/strong&gt; ada 4 syarat fundamental:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style='margin-left: 71pt'&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;em&gt;Bevoedgheid &lt;/em&gt;( kewenangan) organ Administrasi negara yang membuat keputusan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;em&gt;Geen juridische gebreken in de wilsvorming&lt;/em&gt; ( tidak ada kekurangan yuridis dalam pembentukan kehendak );&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;em&gt;Vorm&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;procedure &lt;/em&gt;yakni keputusan dituangkan dalam bentuk yang telah ditetapkan dan dibuat menurut tatacara yang telah ditetapkan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Isi dan tujuan keputusan sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasar. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;strong&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/strong&gt; mengutarakan bahwa wewenang, prosedur dan substansi, ketiga aspek hukum tersebut merupakan landasan hukum untuk dapat dikatakan suatu ketetapan atau keputusan tersebut sah menurut hukum. &lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, aspek wewenang dalam hal ini artinya bahwa pejabat yang mengeluarkan ketetapan tersebut memang mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk itu; &lt;strong&gt;kedua&lt;/strong&gt;, aspek prosedur, berarti bahwa ketetapan atau keputusan tersebut dikeluarkan sesuai dengan tatacara yang disyaratkan dan bertumpu kepada asas keterbukaan pemerintah; &lt;strong&gt;ketiga&lt;/strong&gt;, aspek substansi, artinya menyangkut obyek ketetapan atau keputusan tidak ada " &lt;em&gt;Error in re&lt;/em&gt;". Hal ini selaras dengan hukum Acara yang di atur didalam UU No. 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang selanjutnya diubah ( sebagian ) oleh UU No. 9 tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1986  Tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Sebagaimana  diatur dalam pasal 53 ayat (1) UU No. 5 tahun 1986, menetapkan bahwa Seseorang atau Badan hukum perdata yang kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan tata usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan Tata Usaha Negara. Adapun dasar alasan gugatan sebagaimana ditetapkan dalam ayat (2) nya,  isinya menyatakan bahwa alasan gugatan yang digunakan adalah Keputusan Tata Usaha Negara bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, antara lain adanya kesalahan bersifat kewenangan, prosedur dan substansi ( penjelasan pasal), penyalahgunaan wewenang ( &lt;em&gt;de tournament de pouvoir&lt;/em&gt;) dan larangan berbuat sewenang-wenang. Adapun rumusan lengkapnya pasal 53 UU No. 5 Tahun 1986 sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style='margin-left: 45pt'&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;seseorang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis pada pengadilan yang berwenang yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan atau rehabilitasi;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;alasan – alasan yang dapat digunakan dalam gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara pada waktu mengeluarkan keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) telah digunakan wewenangnya untuk tujuan lain dari maksud yang diberikannya wewenang tersebut;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara pada waktu mengeluarkan keputusan atau tidak keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) setelah mempertimbangkan semua kepentingan yang tersangkut dengan keputusan itu seharusnya tidak sampai pada pengambilan atau tidak keputusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Dengan demikian bahwa dalam hukum acara pasal 53 ayat (2) UU. No. 5 Tahun 1986, merupakan dasar dari alasan untuk menggugat ( &lt;em&gt;Beroepsgronden&lt;/em&gt;) seseorang atau badan hukum perdata dan sekaligus pengujian oleh hakim pengadilan terhadap keputusan Tata usaha Negara ( KTUN) sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, bahwa Keputusan Tata Usaha Negara tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya bilama dicermati dalam penjelasan otentik dari pasal ini memberikan penjelasan tentang pengertian " bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku&lt;span style='text-decoration:underline'&gt;" &lt;/span&gt;yaitu:  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Keputusan Tata Usaha Negara itu bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang bersifat procedural atau formal;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang bersifat material atau substansi;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Bahwa keputusan Tata usaha Negara dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha yang tidak berwenang dan apabila tidak berwenang dikaitkan dengan kompetensi Jabatan maka dimungkinkan ada tiga macam bentuk tidak berwenang ( &lt;em&gt;onbevoegdheid&lt;/em&gt;) yaitu: &lt;em&gt;onbevoegdheid ratione materiae&lt;/em&gt; ( menyangkut kompetensi absolute), &lt;em&gt;onbevoegdheid ratione loci&lt;/em&gt; ( kompetensi relative) dan &lt;em&gt;onbevoegdheid ratione temporis&lt;/em&gt; ( tidak berwenang dari segi waktu).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara pada waktu mengeluarkan keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) telah menggunakan wewenangnya untuk tujuan lain dari maksud diberikannya wewenang tersebut yang dikenal dengan  sebutan " penyalahgunaan wewenang" ( &lt;em&gt;de tournament de pouvoir&lt;/em&gt;). Menurut &lt;strong&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/strong&gt;, alasan yang dikemukakan dalam penjelasan otentik ini dalam prakteknya sulit di buktikan karenanya jarang digunakan. Oleh karena itu dalam gugatan sering menggunakan dasar seperti tersebut dalam butir 3.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;, dalam penjelasan pasal ini menyatakan bahwa dasar pembatalan sering disebutkan " larangan berbuat sewenang-wenang" ( &lt;em&gt;willekeur&lt;/em&gt;) merupakan konsep yang sulit diukur. &lt;strong&gt;Philipus M. Hadjon&lt;/strong&gt; mengatakan bahwa:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify; margin-left: 36pt'&gt;Larangan berbuat sewenang-wenang justru membuat rumusan yang operasional – terukur menjadi sulit / tidak terukur. Kalau kita bandingkan dengan ketentuan Wet AROB di Belanda, nampaknya disatu pihak ada kesamaan untuk huruf a,b,c, sedangkan huruf d tidak terdapat dalam pasal 53 ayat 2.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Pasal 53 UU No. 5 Tahun 1986 ini diubah oleh UU No. 9 Tahun 2004, terutama dalam ayat (2) b dan c, yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang dan tindakan larangan berbuat sewenang – wenang,  bagaimana diatur dalam pasal 53 UU No. 9 Tahun 2004, berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style='margin-left: 54pt'&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Orang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis pada pengadilan yang berwenang yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau disertai tuntutan ganti rugi dan atau rehabilitasi;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Alasan-alasan yang dapat digunakan dalam  gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Gambar 7. Tabel alasan menjadi dasar keputusan tidak sah / dibatalkan   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;table border='0' style='border-collapse:collapse'&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style='width:144px'/&gt;&lt;col style='width:144px'/&gt;&lt;col style='width:156px'/&gt;&lt;col style='width:80px'/&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign='top'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  solid 0.5pt; border-left:  solid 0.5pt; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Van der Pot&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  solid 0.5pt; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Philipus M.Hadjon&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  solid 0.5pt; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;UU No 5 tahun 1986&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Pasal 53 (2), yo. UU No. 9 tahun 2004&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  solid 0.5pt; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Akibat hukum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  solid 0.5pt; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Bevoedgheid;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;geen juridische gebreken in de wilsvorming;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;vorm dan procedure;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;isi dan tujuan keputusan sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Aspek wewenang;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Aspek prosedur;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Aspek substansi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan berlaku: bersifat Wewenang, Prosedur, Substansi;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;bertentangan dengan asas umum pemerintahan yang baik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style='padding-left: 7px; padding-right: 7px; border-top:  none; border-left:  none; border-bottom:  solid 0.5pt; border-right:  solid 0.5pt'&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:10pt'&gt;Tidak sah atau batal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Sesuai dengan ajaran hukum dan sebagaimana yang ditentukan dalam pasal 53 ayat (2) UU No. 5 tahun 1986 yo. UU No. 9 tahun 2004, maka bilamana suatu keputusan Tata Usaha Negara bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang bersifat wewenang, prosedur dan substansi, keputusan Tata Usaha Negara tersebut yang ditemukan oleh Peradilan dalam  pertimbangan hukumnya, menjadi dasar untuk putusan pengadilan menyatakan &lt;strong&gt;tidak sah&lt;/strong&gt; atau &lt;strong&gt;batal keputusan &lt;/strong&gt;Tata Usaha Negara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Sesuai dengan konsep hukum/ ajaran hukum dan ketentuan pertanahan  Keputusan Tata Usaha Negara merupakan sumber hukum dan alat bukti dari lahirnya sertifikat hak atas tanah yang berkarakter yang bersifat Konstitutif, dengan demikian maka bilamana terjadi persengketaan berkaitan dengan kepemilikan hak atas masuk dalam kompetensi absolut dari pengadilan tata usaha negara yang mana alat bukti keputusan Tata Usaha Negara tersebut terbitnya yang berkaitan dengan adanya cacat dalam aspek wewenang, prosedur dan substansi yang menjadi titik tolak dalam beracara dan tuntutan pembatalannya. Berbeda dengan sertifikat hak atas tanah yang berkarakter yuridis yang bersifat deklaratif,  sesuai dengan sumber dasar hak kepemilikan atas tanah yang exsistensinya diakui oleh negara sehingga dalam proses persengketaan hukumnya berada diwilayah Peradilan umum, dimana bukti perolehan kepemilikan keperdataan dan obyek gugatannya yang ditimbulkan berkaitan dengan keabsahan dari aspek kesepakatan, kecakapan, obyek dan kausa tertentu yang menjadi dasar  gugatan dan proses pembuktian di peradilan umum tersebut. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;strong&gt;5. Penutup.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut maka yang akan menjadi isu sentral yang hendak dikaji dalam kajian penulisan disertasi ini adalah pembatalan sertifikat oleh Peradilan dan akibat hukum terhadap sertifikat hak atas tanah, yang dilatar belakangi adanya ketidak pastian hukum dan kepastian hak disebabkan karena masih banyaknya sengketa tanah dimana sertifikat hak atas tanah oleh pengadilan diputus dinyatakan tidak sah dan harus dibatalkan. Salah satu kelemahan dari disebabkan hukum tanah nasional yang dibangun berdasarkan pada konsepsi pengakuan hak Negara terhadap hak yang ada dan sistem pendaftaran tanah yang mengenal adanya alat bukti kepemilikan hak atas tanah yang lain selain sertifikat hak atas tanah. Konsep pengakuan negara dan sistem pendaftaran tanah berakibat pada karakteristik khas dari sertifikat yang mana  konstruksi hukum dari sertifikat hak atas tanah yang terbit dikenal adanya sertifikat dengan karakter yuridis yang bersifat Konstitutif maupun terdapat sertifikat yang bersifat deklaratif. Konstruksi hukum dari karakteristik sertifikat hak atas tanah tersebut membawa konsekuensi hukum terhadap bentuk sengketanya, badan Peradilan yang menangani perkaranya dan akibat hukum yang berbeda pula satu dengan yang lain bilamana terjadi eksekusi pelaksanaan hukum terhadap putusan pengadilan baik terhadap hak kepemilikan atas tanahnya maupun terhadap status hukum obyek tanahnya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-1036988340231618441?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/1036988340231618441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=1036988340231618441&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/1036988340231618441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/1036988340231618441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2009/09/karakter-hukum-keputusan-ptun.html' title='Karakter hukum keputusan PTUN'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-2769582186639246044</id><published>2009-09-04T12:32:00.001-07:00</published><updated>2009-09-04T12:45:46.580-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Disertasi'/><title type='text'>Karakter hukum sertipikat hak</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Dr. Boedi Djatmiko HA, SH.M.hum&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Uraian berikut dibawah ini diawali dengan pertanyaan hukum apakah ada korelasinya antara karakter hukum sertipikat hak dengan status hukum tanah dan akibat hukumnya. Dalam tinjauan Hukum Administrasi Negara, Sertipikat merupakan dokumen tertulis yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerinah ( badan atau Pejabat Tata Usaha Negara ) untuk dipergunakan sebagai tanda bukti hak dan alat pembuktian yang dikeluarkan dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah. Bila mana sertipikat dikatakan sebagai suatu dokumen formal  suatu surat tanda bukti hak atas tanah, berarti bahwa seseorang atau suatu badan hukum yang memegang sertipikat tanah menunjukan mereka itu mempunyai suatu hak atas tanah atas suatu bidang tanah tertentu. Ketika suatu sertipikat dikonsepkan sebagai suatu alat bukti hak kepemilikan atas tanah maka sertifikat bukan merupakan alat bukti satu – satunya adanya keberadaan hak kepemilikan atas tanah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt; Ketentuan hukum yang diatur dalam pasal 23 dan 24 PP No. 24 tahun 1997, menunjukan konstruksi hukum yang mensyaratkan adanya alat bukti tertentu yang dapat dijadikan alas hak ( title)  yang dapat dipergunakan bagi seseorang atau badan hukum  dapat menuntut kepada Negara adanya keberadaan hak atas tanah yang dipegang atau dimiliki. Secara hukum dengan berpegang pada alat bukti ini maka merupakan landasan yuridis guna dapat dipergunakan untuk melegalisasi asetnya untuk dapat diterbitkan sertipikat tanda bukti sekaligus alat bukti kepemilikan hak atas tanah. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Pertama, instrument yuridis atau alat bukti kepemilikan yang disebut sebagai "&lt;strong&gt;hak baru&lt;/strong&gt;" atas tanah  harus dibuktikan dengan "&lt;strong&gt;Penetapan pemerintah&lt;/strong&gt;" yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang  apabila hak tersebut berasal dari tanah Negara atau tanah hak pengelolaan. Wujud kontret dari penetapan pemerintah ini adalah Surat Keputusan Pemberian hak kepemilikan atas tanah (SK hak milik, SK HGB, dst); dan atau&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Kedua, &lt;strong&gt;akta otentik&lt;/strong&gt; PPAT ( Pejabat Pembuat Akta Tanah ) menurut ketentuan hukum termasuk alat bukti kepemilikan hak baru, dimana akte otentik tersebut memuat pemberian hak  tersebut oleh pemegang hak milik kepada penerima hak yang bersangkutan apabila mengenai hak guna bangunan dan hak pakai atas tanah hak milik. ( pasal 23  PP No. 24 tahun 1997) &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Ketiga, instrument yuridis tertulis lainnya yang disebut sebagai hak atas tanah yang "&lt;strong&gt;lama&lt;/strong&gt;" ( pasal 24 PP No. 24 tahun 1997), yang diakui keberadaannya oleh hukum sebagai alat bukti tertulis kepemilikan hak atas tanah.  Selanjutnya instrument yuridis tentang keberadaan alat bukti kepemilikan tersebut secara terinci diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria ( PMNA)/ Kepala Badan Pertanahan Nasional ( KBPN ) No. 3 tahun 1997. Didalam pasal 24 PP No. 24 tahun 1997 dan pasal 60 dari PMNA/KBPN No. 3 tahun 1997, beserta penjelasan pasalnya disebutkan alat bukti kepemilikan lama yakni: &lt;em&gt;grosse/salinan akte eigendom&lt;/em&gt;, surat tanda bukti hak milik yang diterbitkan berdasarkan peraturan swapraja, surat tanda bukti hak milik yang dikeluarka  berdasarkan peraturan Menteri Agraria No. 9 tahun 1959, surat keputusan pemberian hak milik dari pejabat yang berwenang baik sebelum maupun sejak berlakunya UUPA, yang tidak disertai kewajiban untuk mendaftarkan hak yang diberikan, tetapi telah memenuhi semua kewajiban yang disebut didalamnya, petok D / girik, pipil, ketitir, dan verponding Indonesia sebelum berlakunya PP No. 10 tahun 1961, akta pemindahan hak dibawah tangan yang dibubuhi tanda kesaksian oleh kepala Adat/desa/kelurahan yang dibuat sebelum berlakunya peraturan pemerintah ini dengan disertai alas hak yang dialihkan, akta pemindahan yang dibuat oleh PPAT yang tanahnya belum dibukukan dengan disertai alas hak yang dialihkan, akta ikrar wakaf / surat ikrar wakaf yang dibuat sebelum atau sejak mulai dilaksanakan PP No. 28 tahun 1977 dengan disertai alas hak yang diwakafkan, risalah lelang, surat penunjukan pembelian kaveling tanah pengganti tanah yang diambil pemerintah, surat keterangan riwayat tanah yang pernah dibuat oleh kepala kantor PBB dengan disertai alas hak yang dialihkan, lain-lain bentuk alat pembuktian tertulis dengan nama apapun juga sebagaimana di maksud dalam pasal II, VI, dan VII ketentuan konversi. Alat-alat bukti kepemilikan hak ini pada hakekatnya merupakan representasi dari pengakuan dari Negara terhadap hak kepemilikan yang dipunyai oleh warga Negara Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Sebagaimana diketahui bahwa dalam konsep hukum perdata Hak kepemilikan atas tanah merupakan  hubungan hukum kepemilikan secara hakiki diakui keberadaannya, dijunjung tinggi, dihormati, dan tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun. Hak kepemilikan merupakan sumber kehidupan dan kehidupan bagi pemiliknya, oleh karenanya orang yang mempunyai hak yang sah secara hukum harus mendapatkan perlindungan oleh negara. Hak milik ( property rights ) merupakan suatu hak yang mempunyai hubungan kepemilikan yang tertinggi tingkatannya dibandingkan dengan hak-hak kepemilikan lainnya. Hubungan tanah dengan pemiliknya menimbulkan hak dan kewajiban maupun wewenang atas tanah yang dihaki, secara luas dikatakan oleh &lt;strong&gt;Lisa Whitehouse&lt;/strong&gt; " &lt;em&gt;property is basic to the social walfare, people seek it, nations war it, and no one can do without it&lt;/em&gt;". Hak milik atas tanah melekat pada pemiliknya selama mereka tidak melepaskan haknya  ( peralihan hak). Demikian juga bila dicermati ajaran &lt;strong&gt;John Locke&lt;/strong&gt; mengenai hak milik ini yang mengatakan bahwa: &lt;em&gt;Ownership of property is a natural right and that the purpose of Government is to protect and preserve natural property right.  &lt;/em&gt;Hak milik merupakan hak asasi manusia yang harus dihormati dan keharusan bagi negara untuk melindungi, memelihara  dan menjaga hak kepemilikan warga negaranya. Ajaran maupun teori hak kepemilikan ini yang selanjutnya masuk dalam Konstitusi yang merupakan hak asasi manusia yang mendapatkan perlindungan hukum, sebagaimana yang tercantum dalam pasal 28 H dan 28 G, Amandemen Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 ( UUDNRI 1945). Implementasi dari jaminan perlindungan hukum terhadap hak kepemilikan yang berkaitan dengan tanah ( agraria ) oleh Negara selanjutnya dijabarkan kedalam UUPA.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Berkaitan dengan hal tersebut diatas,sebagai konsekuensi yuridisnya maka diatur bahwa terhadap tanah hak yang berasal dari hak lama ( adat ) oleh hukum dilakukan perubahan hukum berdasarkan prinsip pengakuan Negara terhadap hak kepemilikan atas tanah rakyat karena hukum dikonversi sebagai hak-hak yang baru dan jenis-jenis hak atas tanah yang diciptakan oleh UUPA. Pengakuan Negara tersebut   memunculkan model sertipikat hak atas tanah yang berkarakter yuridis yang bersifat " &lt;strong&gt;Deklaratif&lt;/strong&gt;" ( &lt;em&gt;declaratoir&lt;/em&gt;). Disamping model pengakuan Negara  terhadap hak atas tanah rakyat, Negara mengakomodir adanya hak atas tanah yang muncul yang berasal dari status tanah-tanah diluar tanah hak yang dikuasai rakyat ( tanah Negara ). Hak atas tanah ini terbit berdasarkan pada tindakan pemerintah yang berupa "penetapan" atau " keputusan" hak memunculkan model sertifikat yang berkarakter yuridis yang bersifat "&lt;strong&gt;Konstitutif&lt;/strong&gt;"( &lt;em&gt;Konstitutief&lt;/em&gt;).  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Dalam ajaran hukum bahwa yang disebut sebagai  suatu ketetapan atau keputusan yang bersifat deklaratif yakni suatu ketetapan atau keputusan yang menetapkan mengikatnya suatu hubungan hukum yang sebetulnya memang telah ada sebelumnya. &lt;strong&gt;Utrecht&lt;/strong&gt; menyebutkan bahwa suatu ketetapan / keputusan deklaratif  merupakan ketetapan yang hanya menyatakan yang bersangkutan dapat diberikan haknya karena termasuk golongan ketetapan yang menyatakan hukum    ( &lt;em&gt;rechtsvastellende beschikking&lt;/em&gt;), sedang yang disebut sebagai ketetapan  Konstitutif adalah ketetapan membuat hukum baru ( &lt;em&gt;rechtscheppend&lt;/em&gt;). Menurut &lt;strong&gt;P. de Haan &lt;/strong&gt;cs, " &lt;em&gt;Bestuursrecht in de sociale rechtsstaat&lt;/em&gt;" halaman 30, yang dikutip oleh &lt;strong&gt;Philipus M. Hadjon &lt;/strong&gt;terdapat pengelompokan Beschikking, khusus  yang disebut sebagai keputusan deklaratur maupun konstitutif (&lt;em&gt;Rechtsvastellend en rechtsscheppend )&lt;/em&gt; diuraikan bahwa Pada keputusan Tata Usaha Negara deklaratif hubungan hukum pada dasarnya sudah ada. Contoh: akte kelahiran, hak milik atas tanah eks hukum adat. Relevansi praktis dari pembedaan  ini berkaitan dengan alat bukti. Keputusan tata usaha Negara deklaratif bukanlah alat bukti mutlak. Adanya hubungan hukum masih mungkin dapat dibuktikan dengan alat bukti lain. Pada keputusan Tata Usaha Negara konstitutif, adanya keputusan tata usaha Negara merupakan syarat mutlak lahirnya hubungan hukum. Contoh: sertifikat HGB, SK pengangkatan sebagai pegawai negeri dan lain-lain; berbeda dengan keputusan tata usaha Negara deklaratif, dalam keputusan tata usaha Negara konstitutif merupakan alat bukti mutlak. Dengan kata lain, tidak ada hubungan hukum tanpa adanya keputusan tata usaha Negara yang sifatnya konstitutif.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Ajaran hukum tersebut selaras dengan konsep hukum tanah yang pada prinsipnya yang diatur dalam UUPA bahwa hak kepemilikan atas tanah tercipta atau lahir dapat berasal dari: &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Berdasarkan pada konsep pengakuan adanya keberadaan hak kepemilikan yang telah ada sebelum UUPA yang dalam hal ini masuk dalam kelompok tanah hak barat yang disebut sebagai tanah yang pernah " terdaftar" dan kelompok yang belum pernah terdaftar yakni seperti tanah hak masyarakat ( adat ) yang diakui tanah milik adat dan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;Hak kepemilikan  atas tanah yang lahir atau diperoleh berdasarkan ketentuan hukum ( undang-undang) yang berupa Penetapan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Kedua kelompok ini mempunyai konsekuensi hukum yang berbeda terhadap pengaturan hukum ketata usahaan pendaftaran dan alat bukti hak atas tanah, serta akibat hukum yang ditimbulkan bila terjadi sengketa hak kepemilikan atas tanahnya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, Hak kepemilikan atas tanah yang lahir karena Penetapan Pemerintah ( istilah lain dari keputusan pemberian hak ) sesuai dengan ajaran ilmu hukum dan sebagaimana diatur dalam ketentuan UUPA maupun peraturan pelaksanaannya dilahirkan berdasarkan pada suatu tindakan atau perbuatan hukum dari Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara berupa keputusan pemberian hak milik. Dalam konteks ini hubungan hukum antara subyek dan obyek secara yuridis belum ada. Hubungan yang terjadi antara subyek dan obyek hanya sekedar hubungan penguasaan secara fisik ( &lt;em&gt;possession&lt;/em&gt; ). Secara hukum baru ada setelah adanya Keputusan Penetapan Hak Kepemilikan atas tanah dan selanjutnya berdasarkan keputusan atau ketetapan hak inilah yang menjadi dasar alas hak pendaftaran hak dan terbitnya sertifikat hak kepemilikan atas tanah yang berkarakter yuridis yang bersifat Konstitutif. Ciri khas dari model ketetapan atau keputusan pemberian atas tanah dan yang melahirkan sertifikat yang bersifat konstitutif berasal dari obyek tanah yang berstatus tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau "&lt;strong&gt;tanah Negara&lt;/strong&gt;".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Pengaturan lebih lanjut terhadap keputusan pemberian hak atas tanah yang berstatus tanah negara ini dapat terbaca dalam beberapa peraturan perundangan antara lain: Keppres No. 32 tahun 1979 tentang Kebijaksanaan Dalam Rangka Pemberian Hak Baru Atas Tanah Asal Konversi Hak Barat, Peraturan Menteri Dalam Negeri ( PMDN) No. 5 tahun 1973, Tentang Ketentuan-ketentuan Mengenai Tata Cara Pemberian Hak Atas Tanah,  yo. PMDN No. 6 tahun 1972 tentang Pelimpahan Pemberian Hak Atas Tanah. Peraturan ini dicabut oleh PMNA /KBPN No. 9 tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian Dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara Dan Hak Pengelolaan, yo. PMNA/ KBPN No. 3 tahun 1999, tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian Dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara. Keseluruhan bentuk atau macam sebutan tanah-tanah negara merupakan obyek dari keputusan Tata Usaha Negara yang bersifat Konstitutif, dimana untuk mendapatkan hak atas tanah tersebut diperlukan suatu permohonan kepada negara dan apabila persyaratan dianggap telah memenuhi dan permohonan dikabulkan maka Badan atau Pejabat Tata usaha negara yang berwenang untuk itu melakukan tindakan hukum berupa menerbitkan Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah kepada pemohon. Dengan adanya  Keputusan tersebut muncul hubungan hukum antara obyek ( tanah negara ) dengan subyek yaitu seseorang atau badan hukum yang mengajukan permohonan hak atas tanah negara tersebut dan sejak saat dikeluarkan keputusan tersebut maka  terbit Hak kepemilikan Atas Tanah yang bersangkutan. Dengan catatan bahwa yang bersangkutan memenuhi segala persayaratan yang ditentukan didalam keputusan tersebut.  Apabila tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan maka hak tersebut menjadi " &lt;strong&gt;batal&lt;/strong&gt; " dengan sendirinya dan tanahnya kembali dikuasai oleh negara atau menjadi tanah negara kembali. Dengan perkataan lain bahwa Karakter khas yang muncul dari tanah – tanah yang berstatus tanah negara yang oleh negara yang diberikan sesuatu hak atas tanah adalah: &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style='margin-left: 45pt'&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;sebelum terbit sertifikat hak atas tanah yang dipergunakan  sebagai tanda bukti kepemilikan tanah, akan  didahului dengan adanya tindakan hukum dari pemerintah yang dalam hal ini kewenangannya dilimpahkan kepada Badan atau Pejabat Tata usaha Negara yang diwujudkan dalam Keputusan  berbentuk " &lt;strong&gt;Surat Keputusan&lt;/strong&gt;" ( SK) pemberian hak atas tanah kepada seseorang atau badan hukum yang mengajukan permohonan haknya; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;didalam ketetapan yang berupa suatu keputusan pemberian hak tersebut  selalu ada persyaratan-persyaratan baik berupa persyaratan umum maupun khusus maupun kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh yang bersangkutan, dengan akibat hukum " &lt;strong&gt;batal&lt;/strong&gt;" dengan sendirinya apabila persyaratan dan atau kewajiban tidak dipenuhi oleh mereka yang mengajukan permohonan hak atas tanah yang bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;    Gambar 4. Skema pendaftaran Sertifikat berkarakter yuridis bersifat Konstitutif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, hak kepemilikan atas tanah yang telah ada baik hak barat maupun hak adat ( terdaftar maupun yang belum terdaftar) diakui keberadaannya yang oleh UUPA diubah kedalam bentuk baru ( konversi ) jenis-jenis hak ciptaan UUPA. Pengakuan negara dan perubahan kepada hak baru dengan persyaratan yang ditentukan oleh undang-undang. Pada prinsipnya pengakuan negara terhadap keberadaan hak kepemilikan atas tanah yang ada dituangkan kedalam bentuk  penegasan, dan Sesuai dengan ajaran hukum penegasan semacam ini disebut sebagai suatu keputusan yang dalam wujud konkretnya berupa keputusan penegasan (deklaratif). Dalam model keputusan deklaratif ini syarat adanya keputusan Tata Usaha Negara &lt;strong&gt;bukan&lt;/strong&gt; merupakan syarat mutlak adanya hubungan hukum antara subyek dan obyeknya pada dasarnya telah ada. Hubungan hukum antara subyek dan obyeknya dapat dibuktikan dengan alat bukti keperdataan tertulis yang lain ( PP No. 24 tahun 1997 yo. PMNA/ KBPN No. 3 Tahun 1997). Ketentuan hukum sebagaimana diatur dalam ketentuan konversi UUPA, PMA No. 2 tahun 1960 tentang Pelaksana beberapa ketentuan Undang Undang Pokok Agraria Yo. PMA No. 5 tahun 1960 dan PMPA No. 2 tahun 1962 tentang Penegasan Konversi Dan Pendaftaran Hak-Hak Indonesia, merupakan bentuk adanya pengakuan oleh negara terhadap hak-hak rakyat baik hak kepemilikan yang diatur menurut hukum perdata barat ( BW) maupun hak-hak tanah adat. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Namun demikian ada karakter hukum yang khas dari ketentuan penegasan konversi hak kepemilikan atas tanah dalam UUPA. Hukum mengatur adanya prinsip-prinsip &lt;strong&gt;"Nasionalitas"&lt;/strong&gt; yang wajib hukumnya harus dipenuhi bagi pemegang hak atas tanah agar dapat memperoleh pengakuan dan penegasan hak atas tanahnya. Maksudnya adalah pengakuan penegasan terhadap hubungan hukum hak kepemilikan atas tanah antara pemegang hak dengan obyeknya diakui oleh negara syaratnya adalah Warga negara Indonesia. Konsekuensi hukum  bilamana syarat tersebut tidak dipenuhi maka hubungan hukum hak kepemilikan atas tanah diubah (diturunkan) kepada hak jenis lain dan dalam jangka waktu tertentu dicabut oleh negara, sehingga berdasarkan ketentuan hukum ( UUPA) status hukum obyek tanahnya menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara ( tanah negara).  Untuk hak atas tanah yang berasal dari bekas hak barat ( pasal I ayat (1) Ketentuan Konversi UUPA): Hak Eigendom atas tanah yang ada pada mulai berlakunya UUPA dikonversi menjadi hak milik, kecuali jika yang mempunyainya tidak memenuhi syarat sebagai yang tersebut dalam pasal 21 ayat (1) UUPA, yakni harus Warganegara Indonesia sejak 24 september 1960. berdasarkan ketentuan pembuktian kewarganegaraan diberikan waktu 6 (enam ) bulan (pasal 2  PMA  No. 2 tahun 1960). Pemegang hak eigendom yang dapat membuktikan kewarga negaraannya maka oleh KKPT ( Kepala Kantor Pendaftaran Tanah ) saat ini Kepala Kantor Pertanahan,  eigendomnya dikonversi menjadi hak milik dan tanda bukti kepemilikan  hak tersebut dicatat baik pada asli akta maupun didalam salinan aktanya, demikian disebutkan dalam pasal 3 PMA No. 2 tahun 1960. Pencatatan konversi oleh KKPT ini dilaksanakan dengan membubuhi keterangan dengan kata-kata " Berdasarkan pasal dan ayat ketentuan konversi Undang-Undang Pokok Agraria dikonversi menjadi: Hak ( isi: milik, guna bangunan, Guna usaha atau pakai) dengan jangka waktu" ( pasal 18 PMA No. 2 tahun 1960). Akibat hukumnya apabila pemegang hak tidak melaporkan status hukum kewarganegaraannya dalam waktu 6 bulan atau tidak dapat membuktikan kepemilikannya maka menurut hukum hak eigendomnya berubah menjadi hak guna bangunan dengan jangka waktu 20 tahun. Dan setelah 20 tahun jika tidak diperbaharui haknya hapus menjadi tanah negara berdasarkan Keppres No. 32 tahun 1979 yo. PMDN No. 3 tahun 1979. Untuk pengakuan negara terhadap tanah-tanah Adat diatur dalam pasal II dan pasal VII Ketentuan konversi UUPA. Dalam pasal II Ketentuan Konversi berisi hak – hak atas tanah-tanah adat yang memberikan wewenang yang mirip dengan hak milik pasal 21 UUPA dikonversi menjadi hak milik, bilamana memenuhi persyaratan yang dimaksud dalam pasal 20 ayat 1 UUPA yaitu: hak &lt;em&gt;Agrarisch eigendom&lt;/em&gt;, milik, yasan, &lt;em&gt;andarbeni&lt;/em&gt;, hak atas &lt;em&gt;druwe&lt;/em&gt;, hak atas druwe desa, &lt;em&gt;pesini&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;grant sultan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;landrijenbezitrecht&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;altijddurende erfpacht&lt;/em&gt;, hak usaha atas bekas tanah partikelir, demikian juga tanah &lt;em&gt;pekulen&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;sanggan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;gogolan&lt;/em&gt; yang sifatnya tetap dan hak-hak lain dengan nama apapun juga yang akan ditegaskan lebih lanjut oleh menteri agraria, sejak mulai berlakunya UUPA dikonversi menjadi hak milik, kecuali jika yang mempunyainya tidak memenuhi syarat sebagai yang tersebut dalam pasal 21 UUPA. Mengingat adanya perbedaan karakter tersebut maka sebagai konsekuensi hukumnya akan berbeda pula pada saat terjadi pembatalan bukti kepemilikan hak atas tanahnya yang menjadi alas atau dasar penerbitan sertipikat hak atas tanah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify; margin-left: 62pt'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt; Skema pendaftaran Sertipikat yang berkarakter yuridis bersifat Deklaratif. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify; margin-left: 62pt'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify; margin-left: 62pt'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify; margin-left: 62pt'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-2769582186639246044?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/2769582186639246044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=2769582186639246044&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/2769582186639246044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/2769582186639246044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2009/09/karakter-hukum-sertipikat-hak.html' title='Karakter hukum sertipikat hak'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-812385894616731110</id><published>2009-09-01T23:37:00.001-07:00</published><updated>2009-09-01T23:47:48.561-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Disertasi'/><title type='text'>Sertipikat hak dan kekuatan pembuktiannya</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;SERTIFIKAT HAK DAN KEKUATAN PEMBUKTIANNYA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;(Dr. Boedi Djatmiko. SH.M.hum)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;&lt;strong&gt;Sertipikat tanah adalah dokumen formal yang memuat data yuridis  dan data pisik yang dipergunakan sebagai tanda bukti dan alat pembuktian  bagi seseorang atau badan hukum ( privat atau public ) atas suatu bidang tanah yang dikuasai atau dimiliki dengan suatu hak atas tanah tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Sebutan " sertipikat" atau &lt;em&gt;certificate (ing), certificaat/certifikaat(bld)&lt;/em&gt;,  adalah merupakan tanda pernyataan atau keterangan yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh pejabat dan atau lembaga /institusi tertentu dengan tujuan tertentu. Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa sertipikat merupakan surat keterangan ( pernyataan ) tertulis atau tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti pemilikan atau kejadian. Misalnya, sertipikat kelahiran yang lazim disebut Akta kelahiran diartikan sebagai surat bukti adanya kelahiran. Sertipikat kelulusan lazim disebut ijasah. Demikian juga,  jika berkaitan dengan tanah maka disebut sertifikat tanah. Sehingga makna kata sertifikat tanah seperti halnya sertifikat-sertifikat yang lain,  adalah surat bukti kepemilikan  tanah. sertipikat – sertipikat tersebut tidak akan mempunyai arti apa-apa apabila diterbitkan oleh pihak atau lembaga yang tidak mempunyai kewenangan yang diberikan Negara atau hukum untuk itu. Dengan kata lain bahwa sertipikat akan mempunyai kekuatan yuridis apabila memang diterbitkan oleh lembaga yang memperoleh kewenangan untuk itu. Dapat pula dikatakan bahwa sertipikat merupakan suatu dokumen formal yang dijadikan tanda dan  instrument yuridis adanya  hak kepemilikan atas suatu barang atau benda &lt;em&gt;( thing&lt;/em&gt;). Dalam konsep hukum barang atau benda ini dibedakan benda bergerak ( &lt;em&gt;personal property&lt;/em&gt; ) dan benda  yang tidak bergerak ( &lt;em&gt;real property&lt;/em&gt;). Hal yang sama sebagaimana disebutkan dalam kamus &lt;strong&gt;Black's law &lt;/strong&gt;menyebutkan bahwa:     " &lt;em&gt;certificate a document in which fact is formally attested ( death certificate)&lt;/em&gt; ", dalam halaman lain disebutkan: &lt;em&gt;" certificate of title a document indicating ownership of real or personal property&lt;/em&gt;". &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Di Negara kita, konsepsi sertipikat sebagai suatu dokumen formal yang dipergunakan sebagai instrument yuridis bukti kepemilikan hak atas tanah yang diterbitkan oleh lembaga Negara ( pemerintah ) sebagaimana yang disampaikan   &lt;strong&gt;Boedi Harsono&lt;/strong&gt;, sertifikat ( tanah ) adalah suatu surat tanda bukti hak yang dikeluarkan pemerintah dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah atau merupakan suatu tanda bukti bahwa seseorang atau suatu badan hukum mempunyai suatu hak atas tanah atas suatu bidang tanah tertentu. Dikatakan &lt;strong&gt;Irawan Soerodjo&lt;/strong&gt;, bahwa sertipikat tanah merupakan surat tanah bukti yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat didalamnya sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah yang bersangkutan. Dari sini sudah dapat ditangkap bahwa makna sertifikat tanah dalam konstruksi yuridisnya merupakan suatu dokumen formal yang dipergunakan sebagai tanda dan atau instrument yuridis  bukti  hak kepemilikan atas tanah yang dikeluarkan oleh BPN RI ( Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia ) lembaga / Institusi negara yang ditunjuk dan diberikan wewenang oleh negara untuk menerbitkannya. Sertipikat sebagai tanda dan atau sekaligus alat bukti hak kepemilikan atas tanah merupakan produk hukum yang diterbitkan oleh BPNRI didalamnya memuat data fisik dan yuridis. dikatakan oleh &lt;strong&gt;Maria SW Sumardjono&lt;/strong&gt;, sertipikat hak atas tanah sebagai hasil akhir proses pendaftaran tanah berisi data fisik ( keterangan tentang letak, batas, luas bidang tanah, serta bagian bangunan atau bangunan yang ada diatasnya bila dianggap perlu) dan data yuridis ( keterangan tentang status tanah dan bangunan yang didaftar, pemegang hak atas tanah dan hak-hak pihak lain, serta beban-beban lain yang berada diatasnya). Dengan memiliki sertipikat maka kepastian hukum berkenaan dengan jenis hak atas tanah, subyek hak dan obyek haknya menjadi nyata. &lt;strong&gt;AP. Parlindungan&lt;/strong&gt; menyebutkan bahwa sertifikat adalah salinan buku tanah dan surat ukur setelah dijahit menjadi satu  bersama dengan suatu kertas sampul yang bentuknya ditetapkan oleh Menteri Agraria disebut sertipikat dan diberikan kepada yang berhak. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Bahwa sertipikat (hak atas tanah) merupakan produk hukum yang diterbitkan oleh BPNRI yang dipergunakan sebagai tanda bukti dan alat pembuktian hak seseorang atau badan hukum ( privat atau publik ) mempunyai hak atas suatu bidang tanah. Diatas telah diuraikan yang dimaksudkan dengan   itu. Selanjutnya akan diuraikan dimana diatur sertipikat itu dalam peraturan perundang-undangannya dan kekuatan yuridis sertipikat selaku dokumen dan instrument yuridis dihadapan hukum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Kontruksi hukum sertipikat hak atas tanah dan kekuatan pembuktiannya dapat dicermati dalam beberapa ketentuan perundangan. Didalam UU (Undang-Undang) No. 5 tahun 1960, tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria atau disebut juga Undang-Undang Pokok Agraria ( UUPA) di dalam pasal 19 ayat 1 dan 2, disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style='margin-left: 54pt'&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Pendaftaran tersebut dalam ayat 1 pasal ini meliputi:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Dari pasal tersebut memberikan gambaran bahwa prinsip negara akan memberikan jaminan hukum dan kepastian hak terhadap hak atas atas yang sudah terdaftar. Bahwa jaminan bukti adanya tanah yang sudah terdaftar dengan memberikan " surat tanda bukti hak" yang berlaku sebagai alat pembuktian yang "kuat". Sebagai catatan bahwa ketentuan tersebut belum menyebutkan kata "sertipikat" sebagai surat tanda bukti hak. Berdasarkan ketentuan pasal 19 tersebut maka selanjutnya dikeluarkan PP ( peraturan Pemerintah ) No. 10 tahun 1961, tentang pendaftaran tanah yang selanjutnya PP ini diganti dengan PP No. 24 tahun 1997, tentang pendaftaran tanah. Didalam pasal 13 ayat 3 dan 4 PP No. 10 tahun 1961, disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style='margin-left: 54pt'&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;salinan buku tanah dan surat ukur setelah dijahit menjadi satu bersama-sama dengan kertas sampul yang bentuknya ditetapkan oleh Menteri Agraria, disebut sertipikat dan diberikan kepada yang berhak;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;sertipikat tersebut pada ayat (3) pasal ini adalah surat tanda bukti hak yang dimaksud dalam pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Sebutan sertipikat sebagai surat tanda bukti hak baru tersebut dalam ketentuan PP tersebut. Selanjutnya didalam pasal 1 angka 20 PP No. 24 Tahun 1997, tentang pendaftaran tanah, bahwa  "sertipikat adalah surat tanda bukti hak sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat 2, huruf c, Undang-Undang Pokok Agraria untuk &lt;strong&gt;Hak Atas Tanah&lt;/strong&gt;, Hak Pengelolaan, tanah wakaf, Hak milik atas satuan rumah susun, dan Hak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan". &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Pertanyaan berikutnya adalah yang dimaksud sertipikat "hak atas tanah" apa saja yang dimaksud dalam pasal tersebut. Apabila merujuk pada Pasal 1 angka 5 PP No. 24 tahun 1997, tentang pendaftaran tanah disebutkan: " &lt;em&gt;hak atas tanah adalah hak sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 Undang-Undang No. 5 tahun 1960, tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, selanjutnya disebut UUPA&lt;/em&gt;". Selanjutnya pada pasal 16 UUPA, yaitu  macam-macam hak atas tanah yakni: hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah, hak memungut hasil hutan dan hak-hak lain yang ditetapkan dengan undang-undang serta hak-hak lain yang sifatnya sementara yang disbutkan dalam pasal 53. Dengan demikian dapat disimpulkan kita mengenal dua macam sertipikat yakni: 1. Sertipikat hak atas tanah; 2. Sertipikat yang ada hubungan dengan hak atas tanah, yakni sertipikat HPL, tanah wakaf, hak tanggungan dan hak milik atas satuan rumah susun. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Persoalan yang menjadi isu hukum selanjutnya yang hendak diketengahkan adalah bagaimana kekuatan hukum sertipikat hak atas tanah. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka kajiannya khusus berhubungan dengan sertipikat hak atas tanah yang dihubungkan dengan kekuatan pembuktiannya. Bahwa dalam konsepsi hukumnya sertipikat hak atas tanah merupakan tanda bukti yang diterbitkan oleh lembaga hukum yang berwenang (Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara), yang berisi data yuridis dan data fisik yang digunakan sebagai alat bukti kepemilikan hak atas tanah dengan tujuan guna memberikan jaminan kepastian hukum dan kepastian hak atas sebidang tanah yang dimiliki atau dipunyai oleh seseorang maupun badan hukum. Dengan adanya sertifikat hak maka diharapkan secara yuridis dapat memberikan jaminan kepastian hukum dan hak oleh negara bagi pemegang hak atas tanahnya. Jaminan negara ini diberikan kepada pemilik atau pemegang sertipikat dapat diberikan karena tanahnya sudah terdaftar dalam sistem database administrasi pertanahan negara. Dalam administrasi pertanahan dapat diketahui siapa yang menjadi pemegang haknya ( pemilik bidang tanah), subyek pemegang  hak atas tanahnya, obyek haknya, letak, batas dan luasnya serta perbuatan-perbuatan hukum yang dikaitkan dengan tanahnya dan beban-beban yang ada diatas obyeknya, memberikan nilai tambah ekonomi, dengan adanya sertipikat hak atas tanah pemiliknya akan terlindungi dari tindakan sewenang-wenang dari pihak lain, serta mencegah sengketa kepemilikan tanah. Dengan kata lain bahwa dengan terdaftarnya hak kepemilikan atas tanah seseorang warga masyarakat maupun badan hukum oleh negara dan dengan diterbitkan tanda bukti kepemilikan berupa sertifikat hak atas tanah, negara akan memberikan jaminan keamanan terhadap pemilikan tanah serta agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Sebaliknya terhadap tanah-tanah yang belum didaftarkan maka negara tidak menjamin kepastian hukum dan haknya bagi pemilik atau yang menguasainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Dalam pasal 19 UU No. 5 tahun 1960 tersebut, sudah dinyatakan bahwa pemerintah akan memberikan jaminan  perlindungan hukum dan kepastian hak atas tanah yang didaftar dengan  memberikan surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang" &lt;strong&gt;kuat&lt;/strong&gt; ", pertanyaan hukumnya adalah seberapa kuatnya sertipikat hak atas tanah yang diatur dalam pasal tersebut?.  Makna " kuat" dalam konteks ini harus disandingkan dengan makna " mutlak " ( &lt;em&gt;indefesiable&lt;/em&gt;) atau tidak dapat diganggu gugat, atau ada yang mengatakan "absolut". Jadi makna kuat artinya tidaklah mutlak atau masih dapat diganggu gugat. Makna kuat ini lah yang dikemudian hari atau saat ini selalu menjadikan persoalan hukum bagi pihak-pihak yang kepentingannya dirugikan.  Maksudnya adalah pemahaman atas kekuatan yuridis dari sertifikat hak atas tanah yang akan dipertanyakan. Ketika dalam suatu sengketa dan peradilan dalam putusannya mencabut atau membatalkannya dan memenangkan pihak yang notabene hanya berpegang pada alat bukti yang lain, misalnya girik atau petok. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Berkaitan dengan kekuatan pembuktian yang "kuat" sertifpikat hak atas tanah ini dikatakan oleh &lt;strong&gt;Maria SW Sumardjono&lt;/strong&gt;, kuat artinya "harus dianggap yang benar sepanjang tidak dapat dibuktikan sebaliknya di pengadilan dengan alat bukti yang lain". Demikian juga yang dikatakan oleh &lt;strong&gt;Boedi Harsono&lt;/strong&gt;: &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify; margin-left: 36pt'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Bahwa surat-surat tanda bukti hak itu berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat berarti, bahwa keterangan-keterangan yang tercantum didalamnya ( oleh hakim ) sebagai keterangan yang benar, selama dan sepanjang tidak ada alat pembuktian yang lain yang membuktikan sebaliknya. Dalam hal yang demikian maka pengadilanlah yang akan memutuskan alat pembuktian yang benar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify; margin-left: 36pt'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-size:10pt'&gt;Dengan kata lain,  dengan  masih adanya peluang para pihak mengadakan tuntukan hukum terhadap pemegang sertipikat hak atas tanah dapat disimpulkan bahwa kekuatan hukum sertifikat hak atas tanah tidaklah mutlak. Pertanyaannya apakah memang demikian kekuatan yuridis sertipikat hak atas tanah yang introdusir oleh Negara kita lalu bagaimana dengan kekuatan yuridis sertipikat hak atas tanah di Negara yang lain. Jawabannya adalah tergantung dari konstruksi hukum dari system pendafataran tanah yang diintrodusir oleh hukum negara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-812385894616731110?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/812385894616731110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=812385894616731110&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/812385894616731110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/812385894616731110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2009/09/sertipikat-hak-dan-kekuatan.html' title='Sertipikat hak dan kekuatan pembuktiannya'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-1360728312975686924</id><published>2009-08-28T11:46:00.001-07:00</published><updated>2009-08-29T07:04:11.075-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Disertasi'/><title type='text'>Pembatalan sertipikat oleh peradilan dan akibat hukum terhadap sertipikat dan hak atas tanah</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;strong&gt;BAB I&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;strong&gt;1. LATAR BELAKANG MASALAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Masalah pertanahan adalah  merupakan masalah yang mempunyai karakter  yang bersifat multi dimensi. Unik, banyak aspek yang terlibat didalamnya, sehingga tidak mudah dalam penanganan dan penyelesaiannya. Di dalamnya ada muatan  politis, hukum, ekonomi, budaya bahkan pertahanaan dan kemanan bisa masuk didalamnya, belum lagi muatan kepentingan tertentu dan ujungnya adalah bicara adil tidak adil, sehingga peran Negara sangat dibutuhkan dalam rangka turut ikut upaya penyelesaiannya. Ketika kita mengedepankan hukum maka akan menjadi tidak adil bagi yang dikalahkan. Demikian juga bisa terjadi jika untuk kepentingan politis maka hukum menjadi mandul. Masalah pertanahan tidak mengenal batas waktu penyelesaian. Bisa cepat bisa juga memakan puluhan tahun. Tidak jarang masalah pertanahan yang muncul saat ini, merupakan kelanjutan warisan masa lalu. Ketika putusan masa lalu dianggap penyelesaian yang adil pada masa lalu belum tentu untuk masa berikutnya. Terlebih jika terkaitan dengan kebijakan politik hukum pada suatu era akan berbenturan dengan era yang berikutnya. Dengan kata lain bahwa masalah pertanahan bisa ditangani sehingga benar-benar tuntas dalam arti yang sesungguhnya. Angka masalah pertanahan yang dihimpun oleh BPN ( Badan Pertanahan Nasional ) Republik Indonesia sampai tahun 2008 tidak kurang 7149 kasus. Kerugian yang ditimbulkan adanya permasalahan ini bisa mencapai mendekati nilai anggaran pendapatan negara ( APBN ) dalam satu tahun. Angka tersebut bisa terus bertambah dari tahun ketahun jika tidak segera ada solusi yang lintas sektor dan komprehensip.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Masalah pertanahan yang pada umumnya terjadi melibatkan beberapa pihak dan mempunyai akar masalah yang bervariasi pula. Pihak – pihak yang terlibat dalam masalah pertanahan: orang perorangan dan atau  kelompok masyarakat dan atau badan hukum privat atau publik dan atau kombinasi diantaranya. Adapun akar masalah pertanahan dapat diklasifikasikan: pertama, masalah  penguasaan dan kepemilikan tanah, didalamnya berkaitan dengan perbedaan perspektif para pihak mengenai status penguasaan dan pemilikan atas bidang tanah tertentu baik yang belum maupun yang sudah dilekati dengan hak – hak keperdataan pihak tertentu. Bidang tanah yang belum dilekati hak masuk dalam dikategorikan jenis tanah dengan status " tanah Negara" ( tanah yang dikuasai langsung oleh Negara). Tanah yang telah dilekati hak tertentu misalnya, tanah hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha; kedua, masalah batas, luas dan letak atas bidang tanah tertentu, didalamnya terjadi perbedaan perspektif mengenai masalah batas, luas dan letak antara para pihak; ketiga, masalah berkaitan dengan pendaftaran tanah dan penetapan hak; keempat, masalah tanah-tanah obyek bekas hak barat dan atau obyek landreform; kelima, masalah tanah ulayat; keenam, masalah pengadaan tanah, hal ini biasanya adanya perbedaan persepsi mengenai nilai, status hak atas tanah dan proses pembebasan serta pelaksanaan pelepasan dan nilai ganti rugi; ketujuh, masalah pelaksanaan putusan pengadilan, adanya perbedaan persepsi berkaitan dengan kepentingan para pihak atau obyek hak atas tanah atau mengenai prosedur penerbitan hak atas tanahnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Selanjutnya adalah tindak lanjut dari penanganan masalah pertanahan ini yang perlu mendapat perhatian adalah masuk kedalam ranah hukum yang mana,  perdata ( adat ), pidana atau sengketa Tata Usaha Negara. Model penanganan penyelesaian  apakah diselesaikan diluar ( out court of resettlement ) melalui musyawarah atau mediasi atau masuk keranah lembaga peradilan  ( in court of resettlement) maka kita bicara  kompetensi atau kewenangan lembaga hukum peradilan mana, Peradilan umum atau Peradilan Tata Usaha Negara. Jika masuk ke ranah peradilan maka mau tidak mau membutuhkan kesabaran, biaya dan waktu yang relative lama. Lembaga peradilan sebagai ujung tombak harapan terakhir dalam rangka penyelesaian sengketa pertanahan kadang dirasakan oleh pihak tertentu yang bersengketa menjadi tidak mencerminkan keadilan hukum yang dicari. Dengan kata lain hukum tidak selalu dapat menyelesaikan persoalan sengketa pertanahan secara tuntas, tetap ada aspek lain yang harus dipertimbangkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Contoh kasus masalah pertanahan yang dapat dikatakan rumit, sebagai ilustrasi sebagaimana yang digambarkan berikut ini. Bapak X (alm ) betawi asli mewariskan kepada para ahli warisnya, sebut saja A, dkk, sebidang tanah yang cukup luas yang diperkirakan lebih dari 4 hektar, terletak pinggir jalan yang sangat strategis, dengan nilai NJOP bisa mencapai puluhan juta per meter perseginya dan total nilai asset tersebut bisa ratusan milyar rupiah. Bukti kepemilikan ada sebagian yang sudah bersertipikat hak milik tahun 1960-an ( konversi ), dan sebagian lagi  yang masih berstatus bekas hak barat ( eigendom ) dikuasai berdasarkan akta jual beli sekitar tahun 1950-an. factual, sebidang  tanah  berwujud pekarangan dan rumah tinggal. Sisa bidang tanah tersebut ada yang menjadi jalan protocol, sebagian telah berdiri hotel berbintang. Fakta yuridis  bahwa ternyata diatas bidang tanah tersebut telah terbagi-bagi dan terbit puluhan  sertipikat hak atas tanah yang saling tumpang tindih satu sama yang lain, termasuk bidang tanah yang sudah ada sertipikat konversi dan beberapa putusan pengadilan. Setelah sekian puluhan tahun lamanya A dkk, berjuang untuk menuntaskan masalah tersebut, dan dengan berbekal putusan peradilan yang yang menurut logika hukumnya sudah "inkrach", A dkk, berkeinginan untuk melegalisasikan ( sertipikat ) asset keluarganya, ternyata sampai sekarang belum juga berhasil.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Contoh lain, ada sebidang tanah yang telah berdiri bangunan gedung pertokoan mewah yang  dimana para pihak yang mengaku mempunyai bukti kepemilikan yang menurut pendapat para pihak yang bersengketa adalah sah secara hukum. Pihak pertama menggunakan alat bukti petok atau girik pihak kedua menggunakan alat bukti sertifikat hak yang sekaligus secara factual menguasai tanah dan bangunan tersebut. Oleh lembaga peradilan umum diputuskan dimenangkan oleh pihak pertama, namun gagal untuk eksekusinya. Guna mempertahankan tanah dan bangunan tersebut pihak kedua mengambil tindakan lain seperti melakukan gugatan ke ranah pidana alasan misalnya dikatakan surat bukti yang dipegang pihak pertama adalah palsu dan dimenangkan pihak kedua. Namun selanjutnya pihak pertama melakukan perlawanan kembali ke ranah peradilan TUN, menyeret instansi yang mengeluarkan sertifikat tersebut ke ranah PTUN ( peradilan Tata Usaha Negara ). &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Salah satu kunci utama dalam penanganan masalah pertanahan adalah pemahaman terhadap status hukum dari obyek sengketa, dan riwayat hukum dari bukti kepemilikan subyek – subyek hukum atas obyek sengketa tersebut. Penelusuran riwayat hukum atas obyek sengketa akan menjadi sangat penting untuk menentukan subyek hukum yang berhak atas tanah tersebut. Seperti halnya contoh kasus sengketa tersebut diatas, misalnya, para pihak yang menggunakan alat bukti yang berasal dari hak atas tanah yang lama seperti akte Eigendom yang mana sebetulnya oleh peraturan peraturan perundang-undangan telah dikonversikan kepada hak-hak atas tanah yang baru pada tahun 1960, berdasarkan UUPA, ataupun telah dinyatakan hapus secara hukum sejak tahun 1945 untuk tanah – tanah yang disebut " perdikan"( UU No.1 tahun 1946), atau karena hukum terkena ketentuan undang-undang Nasionalisasi,  tahun 1958 penghapusan tanah-tanah partikulir atau tanah Eigendom yang luasnya lebih dari 10 bouw ( UU No. 1 tahun 1958 ), dan bahkan telah dihapuskan pada tahun 1980 ( Keppres No. 32 tahun 1979). Tanah – tanah hak yang ada berdasarkan hukum perdata barat tersebut dihapus atau dicabut yang selanjutnya dikuasai oleh negara, dimana secara hukum maka status tanahnya pun berubah menjadi berstatus "tanah negara". Demikian juga terhadap tanah swapraja telah dihapus yang mana selanjutnya ada sebagian besar telah dibagikan kepada masyarakat setempat ( PP 24 tahun 1961 ), juga sebagian besar tanah-tanah bekas bekas perkebunan-perkebunan sebagian besar telah dibagikan dallam rangka kebijakan landreform antara tahun 1960 – 1968. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Kasus – kasus masalah pertanahan semacam ini masih sering terjadi, banyak aspek yang harus dilihat dan dikaji, sehingga dapat dikatakan bahwa masalah pertanahan adalah berkarakter yang bersifat multi dimensi. Aspek hukum, banyak sekali peraturan perundangan yang terkait dengan pertanahan ada unsur keperdataan, pidananya maupun aspek administrasi pertanahannya bisa terlibat didalamnya serta penegakan hukumnya. Aspek politik akan bicara bagaimana kebijakan dan kepentingan Negara diarahkan untuk itu. Demikian juga aspek social dan ekonomi sangat mempengaruhi putusan politik dan penegakan hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Berkaitan dengan masalah pertanahan sebagaimana yang telah digambarkan tersebut diatas dan sesuai dengan disiplin keilmuan maka kajiannya akan disesuaikan dengan disiplin ilmu hukum dengan mengambil titik focus kepada topik dengan judul "pembatalan sertifikat Hak Atas Tanah oleh Peradilan dan akibat hukum terhadapa sertifikat dan Hak Atas Tanah" yang menjadi batasan kajian yang hendak dicari jawabannya yaitu: &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style='margin-left: 53pt'&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;apakah yang menjadi pertimbangan hukum hakim Peradilan yang menjadi dasar yuridis dalam rangka memutuskan pembatalan putusan Tata Usaha Negara ( KTUN ) yang berupa sertifikat hak atas tanah yang telah melalui analisis yang berkaitan dengan hukum materiil peraturan perundang-undangan dibidang pertanahan dan khususnya yang berhubungan dengan aspek wewenang, prosedur dan aspek substantive dari Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;apakah dengan pembatalan sertifikat Hak Atas Tanah oleh Peradilan umum ini hakim dalam pertimbangan hukumnya telah menganalisis kajian aspek hukum tanah nasional ( hukum materiil ) yang menjadi landasan hukum mengatur tentang hak kepemilikan atas tanah dan khususnya berhubungan dengan aspek cacat hukum bukti kepemilikan atas tanah yang berakibat batalnya hak kepemilikan atas tanahnya, terutama yang berhubungan dengan aspek kesepakatan, sebab yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan dan cacat obyek.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Untuk sampai kepada pertanyaan hukum sebagaimana yang dirumuskan rumusan masalah yang hendak menjadi analisis kajian dalam penulisan disertasi ini maka Sesuai dengan sifatnya disiplin ilmu hukum karakter yang khas ilmu hukum,&lt;sup&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/sup&gt;maka dalam penelitian dalam penulisan ( Disertasi) ini merupakan tipe penelitian yang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Normatif&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;". Dalam kajian normatif ini pendekatan masalah dilakukan  melalui pendekatan perundang-undangan ( &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Statute approach&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;), pendekatan konseptual ( &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Conceptual approach&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;) dan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Case Study&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Sesuai dengan disiplin ilmu hukum yang bersifat normatif pendekatan perundang-undangan ini diperlukan guna menganalisis dan mengkaji ketentuan-ketentuan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan peraturan dasar pokok Agraria, serta peraturan perundangan yang mengatur hak atas tanah, sertipikat hak atas tanah, dan ketentuan – ketentuan hukum perdata, maupun Tata Usaha Negara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;em&gt;Case study &lt;/em&gt; dipergunakan untuk menelusuri dan mengkaji putusan-putusan yang terjadi  pada kasus-kasus tertentu dan penerapan hukumnya yang dapat dilihat dan dipelajari dari pertimbangan hukum ( &lt;em&gt;Ratio decidendi&lt;/em&gt;) yang dijadikan dasar pengambilan keputusan oleh Hakim Peradilan dilihat dari aspek hukum pertanahan maupun Hukum administrasi. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Tujuan dari penulisan memberikan sumbangsih dan penambahan khasanah pengembangan keilmuan di bidang ilmu hukum terutama berkaitan dengan hukum tanah nasional dan hukum Admisnistrasi pertanahan. Adapun manfaat dalam segi teoritis dengan penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan pemahaman mengenai konsep – konsep bersangkut – paut dengan hukum pertanahan khususnya berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengaturan pertanahan tentang hak kemilikan atas tanah diatur dalam hukum tanah nasional, aspek – aspek yang terkait kewenangan, prosedur dan substansi  dan pembatalan hak atas tanah serta akibat hukumnya. Sedangkan dari sisi praktis diharapkan bisa dijadikan pedoman atau setidaknya bahan masukan para praktisi hukum dalam rangka penyelesaian kasus-kasus sengketa tanah dan putusan dari badan Peradilan dalam rangka pembatalan sertifikat dan hak atas tanah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Sistematika penulisan ini terdiri atas 4 ( empat ) bab, dimana bab – bab tersebut disusun berdasarkan rumusan masalah yang merupakan titik tolak penelitian dan penulisan disertasi ini yang berada dalam bab pertama. Landasan pemikiran dalam rangka penyusunan ini berdasarkan pada pertimbangan bahwa  rumusan masalah dalam bab 1 ( satu )  merupakan dasar penyusunan dari bab-bab  berikutnya  yaitu bab 2 ( dua ) dan bab 3 yang merupakan kajian dari apa yang dirumuskan dalam bab sebelumnya yang selanjutnya bab 4 (empat) yang merupakan bab penutup berupa kesimpulan dan saran-saran.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Bab 1 ( satu ), merupakan bab pendahuluan yang berisi tema pokok latar belakang kajian penulisan disertasi yang selanjutnya dirangkum dalam rumusan masalah yang merupakan pembatasan kajian yang hendak diteliti dalam rangka penulisan disertasi oleh penulis. Selanjutnya setelah latar belakang dan rumusan masalah, di dalam bab pertama ini menjelaskan tentang tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian yang dipakai dalam penulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Bab 2 ( dua), berisi kajian mengenai kasus – kasus sengketa pembatalan sertifikat hak atas tanah oleh Peradilan Tata Usaha Negara dan akibat hukum terhadap sertifikat hak atas tanah. Dalam bab ini berisi kajian dan analisis kasus-kasus sengketa cacat wewenang, prosedur maupun substansi, posisi kasus, &lt;em&gt;ratio decidendi&lt;/em&gt; yang menjadi dasar putusan Peradilan Tata Usaha Negara, ketentuan hukum yang berkaitan dengan kasus sengketa serta akibat hukum terhadap sertifikat hak atas tanah oleh Peradilan Tata Usaha Negara dan konsep serta ketentuan hukum tanah yang mengaturnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Bab 3 ( tiga), mengkaji dan menganalisis kasus-kasus sengketa hak kepemilikan atas tanah berkaitan dengan &lt;em&gt;ratio decidendi&lt;/em&gt; adanya cacat kesepakatan, obyek, dan cacat kausa, yang berakibat pembatalan terhadap sertifikat hak atas tanah oleh Peradilan Umum serta ketentuan hukum tanah nasional yang mengatur hak kepemilikan atas tanah.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Bab 4 ( empat ), adalah bab penutup yang merupakan bab kesimpulan dan saran yang ditarik berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya yang merupakan jawaban dari rumusan masalah yang dikemukakan dalam bab 1 ( satu). &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif dalam rangka pengajian pembatalan sertifikat hak atas tanah oleh Peradilan dan akibat hukum terhadap sertifikat dan hak atas tanah  yang nantikan disampaikan dalam bab II dan bab III maka penulis akan menyampaikan  beberapa &lt;strong&gt;isu hukum&lt;/strong&gt; yang menjadi isu sentral yang menjadi bagian problem hukum yang merupakan benang merah terjadinya kurang pemahaman terhadap konsepsi tentang filosofi, hukum dan administrasi pertanahan khusus mengenai konsep hak kepemilikan, system pendaftaran  dan berkaitan kekuatan hukum dari sertifikat hak atas tanah. Untuk itu pada bagian bab pendahuluan ini diuraikan: 1. konstruksi hukum dan karakteristik sertifikat hak dan kekuatan hukumnya; 2. Sistem pendaftaran hak atas tanah dan; 3. Keputusan badan atau pejabat Tata Usaha Negara. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(bersambung: sertipikat dan kekuatan pembuktiannya )&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-1360728312975686924?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/1360728312975686924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=1360728312975686924&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/1360728312975686924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/1360728312975686924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2009/08/disertasi.html' title='Pembatalan sertipikat oleh peradilan dan akibat hukum terhadap sertipikat dan hak atas tanah'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-7236413171864581761</id><published>2009-04-25T03:49:00.001-07:00</published><updated>2009-05-01T02:13:09.509-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TANAH'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-size:12pt; text-decoration:underline'&gt;TINJAUAN PERSOALAN HUKUM PEMILIKAN TANAH (BEKAS ) EIGENDOM &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-size:12pt'&gt;(Dr. Boedi Djatmiko HA, SH.M.Hum)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Merdeka sudah 63 tahun, namun persoalan tanah yang berkaitan hak kepemilikan tanah dengan title hak barat seperti eigendom, opstal, erfpacht dll, masih juga menimbulkan persoalan-persoalan baru dimasyarakat. Padahal sejak tahun 1960 hak kepemilikan atas tanah tersebut ada yang telah dihapus atau dikonversi dalam  menjadi hak-hak pemilikan yang baru. Dihapus karena hukum menentukan demikian, misalnya hak tersebut terkena UU No. 1 tahun 1958, terkena nasionalisasi dst. UU No. 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria atau biasa disingkat UUPA ( undang-undang pokok agraria ) merupakan pegangan dan pedoman baru pengaturan penguasaan dan pemilikan hak atas tanah setelah kita merdeka, dan sekaligus mencabut ketentuan hukum sebelumnya yang mengatur tentang hak-hak barat tersebut ( buku II BW yang berkaitan dengan tanah ). Alasan politisnya sangat ekploitatif- feodalisme dan diskriminatif, tidak sesuai dengan dasar falsafah dan kemerdekaan Indonesia. Filosofi konversi hak oleh Negara adalah bentuk pengakuan Negara atas hak keperdataan warga Negara dan kedua, pengaturan kembali hukum hak atas tanah yang lama yang bersifat ekploitatif- diskriminatif, disesuaikan dengan dasar-dasar hukum   Indonesia yang berlandaskan pada hukum (adat). &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt; Dasar hukum pengaturan tanah bekas hak barat diatur dalam UUPA, beserta beberapa peraturan pelaksanaannya: PMA ( Peraturan Menteri Agraria )No. 2 tahun 1960, PMA No. 13 tahun 1961, Keppres 32 tahun 1979 jo. PMDN No. 3 tahun 1979, PMDN No. 6 tahun 1972, PMDN No. 5 tahun 1973 dan terakhir PMNA No. 9 tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Isu hukum yang hendak disampaikan disini adalah khusus tentang prinsip dasar pengaturan pemilikan tanah ( bekas ) hak eigendom sejak terbitnya UUPA tahun 1960 dan peraturan pelaksanaannya yang terkait dengan hal tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Hak Eigendom&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Hak Eigendom atau lengkapnya disebut " eigendom recht" atau "right of property" dapat diterjemahkan sebagai " hakmilik ", diatur dalam buku II BW ( burgerlijke wetboek) atau KUHPerd (Kitab Undang-Undang HUkum Perdata ). Hak eigendom ini dikontruksikan sebagai hak kepemilikan atas tanah yang tertinggi diantara hak-hak kepemilikan yang lain. Hak eigendom merupakan hak kepemilikan keperdataan  atas tanah yang terpenuh, tertinggi yang dapat dipunyai oleh seseorang. Terpenuh karena penguasaan hak atas tanah tersebut bisa berlangsung selamanya, dapat diteruskan atau diwariskan kepada anak cucu. Tertinggi karena hak atas atas tanah ini tidak dibatasi jangka waktu, tidak seperti jenis hak atas tanah yang lain, misalnya hak erfpacht ( usaha ) atau hak opstal ( bangunan ). ( lihat pasal 570 BW).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Pada tahun 1960 semua jenis hak atas tanah termasuk hak eigendom bukan dihapus namun di ubah  atau dikonversi " convertion", conversie" menjadi jenis-jenis hak atas tanah tertentu, dengan suatu persyaratan tertentu yang harus dipenuhi. Misalnya, hak eigendom menjadi hak milik, hak erfpacht menjadi hak guna usaha, hak opstal menjadi hak guna bangunan.  Pada tahun 1980 Hak atas tanah (bekas ) barat yang telah dikonversi  yang mempunyai jangka waktu serta  yang tidak memenuhi syarat hapus, dan tenahnya dikuasai oleh Negara " tanah Negara". Bagi mereka bekas pemegang hak atas tanah diberi kesempatan untuk dapat mengajukan permohonan hak atas tanah bekas haknya sepanjang tidak dipergunakan untuk kepentingan umum atau jika tidak diduduki oleh masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Pengertian konversi ini dalam hukum pada asasnya adalah merupakan perubahan atau penyesuaian atau bisa dikatakan penggantian yang bertujuan untuk penyeragaman atau unifikasi hukum. Dengan kata lain konversi ini bertujuan mengadakan konstruksi ulang pengaturan hak atas tanah yang diatur oleh hukum sebelumnya diubah disesuaikan dengan hukum yang baru. Hak eigendom yang sebelumnya diatur oleh hukum perdata barat atau BW ( Burgelijke van Wetboek ) termasuk disini hak atas tanah adat, sejak berlakunya UUPA, diubah atau disesuaikan dengan undang-undang ini. Berdasarkan hukum konversi hak atas tanah barat dan adat menjadi suatu hak atas tanah yang baru terjadi karena hukum ( van rechtwege). Konversi  karena hukum baru akan terjadi  apabila memenuhi suatu persyaratan tertentu dan dilakukan dengan suatu tindakan hukum berupa suatu penetapan keputusan dari pejabat yang berwenang yang berupa pernyataan penegasan ( deklaratur ) pernyataan penegasan ini  untuk status hukum hak atas tanah dan jenisnya dan terpenuhinya syarat bagi pemegang haknya. Misalnya  hak eigendom dikonversi menjadi hak milik. Artinya syarat untuk konversi eigendom menjadi hak milik karena persyaratan subyek dan obyeknya terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi dalam konversi hak eigendom berkaitan antara hubungan hukum antara subyek dan obyek hukum yang berakibat pada perubahan status hukum hak atas tanah:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Pertama, hak eigendom dikonversi menurut hukum menjadi hak milik, apabila subyek pemegang haknya adalah warga Negara Indonesia; Kedua, hak eigendom akan dikonversi menjadi hak guna bangunan apabila pemegang haknya  tidak memenuhi syarat untuk dapat memperoleh hak milikmaka hak eigendom akan dikonversi menjadi hak guna bangunan atau jenis hak yang lainnya; Ketiga, hak eigendom menjadi tanah yang dikuasai Negara apabila pemegang haknya dalam jangka waktu tertentu tidak mendaftarkan hak konversinya kepada pejabat yang berwenang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;PENGATURAN HAK EIGENDOM&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Prinsip dasar yang harus dipegang oleh pemegang hak eigendom sejak tanggal 24 september 1960 (berlakunya UU No. 5 tahun 1960 ) hukumnya wajib mendaftarkan hak konversinya, hal ini merupakan perintah undang-undang. ( lihat pasal I ketentuan konversi UUPA ). Apabila memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh undang-undang ( lihat pasal 21 UUPA) maka  berdasarkan  ketentuan konversi sebagaimana yang diatur dalam pasal I konversi UUPA sejak saat tersebut menjadi hak milik, kecuali yang mempunyainya tidak memenuhi syarat &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Syarat yang harus dipenuhi bagi para bekas pemegang hak eigendom yang ingin dikonversi menjadi hak milik ( menurut UUPA ). Pada pokoknya secara hukum mereka ini pada tanggal 24 september 1960,  berstatus warga Negara indonesia dan mempunyai tanda bukti kepemilikan berupa akta asli ( minuut ) atau salinan ( grosse ) eigendom ( lihat PMA No. 2 tahun 1960 ). Luasan tanahnya tidak melebihi batas maksimum dan atau tidak absentee ( gontai ) ( lihat UU No. 56 tahun 1960 jo. PP No. 24 tahun 1961 ). Selanjutnya jangka waktu pendaftarannya tidak melebihi batas waktu yang ditentukan yakni 1 tahun sejak 24 september 1960. Bilamana syarat tersebut dipenuhi maka pejabat administrasi yang berwenang dalam hal ini Kepala Kantor Pendaftaran Tanah ( KKPT ) pada waktu itu ( BPN setempat saat ini ) akan mencatat / mendaftar penegasan konversi hak eigendom tersebut dalam buku tanah dan dikeluarkan sertifikat hak milik atas nama pemegang bekas hak eigendom tersebut. Tata cara mekanisme pencatatan penegasan konversi pendaftaran ini lebih rinci diatur dalam PP ( peraturan Pemerintah ) No. 10 tahun 1961 yang selanjutnya diubah dan diganti dengan PP No. 24 tahun 1997, sedang aturan pelaksanaannya diatur dalam PMNA ( Peraturan Menteri Negara Agraria ) /KBPN ( Kepala Badan Pertanahan Nasional ) No. 3 tahun 1997.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Namun sebaliknya apabila persyaratan tersebut tidak dipenuhi maka hak eigendom tersebut demi hukum berubah ( konversi ) menjadi hak guna bangunan yang berlangsung selama 20 tahun. Selanjutnya hak tersebut hapus, sedangkan tanah tersebut berubah status hukumnya menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau biasa disebut dengan tanah Negara ( lihat Keppres ( keputusan presidan ) No. 32 tahun 1979). Dalam posisi demikian hubungan hukum antara pemilik ( selanjutnya disebut sebagai bekas pemegang hak ) dengan tanahnya terputus. Namun demikian bekas pemegang hak masih mempunyai hubungan keperdataan dengan benda-benda lain diatasnya, misalnya tanaman, bangunan yang berdiri diatas tanah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Pertanyaan hukumnya adalah apakah bekas pemegang hak masih dimungkin memperoleh hak atas tanah yang dikuasai Negara tersebut?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Prinsip dasar, pertama, Hukum mengatur bahwa sejak tahun 1980 seluruh hak-hak barat sudah tidak ada lagi ( karena konversi ) atau hapus yang ada adalah tanah Negara bekas hak barat. Berdasarkan ketentuan hukum, ada 3 prioritas yang wajib diperhatikan: pertama, kepentingan umum; kedua, kepentingan bekas pemegang hak, dan; ketiga mereka yang penduduki / memanfaatkan tanah dengan etiket baik dan tidak mempunyai hubungan hukum dengan bekas pemegang hak. Kedua, adanya kompensasi terhadap benda2 diatas tanah Negara bekas hak barat tersebut. Artinya siapapun yang menginginkan hak atas tanah Negara tersebut harus memberikan konpensasi kepada bekas pemegang haknya&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Pertama, prioritasnya ada pada Negara adalah dipergunakan atau dimanfaatkan untuk kepentingan umum atau Negara. Kepentingan umum atau Negara ini perlu penjabaran lebih lanjut. Apakah criteria kepentingan umum atau Negara. Apabila dipergunakan atau dimanfaatkan untuk kepentingan Negara / umum maka tertutuplah kemungkinan bekas pemegang hak dan masyarakat yang menduduki untuk memperoleh hak atas tanah tersebut. Namun demikian Negara akan memberikan kompensasi baik bekas pemegang haknya maupun masyarakat yang pernah menguasai atau mendudukinya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Kedua, Apabila tanah Negara tersebut tidak dipergunakankan atau dimanfaatkan untuk kepentingan umum dan tidak ada pendudukan oleh masyarakat maka bekas pemegang hak mendapatkan prioritas memperoleh kembali dengan jalan mengajukan permohonan hak atas tanah tersebut. Dengan catatan apabila di atas tanah tersebut ada pendudukan masyarakat maka harus ada kompensasinya untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Ketiga, prioritas diberikan kepada masyarakat yang menguasai atau menduduki tanah Negara bekas hak barat tersebut. Apabila bekas hak barat tersebut berupa pekarangan atau lahan tanpa bangunan maka tidak ada kewajiban bagi mereka memberikan kompensasi kepada bekas pemegang hak. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Persoalan hukum yang sering timbul adalah tuntutan mereka menguasai hak eigendom tersebut sebelum tahun 1960 yang diperoleh dari peralihan hak misalnya jual beli, hibah, warisan dll. Disini yang harus diperhatikan adalah apakah tanah eigendom tersebut terkena undang-undang No. 1 tahun 1958, atau terkena undang-undang nasionalisasi dan apakah proses peralihan haknya pada waktu itu sudah memenuhi persyaratan perijinan yang harus dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Tanah – tanah Negara ( bekas) eigendom pada prinsipnya dapat dimohonkan sesuatu hak atas tanah oleh siapapun juga, sepanjang tanah tersebut tidak dipergunakan atau dimanfaatkan untuk Negara atau kepentingan umum. Permohonan hak atas tanah Negara bekas eigendom tidak didasarkan pada riwayat kepemilikan seperti warisan hanya petunjuk bukan satu-satunya pedoman dalam rangka pengajuan. Hubungan hukum hak keperdataan bekas pemegang hak hanyalah berkaitan dengan benda-benda yang ada diatas tanah bukan tanahnya. Status tanahnya adalah " tanah Negara" ( tanah yang dikuasai langsung oleh Negara ).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Jogya, 25 april 2009&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;Dr. Boedi Djatmiko HA, SH.M.hum.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-7236413171864581761?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/7236413171864581761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=7236413171864581761&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/7236413171864581761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/7236413171864581761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2009/04/tinjauan-persoalan-hukum-pemilikan.html' title=''/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-8486769698232937793</id><published>2009-02-03T18:51:00.001-08:00</published><updated>2009-05-01T02:14:48.871-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPAT'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;KAJIAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT) DAN PERMASALAHANNYA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Dr. Boedi djatmiko HA, SH.,M.hum&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: center'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Dalam perundang-undangan PPAT maupun Notaris  adalah merupakan "&lt;strong&gt;pejabat umum&lt;/strong&gt;" yang diberikan kewenangan membuat "&lt;strong&gt;akta otentik&lt;/strong&gt;" tertentu. Yang membedakan keduanya adalah Landasan hukum berpijak yang mengatur keduanya. PPAT adalah UU No. 5 tahun 1960, PP No. 24 tahun 1997, PP No. 37 tahun 1998 dan PerKBPN No. 1 tahun 2006, sedangkan Pejabat Notaris adalah UU No. 30 tahun 2005&lt;strong&gt;. &lt;/strong&gt;Perbedaan tersebut tergambar dengan jelas lembaga hukum yang bertanggung jawab untuk mengangkat dan memberhentikan, tugas dan kewenangannya dalam rangka pembuatan akta-akta otentik tertentu, system pembinaan dan pengawasannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Pejabat Notaris diangkat dan diberhentikan oleh Menteri dalam hal ini Menteri Hukum dan HAM dan dibawah pembinaan dan pengawasan ada pada pejabat yang ada dibawah kementerian tersebut yakni Pengadilan negeri. PPAT diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (KBPN), sedangkan pembinaan dan pengawasannya ada pada pejabat yang ditunjuk dalam tingkat daerah kabupaten / kota hal ini Kepala Kantor pertanahan setempat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Produk hukum yang dihasilkan adalah akte otentik, namun berbeda jenisnya. Didalam UU No. 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Pejabat notaris  berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, dst, &lt;em&gt;semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang&lt;/em&gt;. Disamping itu dikatakan notaris berwenang pula antara lain :  "&lt;em&gt;membuat akta yang berkaitan dengan &lt;span style='color:black'&gt;pertanahan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;". ( lihat pasal 15 UU No. 30 tahun 2004). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PPAT sebagai pejabat umum yang diberikan kewenangan untuk membuat akta-akta otentik   untuk perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah dan Hak Milik atas Satuan Rumah susun yang terletak diwilayah kerjanya (lihat UU No. 5 tahun 1960, PP No.24/1997, PP No. 37/1998 yo. Permenag/KBPN No.1 / 2006). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Persoalan hukumnya, sampai saat ini masih terjadi Pro dan kontra penjabaran lebih lanjut berkaitan kewenangan pembuatan akta pertanahan?.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;TUGAS KEWENANGAN PPAT &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Sesuai ketentuan perundangan pertanahan, sebagaimana diatur dalam ketentuan ini diuraikan secara rinci dalam pasal 2 – 6 peraturan KBPN No. 1 tahun 2006 yang merupakan  penjabaran dari PP No. 37 tahun 1998 dan tindak lanjut dari ketentuan yang diatur dalam PP No. 24 tahun 1997, Permenag / KBPN No. 3 tahun 1997,   dijelaskan Tugas pokok dan kewenangan  PPAT yakni,  melaksanakan sebagian dari kegiatan pendaftaran tanah dengan tugas &lt;span style='color:black'&gt;&lt;strong&gt;pembuatan akta (otentik)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; sebagai bukti telah dilakukan perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun yang dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah yang diakibatkan oleh perbuatan hukum itu di daerah kerjanya yang ditentukan oleh pemerintah ( kompetensi absolute) yakni kabupaten atau kota satu wilayah dengan wilayah kerja Kantor pertanahan. Catatan untuk PPAT sementara ( Camat ) adalah wilayah jabatan camat saat menjabat.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Pertanyaan hukumnya adalah Dalam rangka pembuatan akta otentik atas Perbuatan hukum tertentu apa saja yang merupakan sebagian dari kegiatan pendaftaran tanah yang menjadi tugas pokok PPAT?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Ada 8 ( jenis ) akta PPAT yang menjadi alat bukti dan dasar perubahan data pendaftaran tanah ( lihat pasal 95 ayat 1 Peraturan Menteri Negara Agraria / KBPN ( Permenag/KBPN) No. 3 tahun 1997 jo. Pasal 2 ayat 2, Per KBPN No. 1 tahun 2006)yakni: &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Akta Jual beli, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Akta tukar menukar, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Akta Hibah, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Akta Pemasukan ke dalam perusahaan ( inbreng), &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Akta pembagian bersama, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Akta pemberian Hak guna bangunan/ hak pakai atas tanah hak milik, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Akta pemberian hak tanggungan, dan &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Akta pemberian kuasa membebankan hak tanggungan.( lihat pasal 2 ayat 2)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Dalam rangka pembuatan akta-akta tersebut ( 8 jenis akta ),  ditentukan pula bentuk akta – akta yang wajib dipergunakan oleh PPAT, dan cara pengisiannya, serta formulir yang dipergunakan sebagaimana tercantum dalam lampiran 16 s/d 23 Permenag / KBPN No. 3 tahun 1997, terdiri dari bentuk: a. Akta jual beli ( lampiran 16); b. Akta tukar menukar ( lampiran 17); c. Akta hibah ( lampiran 18); d. Akta pemasukan ke dalam perusahaan ( lampiran 19); e. Akta pembagian hak bersama (lampiran 20); f. Akta pemberian hak tanggungan ( lampiran 21); g. Akta pemberian hak guna bangunan / hak pakai atas tanah hak milik ( lampiran 22); h. Surat kuasa membebankan hak tanggungan ( lampiran 23 ); dan apabila dalam pembuatan akta tidak sebagaimana yang ditentukan tersebut maka merupakan pelanggaran. Permasalahan yang seringkali terjadi: &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;dalam pembuatan akta PPAT tidak mempergunakan bentuk, isi dan cara pembuatan akta yang telah ditentukan oleh permenag / KBPN No. 3 tahun 1997 dan tidak dihadiri oleh oleh para pihak atau kuasanya dan saksi sebagaimana yang ditentukan pasal 38 PP No. 24 tahun 1997 yo. Pasal 100 dan 101,  Permenag / KBPN No. 3 tahun 1997;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PPAT tidak membacakan akta yang dibuatnya kepada para pihak dan menjelaskan maksud, dan isi akta serta prosedur pendaftarannya sesuai ketentuan yang berlaku, sebagaimana pasal 101 Permenag/ KBPN No. 3 tahun 1997.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PPAT melakukan pembuatan akta meskipun persyaratan yang ditentukan dalam pembuatan akta belum / tidak terpenuhi, sebagaimana diatur dalam pasal 39 PP No. 24 tahun 1997.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PPAT terlambat untuk mendaftarkan akta yang telah dibuatnya ke kantor Pertanahan setempat, sebagaimana di atur dalam pasal 40 PP No. 24 tahun 1997 jo. Pasal 103 Permenag / KBPN No. 3 tahun 1997.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PRINSIP YANG HARUS DILAKSANAKAN DALAM PEMBUATAN AKTA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Dalam rangka melaksanakan tugas pembuatan akta otentik atas 8 jenis perbuatan – perbuatan hukum yang merupakan bagian daripada kegiatan pendaftaran tanah, didalam ketentuan pasal 54 Peraturan KBPN No. 1 tahun 2006 ini menentukan kewajiban yang harus dilakukan PPAT pada saat pembuatan akta yang wajib harus dipenuhi oleh PPAT:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Sebelum pembuatan akta atas 8 jenis perbuatan hukum, PPAT wajib melakukan pengecekan/ pemeriksaan keabsahan sertifikat dan catatan lain pada kantor pertanahan setempat dan menjelaskan maksud dan tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Dalam pembuatan akte tersebut tidak diperbolehkan memuat kata-kata " sesuai atau menurut keterangan para pihak" kecuali didukung oleh data formil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PPAT berwenang menolak pembuatan akta yang tidak didasari data formil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PPAT tidak diperbolehkan membuat akta atas 8 jenis perbuatan hukum dimaksud atas sebagian bidang tanah yang sudah terdaftar atau tanah milik adat, sebelum diukur oleh Kantor pertanahan dan diberikan Nomor Identifikasi Bidang Tanah ( NIB).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Dalam pembuatan akta, PPAT wajib mencantumkan NIB atau nomor hak atas tanah, nomor Surat Pemberitahuan Pajak terutang ( SPPT) PBB, penggunaan dan pemanfaatan tanah sesuai dengan keadaan lapangan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;SANKSI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PPAT yang dalam melaksanakan tugasnya wajib mengikuti aturan, ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 38, pasal 39 dan pasal 40 (PP No. 24 tahun 1997), serta ketentuan dan petunjuk yang diberikan oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk dikenakan &lt;span style='color:black'&gt;&lt;strong&gt;tindakan administrative&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; berupa &lt;span style='color:black'&gt;&lt;strong&gt;teguran tertulis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; sampai &lt;span style='color:black'&gt;&lt;strong&gt;pemberhentian&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; dari jabatannya sebagai PPAT, dengan tidak mengurangi kemungkinan dituntut ganti kerugian oleh pihak-pihak yang menderita kerugian yang diakibatkan oleh diabaikannya ketentuan-ketentuan tersebut (lihat Pasal 62 PP No. 24 tahun 1997).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Selanjutnya, dalam peraturan jabatan PPAT ( pasal 10 PP No. 37 tahun 1998 yo. PerKBPN No. 1 tahun 2006) menjelaskan ada dua klasifikasi pemberhentian dari jabatan PPAT, diberhentikan dengan hormat dan diberhentikan dengan tidak dengan hormat. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PPAT diberhentikan &lt;span style='color:black'&gt;&lt;strong&gt;dengan hormat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; dari jabatannya karena: a. permintaan sendiri; b. tidak lagi mampu menjalankan tugasnya karena keadaan kesehatan badan atau kesehatan jiwanya, setelah dinyatakan oleh tim pemeriksa kesehatan yang berwenang atas permintaan menteri atau pejabat yang ditunjuk; c. melakukan &lt;span style='color:black'&gt;&lt;strong&gt;pelanggaran ringan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; terhadap larangan atau kewajiban sebagai PPAT; d. diangkat sebagai pegawai negeri sipil atau ABRI; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Sedangkan PPAT diberhentikan dengan dengan &lt;span style='color:black'&gt;&lt;strong&gt;tidak hormat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; dari jabatannya, karena: a. melakukan &lt;span style='color:black'&gt;&lt;strong&gt;pelanggaran berat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; terhadap larangan atau kewajiban sebagai PPAT; b. dijatuhi hukuman kurungan / penjara karena melakukan kejahatan perbuatan pidana yang diancam dengan hukuman kurungan atau penjara selama-lamanya 5 (lima ) tahun atau lebihberat berdasarkan putusan pengadilan yang sudah memperoleh kekuatan hukum tetap.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;JENIS PELANGGARAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Berdasarkan ketentuan pertanahan, pelanggaran dibedakan menjadi 2 jenis yang menjadi dasar pemberhentian PPAT. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt; Pelanggaran ringan antara lain: 1. Memungut uang jasa melebihi ketentuan peraturan perundang-undangan; 2. Dalam waktu 2 ( dua) bulan setelah berakhirnya cuti tidak melaksanakan tugasnya kembali; 3. Tidak menyampaikan laporan bulanan mengenai akta yang dibuatnya; 4. Merangkap jabatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt; Pelanggaran berat antara lain: 1. Membantu melakukan permufakatan jahat yang mengakibatkan sengketa atau konflik pertanahan; 2. Melakukan pembuatan akta sebagai permufakatan jahat yang mengakibatkan sengketa atau konflik pertanahan; 3. Melakukan pembuatan akta diluar daerah kerjanya kecuali yang dimaksud dalam pasal 4 dan 6 ayat (3); 4. Memberikan keterangan yang tidak benar didalam akta yang mengakibatkan sengketa atau konflik pertanahan; 5. Membuka kantor cabang atau perwakilan atau bentuk lainnya yang terletak diluar dan atau di dalam daerah kerjanya sebagaimana dimaksud dalam pasal 46; 5. Melanggar sumpah jabatan sebagai PPAT; 6. Pembuatan akta PPAT yang dilakukan, sedangkan diketahui oleh PPAT yang bersangkutan bahwa para pihak yang berwenang melakukan perbuatan hukum atau kuasanya sesuai peraturan perundang-undangan tidak hadir dihadapannya; 7. Pembuatan akta mengenai hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun yang oleh PPAT yang bersangkutan diketahui masih dalam sengketa yang mengakibatkan penghadap yang bersangkutan tidak berhak untuk melakukan perbuatan hukum yang dibuktikan dengan akta; 8. PPAT tidak membacakan aktanya dihadapan para pihak maupun pihak yang belum atau tidak berwenang melakukan perbuatan hukum sesuai akta yang dibuatnya; 9. PPAT membuat akta dihadapan para pihak yang tidak berwenang melakukan perbuatan hukum sesuai akta yang dibuatnya; 10. PPAT membuat akta dalam masa dikenakan sanksi pemberhentian sementara atau dalam keadaan cuti; 11. Lain-lain yang ditetapkan oleh Kepala Badan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style='text-align: justify; margin-left: 18pt'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;PEMBINAAN DAN PENGAWASAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Sebagaimana yang ditentukan dalam pasal 66 ayat (3) peraturan KBPN ini pembinaan dan pengawasan terhadap PPAT oleh Kepala Kantor Pertanahan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Membantu menyampaikan dan menjelaskan kebijakan dan peraturan pertanahan serta petunjuk tehnis pelaksanaan tugas PPAT yang telah ditetapkan oleh Kepala Badan dan peraturan perundang-undangan;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Memeriksa akta yang dibuat PPAT dan memberitahukan tercara tertulis kepada PPAT yang bersangkutan apabila ditemukan akta yang tidak memenuhi syarat untuk digunakan sebagai dasar pendaftaran haknya;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style='text-align: justify'&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Melakukan pemeriksaan mengenai pelaksanaan kewajiban operasional PPAT.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style='text-align: justify'&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style='font-family:Times New Roman; font-size:12pt'&gt;Jogyakarta 29 januari 2009&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-8486769698232937793?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/8486769698232937793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=8486769698232937793&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/8486769698232937793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/8486769698232937793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2009/02/kajian-pejabat-pembuat-akta-tanah-ppat.html' title=''/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3066419187371414585.post-8761950143761548402</id><published>2008-08-09T01:37:00.000-07:00</published><updated>2008-08-09T01:54:47.030-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TANAH'/><title type='text'>TANAH NEGARA DAN WEWENANG PEMBERIAN HAKNYA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;TANAH NEGARA DAN WEWENANG PEMBERIAN HAKNYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Boedi djatmiko.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;1. PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Sering kali kita mendengar sebidang tanah disebut sebagai tanah Negara jika ditanyakan apa yang dimaksud dengan tanah Negara, kenapa disebut demikian, apakah ada perbedaan dengan tanah jenis yang lain,  dimana kita menemukan tanah Negara, dimana diatur mengenai tanah Negara ini, dan siapa yang berwenang mengaturnya. Untuk apa tanah Negara apakah kita bisa memiliki tanah Negara. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu maka sesuai dengan isu yang hendak dikemukakan yakni tanah Negara dan wewenang pemberian haknya diawali dari pengertian atau makna,  selanjutnya sejarah dan ketentuan hukum wewenang pemberian haknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;2. KONSEP TANAH NEGARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Sebutan untuk “ Tanah” ( land ) dapat mempunyai arti yang berbeda tergantung dari sudut pandang keilmuan untuk pengartikannya. Dalam konsep hukum tanah tidak sekedar permukaan bumi, namun mempunyai tiga dimensi yakni ruang angkasa, permukaan bumi dan dibawah tubuh bumi ( lihat Peter butt, 2001). Dalam konteks hukum tanah, tanah diartikan sebagai “ permukaan bumi” ( lihat pasal 4 ayat 1UUPA).  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“Tanah Negara” seperti hal sebutan tanah yang lain - misalnya tanah milik dan sebagainya -  hal ini menunjukan suatu status hubungan hukum tertentu antara obyek dan subyeknya yang dalam konteks ini lebih kepada hubungan kepemilikanatau kepunyaan antara subyek dan obyek yang bersangkutan. Dalam pengertian tersebut maka jika kita menyebutkan tanah Negara artinya adalah tanah sebagai obyek dan Negara sebagai subyeknya dimana Negara sebagai subyek mempunyai hubungan hukum tertentu dengan obyeknya yakni tanah.  adapun hubungan hukum itu dapat berupa hubungan kepemilikan  kekuasaan atau kepunyaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Didalam konsep hukum Sebutan menguasai atu dikuasai dengan  dimiliki ataupun kepunyaan dalam konteks yuridis mempunyai arti/makna berbeda dan menimbulkan akibat hukum yang berbeda pula. Arti dikuasai tidak sama dengan pengertian dimiliki. Jika kita menyebutkan tanah tersebut dikuasai atau menguasai dalam arti “ possession” makna yuridisnya adalah tanah tersebut dikuasai seseorang secara fisik dalam arti factual digarap, dihuni, namun belum tentu bahwa secara yuridis dia adalah pemilik atau yang punya tanah tersebut. Demikian juga bila menyebutkan bahwa tanah tersebut di miliki atau kepunyaan dalam arti “ Ownership” dalam pengertian juridis maka dapat diartikan bahwa tanah tersebut secara yuridis merupakan tanah milik atau kepunyaan, namun bukan berarti juga dia secara fisik menguasai tanah tersebut, karena mungkin adanya hubungan kerjasama atau kontraktual tertentu. Bentuk lain bisa juga bahwa tanah tersebut diduduki oleh orang tanpa ijin yang berhak “ okupasi”. Makna okupasi atau “accupation” lebih kepada penguasaan secara pisik atau factual tanpa diikuti hak ( right) dalam arti sah secara hukum.  “tanah Negara” diartikan sebagai pemilik dalam arti kepunyaan atas tanah dapat ditemukan pada masa pemerintahan Hindia Belanda dimana Indonesia sebagai bagian dari kerajaan Belanda. Berasal dari latar belakang  system ketatanegara yang berbentuk absolute / monarchi, ( system feodalisme). Tanah dalam wilayah kekuasaan adalah  tanah milik Raja / ratu sebagai pemilik. Wilayah kekuasaan cakupannya termasuk daerah jajahan - Indonesia bagian dari wilayah kerajaan Belanda -  dan disisi yang lain rakyat yang berada diwilayah tersebut berposisi sebagai penggarap atau penyewa tanah (lihat pula Curzon, 1989). Konsekuensi logis dari model hubungan antara Raja sebagai pemilik dan rakyat sebagai penyewa dikenal sebagai system kepemilikan tanah yang disebut sebagai dotrin “ land tenure”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dalam tataran politik hukum tanah pada waktu itu tanah Negara adalah tanah milik Negara ( Raja/Ratu) diterapkan di Indonesia melalui produk hukum dalam peraturan “ agrarisch besluit” yang diundangkan dalam lembaran Negara “Staatblad” no. 118 tahun  1870 ( S. 1870-118).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dalam pasal 1, disebutkan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“ behoudens opvolging van de tweede en derde bepaling der voormelde wet, blijft het beginsel gehandhaafd, dat alle grond, waarop niet door anderen regt van eigendom wordt bewezen, domein van de Staat is”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;( dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan dalam pasal 2 dan 3 Agrarisch Wet, tetap dipertahankan asas, bahwa semua tanah pihak lain tidak dapat membuktikan sebagai hak eigendomnya, adalah domein ( milik ) Negara). Ketentuan pasal 1 Agrarisch Besluit ini dikenal sebagai pernyataan kepemilikan “ Domein Verklaring” dari Negara dan dikenal sebagai  pernyataan domein umum ( algemene Domein Verklaring ). Disamping itu, dikenal juga adanya pernyataan domein khusus ( speciale Domein Verklaring ) yang tercantum dalam peraturan perundangan tentang pengaturan hak erfpaht yang diundangkan dalam S. 1875 – 94f, S. 1877 – 55 dan S. 1888 – 55. Rumusannya sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“ alle woeste gronden in de Gouvernementsladen op…. berhooren, voorzoover daarop door leden der inheemsche bevolking gene aan het ontginningsrecht ontleende rechten worden uitgeoefend, tot het Staatsdomein. Over dit tot het Staatsdomein behoorende gronden, berust behoudens het ontginningsrecht der bevolking, de beschikking iutluitend bij het Gouvernement” ( engelbrecht, 1960, halaman 2051).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“Semua tanah kosong dalam daerah pemerintahan langsung di… adalah domein Negara, kecuali yang diusahakan oleh para penduduk asli dengan hak-hak yang bersumber pada hak membuka hutan. Mengenai tanah-tanah Negara tersebut kewenangan untuk memutuskan pemberiannnya kepada pihak lain hanya ada pada pemerintah, tanpa mengurangi hak yang sudah dipunyai oleh penduduk untuk membukanya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pernyataan kepemilikan ini menjadikan landasan hukum Negara /pemerintahan pada waktu itu untuk memberikan tanah dengan hak kepemilikan dengan hak-hak barat yang diatur dalam KUUHPdt, seperti hak Erfpacht, hak Opstal dan lain2nya. Dalam rangka domein verklaring, pemberian tanah dengan hak eigendom dilakukan dengan cara pemindahan hak milik Negara kepada penerima tanah dan sebagai alat pembuktian pemilikan tanah. ( lihat budi harsono, h. 43). Pernyataan domein Negara yang diatur dalam pasal 1 Agrarisch besluit ini paralel dengan yang diatur dalam BW. Dalam pasal 519 dan pasal 520 BW, mengatur bahwa setiap bidang tanah selalu ada yang memiliki. Kalau tidak dimiliki oleh perorangan atau badan hukum, maka negaralah pemiliknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Atas dasar pasal 1 Agrarisch besluit ini maka dikenal adanya dua bentuk tanah Negara yakni:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pertama, tanah – tanah Negara yang disebut dengan tanah Negara bebas “ vrij landsdomein” yaitu tanah Negara yang benar-benar bebas artinya bahwa tanah tersebut belum ada atau belum pernah dilekati oleh sesuatu hak apapun. Pengertian hak disini harus diartikan yuridis yang diatur dalam ketentuan hukum barat (BW) termasuk didalamnya hak rakyat atas tanah yang pada waktu itu tanah-tanah yang mendasarkan pada hukum adat setempat. Sepanjang tidak didaftarkan haknya dengan cara menundukkan diri secara suka rela kepada hukum barat maka tanah yang dikuasai rakyat merupakan bagian dari atau berstatus sebagai tanah Negara yang diistilahkan sebagai tanah Negara yang diduduki oleh rakyat. Dalam perkembangannya ternyata pemerintah Hindia Belanda juga berpendapat bahwa sebutan tanah Negara bebas ini cakupannya dibedakan menjadi dua:1. Tanah – tanah menjadi tanah Negara bebas karena dibebaskan dari hak-hak milik rakyat oleh suatu Instansi / departemen, dianggap tanah Negara dibawah penguasaan departemen yang membebaskan; 2. Tanah Negara bebas yang tidak ada penguasaan secara nyata diserahkan kepada suatu departemen, dianggap bahwa tanah tersebut dimasukkan kedalam penguasaan departemen dalam negeri ( Binnen van bestuur)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kedua, tanah Negara yang tidak bebas “ onvrij landsdomein” yaitu tanah Negara yang diatasnya ada hak-hak rakyat atas tanah atau tanah yang dikuasai atau diduduki oleh rakyat berdasarkan pada hukum adat mereka ( hak ulayat masyarakat hokum adat).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Setelah kemerdekaan, sebelum terbitnya UU. No. 5 tahun 1960, tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria atau lebih dikenal dengan sebutan UUPA, pengertian Tanah Negara, ditemukan dalam PP No. 8 tahun 1953 ( L.N. 1953, No. 14, T.L.N. No. 362). Dalam PP tersebut Tanah Negara dimaknai sebagai “ tanah yang dikuasai penuh oleh negara”. Substansi dari pengertian tanah Negara ini adalah tanah-tanah memang bebas dari hak-hak yang melekat diatas tanah tersebut apakah hak barat maupun hak adat ( vrij landsdomein).  Dengan terbitnya UUPA tahun 1960, pengertian tanah Negara ditegaskan bukan dikuasai penuh akan tetapi merupakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara (lihat, penjelasan umum II (2) UUPA), artinya negara di kontruksikan negara bukan pemilik tanah, Negara sebagai organisasi kekuasaan rakyat yang bertindak selaku badan  penguasa, yang diberikan wewenang oleh rakyat: a. Mengatur dan menyelengarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaannya;b. Menentukan dan mengatur hak-hak yang dapat dipunyai atas ( bagian dari ) bumi, air dan ruang angkasa itu; c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang mengenai buni, air dan ruang angkasa.” Substansi tanah Negara setelah UUPA, didalam berbagai peraturan perundangan disebutkan bahwa pengertian tanah Negara adalah tanah yang tidak dilekati dengan sesuatu hak atas tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Atas pemahaman konsep dan peraturan perundangan tentang pengertian tanah Negara dapat ditarik kesimpulan dalam tataran yuridis bahwa terdapat dua kategori tanah Negara dilihat dari asal usulnya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;1. Tanah Negara yang berasal dari tanah yang benar-benar belum pernah ada hak atas tanah yang melekatinya atau disebut sebagai tanah Negara bebas;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;2. Tanah Negara yang berasal dari tanah-tanah yang sebelumnya ada haknya, karena sesuatu hal atau adanya perbuatan hukum tertentu menjadi tanah Negara. Tanah bekas hak barat, tanah dengan hak atas tanah tertentu yang telah berakhir jangka waktunya, tanah yang dicabut haknya, tanah yang dilepaskan secara sukarela oleh pemiliknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;3. WEWENANG PEMBERIAN HAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pada prinsipnya karena status tanah merupakan tanah Negara maka baik pada masa pemerintah Hindia Belanda maupun pada masa pemerintahan RI, wewenang pemberian hak atas tanah Negara ada pada Negara, jika masa pemerintahan Hindia Belanda yang diwakili oleh gubernur jenderal, setelah merdeka wewenang pemberian hak atas tanah Negara ada pada Menteri selaku pejabat Negara yang mendapatkan wewenang pendelegasian dari Presiden. Dan selanjutnya menteri atau pejabat yang memperoleh delegasi dari presidan melimpahkan tugas dan wewenang tersebut kepada pejabat jajaran yang ada dibawahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Didalam UU No. 7 tahun 1958, tentang peralihan tugas dan wewenang agraria, adalah merupakan peraturan perundangan awal kemerdekaan yang mengatur pelimpahan wewenang kementerian agraria. Di dalamnya disebutkan : Tugas dan wewenang yang menurut peraturan2 undang-undang dan ketentuan2 tata usaha yang tercantum dalam daftar lampiran dari undang2 ini diberikan kepada: a. Gubernur jenderal, direktur van Binnenlands Bestuur dan Menteri Dalam negeri; b. Hoofd van Gewestelijk bestuur, gubernur, residen, Hoofd van Plaatselijk Bestuur, bupati, walikota, wedana,dan pejabat2 pamongpraja lainnya, termasuk tugas dan wewenang yang menurut sesuatu peraturan atau keputusan telah ada atau telah diserahkan kepada sesuatu badan penguasa; dengan berlakunya undang-undang ini beralih kepada menteri agraria.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pengaturan peraturan perundang-undangan tentang wewenang pemberian hak atas tanah Negara, di atur dalam beberapa peraturan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;1. Keputusan Menteri Agraria No. SK. 112/Ka/ 61, tentang pembagian tugas wewenang agrarian; ditetapkan tanggal 1 April 1961, berlaku surut sejak tanggal 1 Mei 1960; Dengan berlakunya peraturan ini mencabut Keputusan tanggal 22 Oktober 1959, No. SK/495 / Ka/ 59, yang disempurnakan dengan Keputusan tanggal 4 Mei 1960, No. SK/599/Ka/ 60&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;2. Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria tanggal 12 September 1962, No. SK. XIII/ 17/ Ka/ 1962, tentang penunjukan pejabat yang dimaksud dalam pasal 14 PP No. 221/ 1962. ketentuan ini mengatur tentang wewenang pemberian hak milik atas tanah yang dibagikan dalam rangka Landreform;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;3. Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria tanggal 21 Juli 1967, No. SK 4/ Ka, tentang perubahan keputusan Menteri Agraria No. SK. 112/ Ka/ 61. ketentuan ini merupakan pengaturan mengenai wewenang pemberian hak pakai yang menyimpang dari ketentuan yang diatur oleh Keputusan Menteri Agraria No. Sk. 112/ ka/61;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;4. Keputusan Deputy Menteri Kepala Departemen Agraria tanggal 1 Juli 1966, No. SK. 45/ Depag/ 66, tentang Pembagian tugas dan wewenang agrarian dalam hubungannya dengan pemberian hak dan wewenang atas tanah;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dengan berlakunya Peraturan ini maka peraturan wewenang yang diatur dalam Keputusan Menteri No. SK. 112/Ka/ 1961; Keputusan Menteri agrarian No. SK. XIII/ 5/ Ka; Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria No. SK. 4 / Ka; Keputusan Menteri Agraria No. SK. 336/ Ka; dan Keputusan Menteri Agraria No. SK. 3/ Ka/ 1962, sepanjang telah diatur dalam peraturan ini dicabut atau tidak berlaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;5. PMDN NO. 1 TAHUN 1967 Tentang pembagian tugas dan wewenang agrarian; jo. PERATURAN MENERI DALAM NEGERI NO. 88 TAHUN 1972 tentang sususnan organisasi dan tata kerja Direktorat Agraria Propinsi dan sub direktorat agrarian kabupaten/ Kotamadya. dengan berlakunya peraturan ini, maka Surat keputusan Menteri Agraria No. SK 112/Ka/1961 dan Surat Keputusan Deputy Menteri Kepala Departeman Agraria No. Sk 45/ Depag/ 1966 dicabut kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;6. PMDN  No. 6 tahun 1972, tentang pelimpahan wewenang pemberian Hak atas tanah;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;7. Permenag/ KBPN No. 3 tahun 1999, tentang Pelimpahan wewenang pemberian hak atas tanah Negara;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dengan terbitnya PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NO. 3 Tahun 1999 tentang Pelimpahan kewenangan pemberian dan pembatalan keputusan pemberian hak atas tanah Negara, maka peraturan perundangan yang ada sebelumnya menjadi tidak berlaku. Peraturan ini mengatur sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Didalam Pasal 2, disebutkan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;(1) dengan peraturan ini kewenangan pemberian hak atas tanah secara individual dan secara kolektif, dan pembatalan keputusan pemberian hak atas tanah dilimpahkan sebagian kepada kepala kantor wilayah BPN atau Kepala kantor Pertanahan kabupaten / kota madya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;(2) pelimpahan kewenangan pemberian hak atas tanah dalam peraturan ini meliputi pula keewenangan untuk menegasan bahwa tanah yang akan diberikan dengan sesuatu hak atas tanah adalah tanah Negara;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;(3) dalam hal tidak ditentukan secara khusus dalam pasal atau ayat yang bersangkutan, maka pelimpahan kewenangan yang ditetapkan dalam peraturan ini hanya meliputi kewenangan mengenai hak atas tanah Negara yang sebagian kewenangan mengusai dari Negara tidak dilimpahkan kepada instansi atau badan lain dengan hak pengelolaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kewenangan Kepala Kantor untuk memberikan hak diatur dalam Pasal 3, 4 dan 5 sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Hak milik ( pasal 3), Kepala kantor pertanahan kabupaten / kotamadya memberi keputusan mengenai:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;1. pemberian hak milik atas tanah pertanian yang luasnya tidak lebih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;2. pemberian hak milik atas atanh non pertanian yang luasnya tidak lebih dari 2000m2, kecuali mengenai tanah bekas hak guna usaha;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;3. pemberian hak milik atas tanah dalam rangka pelaksanaan program: a. transmigrasi; b. redistribusi; c. Konsolidasi; d. pendaftaran tanah secara masal baik dalam rangka pelaksanaan pendaftaran tanah secara sistematik maupun sporadic&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Hak Guna Bangunan (pasal 4), Kepala kantor pertanahan kabupaten / kotamadya memberi keputusan mengenai:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;a. pemberian hak guna bangunan atas tanah yang luasnya tidak lebih dari 2000m2, kecuali mengenai tanah bekas hak guna bangunan;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;b. semua pemberian hak guna bangunan atas tanah hak pengelolaan;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Hak Pakai ( Pasal 5), Kepala kantor pertanahan kabupaten / kotamadya memberi keputusan mengenai:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;a. pemberian hak pakai atas tanah pertanian yang luasnya tidak lebih dari 2 ha;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;b. pemberian hak pakai atas tanah non pertanian yang luasnya tidak lebih dari 2000m2, kecuali mengenai tanah bekas hak guna usaha;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;c. semua pemberian hak pakai atas tanah hak pengelolaan;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;didalam pasal 6 perubahan hak, kepala kantor pertanahan memberi keputusan mengenai semua perubahan hak atas tanah, kecuali perubahan hak guna usaha menjadi hak lain;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kewenangan Kantor Wilayah BPN Propinsi diatur dalam Pasal 7, 8, 9 dan 10 sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pasal 7, kepala kantor wilayah BPN propinsi memberi keputusan mengenai:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;1. pemberian hak milik atas tanah pertanian yang luasnya lebih dari 2 ha;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;2. pemberian hak milik atas tanah non pertanian yang luasnya tidak lebih dari 5000m2, kecuali yang kewenangan pemberiannya telah dilimpahkan kepada kepala kantor pertanahan kabupaten / kota madya sebagaimana dimaksud dalam pasal 3;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;pasal 8 hak guna usaha, kepala kantor wilayah BPN propinsi memberikan keputusan mengenai pemberian hak guna usaha atas tanah yang luasnya tidak lebih dari 200 ha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;pasal 9 hak guna bangunan, kepala kantor wilayah BPN Propinsi emberi keputusan mengenai pemberian hak guna bangunan atas tanah yang luasnya tidak lebih dari 150.000 m2, kecuali yang kewenangan pemberiannya telah dilimpahkan kepada Kepala Kantor pertanahan kabupaten / kotamadya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pasal 10 Hak pakai, Kepala kantor wilayah BPN Propinsi memberi keputusan mengenai:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;a. pemberian hak pakai atas tanah pertanian yang luasnya lebih dari 2 ha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;b. Pemberian hak pakai atas tanah non pertanian yang luasnya tidak lebih dari 150.000 m2 kecuali kewenangan pemberiannya telah dilimpahkan kepada kantor pertanahan kabupaten / kotamadya sebagaiman dimaksuf dalam pasal 5;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pasal 11 pemberian hak lain, Kepala kantor wilayah BPN Propinsi memberi keputusan mengenai pemberian hak atas tanah yang sudah dilimpahkan kewenangan pemberiannya kepada kepala kantor pertanahan kabpaten / kotamadya sebagaimana dimaksud dalam bab II apabila atas laporan kepala kantor pertanahan kabupaten /kotamadya hal tersebut diperlukan berdasarkan keadaan dilapangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pasal 12 pembatalan keputusan pemberian hak atas tanah, Kepala kantor wilayah BPN propinsi memberi keputusan mengenai:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;a. pembatalan keputusan pemberian hak atas tanah yang telah  dikeluarkan oleh kepala kantor pertanahan kabupaten / kotamadya yang terdapat cacat hukum dalam penerbitannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;b. pembatalan keputusan pemberian hak atas tanah yang kewenangan pemberian nya dilimpahkan kepada kepala kantor pertanahan kabupaten / kotamadya dan kepada kepala kantor wilayah BPN propinsi, untuk melaksanakan putusan pengadilan yang telah  memperoleh kekuatan hukum yang tetap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;pasal 13, Menteri Negara Agraria / kepala BPN menetapkan pemberian hak atas tanah yang diberikan secara umum. Selanjutnya didalam Pasal 14 disebutnya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;(1) Menteri Negara Agraria / KBPN memberi keputusan mengenai pemberian dan pembatalan hak atas tanah yang tidak dilimpahkan kewenangannya kepada kepala Kantor wilayah BPN Propinsi atau kepala kantor pertanahan kabupaten / kotamadya sebagaimana dimaksud dalam Bab II dan Bab III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;(2) Menteri Negara Agraria / KBPN memberi keputusan mengenai pemberian dan pembatalan hak atas tamah yang telah dilimpahkan kewenangannya kepada kepala kantor wilayah BPN Propinsi atau kepala kantor pertanahan kabupaten / kotamadya sebagaimana dimaksud bab II dan III apabila atas laporan kepala kantor wilayah BPN ptropinsi hal tersebut diperlukan berdasarkan keadaan dilapangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;4. KARAKTER SERTIFIKAT DAN AKIBAT HUKUMNYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Konstruksi hukum Sertifikat yang lahir dari pendaftaran tanah yang berasal dari tanah yang berstatus Negara mempunyai karakter yang bersifat “konstitutif”. Sifat karekter ini timbul sebagai akibat adanya suatu keputusan atau penetapan dari badan / pejabat tata Usaha Negara dalam hal ini BPN yang menetapkan pemberian hak atas tanah kepada seseorang atau badan hukum yang mengajukan permohonan suatu hak atas tanah yang berstatus tanah Negara. Fungsi dari surat keputusan pemberian hak tersebut adalah sebagai tanda bukti kepemilikan bahwa seseorang atau badan hokum memperoleh hak atas suatu bidang tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Surat keputusan pemberian hak atas tanah yang diterbitkan oleh Badan/ Pejabat Tata Usaha berfungsi sebagai dasar atau alas hak pengakuan Negara terhadap seorang atau badan hokum atas sebidang tanah yang dikuasainya. Kenapa demikian, karena untuk dapatnya sesorang atau badan hokum memiliki atau mengusai hak atas tanah yang berasal dari tanah Negara harus memenuhi persyaratan dan kewajiban yang diuraikan dalam surat keputusan tersebut. Bila mana syarat dan kewajiban dipenuhi maka harus didaftarkan agar memperoleh tanda bukti kepemilikan yang berupa sertifikat hak atas tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3066419187371414585-8761950143761548402?l=sertifikattanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/feeds/8761950143761548402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3066419187371414585&amp;postID=8761950143761548402&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/8761950143761548402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3066419187371414585/posts/default/8761950143761548402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sertifikattanah.blogspot.com/2008/08/tanah-negara-dan-wewenang-pemberian.html' title='TANAH NEGARA DAN WEWENANG PEMBERIAN HAKNYA'/><author><name>Boedi Djatmiko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01990914681780512361</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_iF_bLP0hzL0/SJCIAc2plhI/AAAAAAAAABc/wNYwzJZ6pg4/S220/DSC01351.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
